
Shaka menghentikan laju kendaraannya di depan rumah dan langsung masuk bersama obat di tangannya.
"Assalamu Alaikum sayang!" seru Shaka bersemangat.
"Walaikum salam"balas Annisa, wajahnya masih terlihat sedih.
Setelah duduk di samping Annisa, Shaka mengeluarkan obat salep yang di belinya dari dalam plastik,membuka tutupnya kemudian mengoleskan salep tersebut ke luka bakar Annisa.
"Padahal malam ini aku ingin mengajak mu ke Bulan. Kalau tangan mu sakit seperti ini, terpaksa aku menundanya" ucap Shaka. Rencana ke Bulan itu sudah sangat lama tertunda. Sebagai lelaki normal tentu Shaka sudah tidak ingin menundanya lagi. Apa lagi mengingat Annisa sudah lulus sekolah, Shaka sudah terbebas dari janji yang pernah di ikrarkannya kepada Ustadz Bilal.
"Kan tangan ku yang sakit" Annisa berucap manja sembari mengulas senyum manisnya ke arah Shaka. Tidak munafik, Annisa sendiri juga sudah menginginkan mereka pergi ke Bulan, bahkan sebelum mereka lulus sekolah. Berhasil membuat sesuatu di diri Shaka terbangun.
"Kalau begitu, ayo kita ke kamar." Shaka berdiri dari tempat duduknya. Dan langsung mengangkat tubuh Annisa ke gendongannya, dan membawa gadis cantik dan manisnya itu masuk ke dalam kamar.
Sampai di dalam kamar, Shaka langsung menyambar bibir yang menggodanya itu tanpa menurunkan Annisa dari gendongannya. Setelah puas menikmatinya Shaka pun meletakkan perlahan tubuh Annisa di atas kasur.
"Istirahat lah, aku bereskan kekacauan di dapur dulu" ucap Shaka, melap sudut bibir Annisa yang basah karena ciumannya.
Namun Annisa menggelengkan kepalanya, kemudian mengulurkan kedua tangannya ke arah Shaka.
"Aku mau kamu, Shaka" ucap Annisa mendamba. Hasrat itu sudah lama tertahan, sekarang Annisa tidak ingin menahannya lagi. Annisa ingin mulai saat ini mereka menyatukan cinta mereka sedalam dalamnya.
Shaka yang tidak tega melihat tatapan Annisa, kembali mendekati gadisnya itu, dan langsung mencium dalam bibir Annisa. Annisa pun langsung menyambutnya penuh cinta. Mereka tidak perlu malu malu lagi, karena mereka bukan pengantin baru lagi, meski mereka belum pernah ke Bulan.
Tok tok tok!
"Annisa!."
Mendengar suara seorang wanita berseru dari depan rumah. Terpaksa Annisa dan Shaka melepas ciuman panas mereka.
"Annisa! ini aku dan Mama!."
Shaka menempelkan kening mereka dengan sama sama balas memburu. Huh! jika saja gangguan itu tidak datang, mungkin saja Shaka sudah membawa Annisa ke Bulan.
"Shaka, Mama dan Salwa datang" ucap Annisa di selah selah napasnya yang memburu. Bagiamana napas mereka tidak sampai memburu, Shaka tidak memberi mereka celah untuk bernapas saat berciuman.
"Sebentar sayang" Shaka kembali menyapu lembut bibir Annisa. Sepertinya pria itu tadi sudah mulai memanas.
"Shaka, Annisa! Assalamu alaikum!." Kini Ibu Drabia ikut berseru memanggil anak dan menantunya itu, karena pemilik rumah itu tidak juga membuka pintu untuk mereka.
__ADS_1
"Apa mereka lagi gak di sini ya?" gumam Ibu Drabia.
"Tuh! motor Shaka, berarti mereka di dalam." Salwa menunjuk motor Shaka yang terparkir di halaman rumah.
"Mereka lagi ngapain, kenapa gak ada suara dari dalam?" tanya Bu Drabia lagi, penasaran.
"Annisa! Shaka!."
"Shaka, stop dulu. Itu Mama dan Salwa udah manggil manggil dari tadi." Annisa mendorong kepala Shaka yang sudah tenggelam di lehernya.
"Biarkan aja" tolak Shaka menahan kepalanya tetap berada di leher Annisa.
"Ikh! Shaka."
"Awu! sakit Annisa." Shaka mengeluh kesakitan saat Annisa mencubit lengannya. Shaka pun langsung beranjak dari atas tubuh Annisa. Turun dari atas kasur untuk membukakan pintu untuk tamu yang datang.
Sedangkan Annisa langsung merapikan penampilannya yang berantakan dan menyusul Shaka menyambut Ibu Drabia dan Salwa yang datang ke rumah mereka.
"Kenapa lama baru buka pintunya? Kalian lagi ngapain?." Begitulah pertanyaan wanita paru baya itu saat Shaka membuka pintu untuk mereka, sembari memperhatikan wajah Shaka yang merona, frustasi.
"Istirahat, tangan Annisa lagi sakit terkena cipratan minyak, Ma" jawab Shaka berbohong. Berpikir jika urusan ranjang itu adalah aib yang harus di rahasiakan pada siapa pun.
"Sudah gak apa apa kok, Ma. Shaka juga sudah memberinya obat" ucap Annisa menenangkan hati Ibu mertuanya yang baik hati itu.
"Tapi kenapa bisa seperti ini, sayang?." Ibu Drabia meniup niup luka bakar itu, padahal sudah gak terasa panas atau sakit.
"Tadi Annisa belajar masak, Ma." Annisa pun menceritakan bagaimana ceritanya tangannya bisa kena cipratan minyak panas.
"Kenapa gak bilang sama Mama kalau kamu ingin belajar masak?. Mama pasti ngajarin kamu."
Annisa mengulas senyumnya melihat betapa sayangnya Ibu mertuanya padanya. Bagi Ibu Drabia, dia bukanlah menantu, melainkan seperti putri sendiri.
"Annisa pikir, Annisa pasti bisa" jawab Annisa.
" Ya sudah, lain kali kalau ingin belajar masak, bilang sama Mama, okeh. Mama gak mau kamu sampai melukai tangan kamu lagi" oceh wanita paru baya itu membawa Annisa untuk duduk ke atas sofa.
"Kamu sih, sok pintar" cibir Salwa.
Annisa mengerucutkan bibirnya, cemberut. Ini semua Karena Inara yang sudah berhasil membuatnya cemburu tadi pagi.
__ADS_1
"Ini semua gara gara Inara. Dia mengantar makanan tadi pagi kesini. Supaya aku tau kalau dia itu bisa masak" oceh Annisa tanpa sadar, mengakui kalau dia sedang cemburu.
Mendengar itu, Shaka menghela napasnya dan melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membereskan kekacauan yang di sebabkan istrinya itu. Mencoba memasak karena terbakar api cemburu. Pasti Salwa yang telah menghasut Annisa supaya waspada dengan Inara.
'Kenapa banyak sekali belanjaannya' batin Shaka, menghela napasnya sekali lagi, melihat begitu banyaknya belanjaan Annisa berserak di lantai dapur. Ada ikan, daging, segala macam sosis, sayur sayuran, cabe, bawang, tomat, dan lain lain sebagainya. Sampai kulkas di dapur itu menjadi penuh.
Selesai membereskan belanjaan yang berserak di lantai. Shaka juga merapikan meja kompor yang berantakan dengan peralatan masak. Dan membersihkan lantai dan kompor yang sudah basah dengan air bercampur minyak. Sepertinya tadi istrinya itu sempat menyiram kuali panas dengan air.
'Sabar, sabar sabar' batin Shaka.
Sebelumnya dia sudah tau istrinya itu wanita manja dan tidak tau memasak sama sekali. Tapi Shaka sendiri masih nekat untuk menikahi wanita dari keturunan Raja Arya dan Ratu sejagat itu.
"Kembali lah ke rumah kalian."
Shaka langsung menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah Ibu Drabia yang menyentuh bahunya.
"Annisa pasti membutuhkan tempat yang lebih nyaman. Dan juga, rumah kalian akan sayang kalau di biarkan kosong" lanjut Ibu Drabia.
Shaka pun terdiam sebentar dan kembali menggerakkan tangannya untuk membersihkan kompor di depannya.
"Dia baru sembuh" ucap Ibu Drabia lagi, melihat Shaka diam saja. Ibu Drabia pun menarik napasnya dan menghembuskan nya kasar sebelum lanjut berbicara." Di rumah itu pasti banyak kenangan kalian. Apa gak sayang, rumah kenangan itu akan di kuasai hantu?."
"Nanti kami akan pindah ke sana" jawab Shaka sebelum Ibunya itu bicara ngaur. Wanita yang melahirkannya itu percaya sekali dengan hantu.
Ibu Drabia pun mengulas senyumnya dan menepuk pelan bahu Shaka." Sewa lah pembantu, jangan sampai tubuh istrimu itu habis terbakar api cemburu."
Meski ikut menghukum Inara, tapi Ibu Drabia yakin jika Inara tidak akan merusak rumah tangga Shaka dan Annisa. Ibu Inara masih percaya jika putri dari sahabatnya itu masih memiliki pikiran yang waras.
"Sebelum kami punya anak, tidak akan ada pembantu di rumah" tukas Shaka. Tak ingin kebersamaannya dengan Annisa di dalam rumah terganggu karena ada orang lain di dalam rumah mereka.
"Terserah kamu aja. Yang penting kalian harus pindah dari sini. Soal Inara, biar menjadi urusan Mama. Jangan terlalu mengkhawatirkannya, Om Dafa mu pasti mengawasi Inara." Shaka memang sengaja tinggal satu komplek dengan Inara, supaya dia bisa menjaga wanita itu dari dekat. Dan jika Inara butuh bantuan, dia bisa segera membantu Inara.
"Kamu terlalu menyayangi Inara, sampai membuat semua orang salah paham. Dan mulai sekarang, jaga jaraklah sedikit dari Inara. Jangan sampai Annisa terus termakan api cemburu karena kedekatan kalian. Annisa orang baru di kehidupan mu, jangan buat dia merasa kalau Inara itu lebih penting bagi mu. Jangan buat dia di nomor duakan dari wanita mana pun, sekali pun itu dengan Mama." Nasihat Ibu Drabia pada anaknya." Mungkin Mama bisa memahami niat baik kamu pada Inara. Tapi Annisa dan keluarganya tidak akan bisa memahami itu. Mereka tidak mudah mengerti apa yang kamu lakukan pada Inara. Sehingga mereka sempat berpikir, Annisa tidak lebih penting bagi mu, Nak" lanjut Ibu Drabia.
Semenjak Shaka menjauhi mereka, baru kali ini Ibu Drabia bisa menasehati anaknya itu. Memberi petuah supaya anaknya itu sadar akan posisinya yang sudah menjadi pria beristri.
"Iya, Mah" patuh Shaka menunduk dengan mata berkaca kaca.
*Bersambung
__ADS_1