Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Tergesa gesa


__ADS_3

"Serius, Ma?" wajah Shaka yang tadinya murung langsung berubah sumiringah.


"Iya sayang" jawab Bu Drabia, mengusap lembut kepala anaknya itu.


"Apa gak bisa di percepat lagi Ma?" tanya Shaka, raut wajahnya berubah murung lagi. Menunggu satu Bulan itu rasanya sangat lama. Shaka khawatir Ustadz Furqon mengganggu Annisa, membuat Annisa berubah haluan.


"Mereka harus siap berberes rumah dulu, baru mereka bisa menyiapkan pernikahan kalian."


"Kenapa gak kita aja yang menyiapkannya, Ma?."


Bu Drabia menghela napasnya," Kan akad nikahnya di rumah cewek. Bagaimana bisa kita yang menyiapkannya?."


Shaka mengerucutkan bibirnya, imut.


"Udah malam, istirahatlah, besok kamu harus sekolah lagi. Dan perbanyaklah berdoa, mudah mudahan tidak ada kendala atau musibah sebelum hari pernikahanmu nanti." Ibu Drabia berdiri dari tempat duduknya, mengecup kening anaknya itu lalu keluar kamar.


Sedangkan Shaka yang di tinggal sendiri di dalam kamar, bukannya istirahat, malah Shaka turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya ke arah meja rias di kamar itu. Shaka membuka salah satu laci meja rias itu, mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalamnya, membuka kotak berukuran kecil itu, lalu mengambil salah satu cincin dari dalamnya.


'Annisa, aku tau kau tidak mencintaiku. Tapi tidak apa apa, biarkan aku saja yang mencintaimu. Aku akan terus berusaha membuatmu jatuh cinta padaku' batin Shaka.


**


"Ya Allah, Engkau mengetahui rahasiaku dan tindak tandukku, terimalah permohonan maafku. Engkau mengetahui detak hatiku, ampunilah dosaku. Engkau mengetahui kebutuhanku, kabulkan lah permohonan ku" ucap Annisa dalam doanya di sepertiga malam itu." Aku mencintai Ustadz Furqon ya Allah, aku harus bagaimana?. Hamba mohon ya Allah, lepaskanlah semua beban di dada ini. Sungguh hamba tak berdaya ya Allah."


**

__ADS_1


"Ya Allah, aku mohon pada Mu, berikan keimanan yang meresap di dalam hati ini. Keyakinan yang teguh sehingga aku yakin, tiada apa pun yang akan menimpaku, kecuali takdir yang telah Engkau catat. Aku Ridha terhadap ketentuan yang akan Engkau tetapkan untukku ya Allah" ucap Furqon doa di sepertiga malamnya.


"Tapi hamba mohon, lepaskan semua beban yang menghimpit dada ini bertahun tahun lamanya. Hilangkan perasaan cinta ini terhadap Annisa, jika memang Annisa tidak Engkau takdirkan untukku."


**


"Ya Allah, kepadamu aku menuju, di pintu Mu aku berdiri, di sisi Mu aku berlindung, dan kepada Mu aku memohon. Dengan Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya aku bertawassul (berupaya). Dengan para Nabi Mu, para utusan Mu dan para wali Mu aku meminta syafaat. Ya Allah, kabulkan hajatku untuk menikahi Annisa, bebaskan penderitaan ku, dan kebingungan yang menimpaku" ucap Shaka di dalam doanya malam itu.


**


Furqon melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas Annisa untuk mengajar. Saat mengucap salam, Furqon memperhatikan bangku yang biasa di duduki Annisa. Bangku itu kosong, sudah seminggu ini Annisa tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak jelas. Semua tugas sekolah dan PRnya, setiap hari di titipkan kepada Ferel, sepupu Annisa sendiri.


Furqon menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan. Mengingat tadi pas masuk ke ruang guru, seorang guru membagikan kartu undangan pernikahan kepadanya. Jelas sekali di dalam kartu undangan itu, tertulis nama Nurul Annisa Alfarizqi & Murtado Shaka Budiman. Lima hari lagi, kedua anak remaja itu akan melangsungkan pernikahan mereka yang sempat tertunda.


' Ya Allah, kenapa aku merasa, aku semakin mencintai Annisa?' batin Furqon di selah selah waktu mengajarnya.


**


Annisa di dalam kamarnya, duduk termenung di pinggir kasur menghadap dinding kaca kamarnya yang mengarah ke balkon. Sebelumnya Annisa tidak begitu tegang untuk menghadapi hari pernikahannya dengan Shaka. Entah apa yang membuat Annisa gelisah kali ini. Pikirannya tidak tenang akhir akhir ini. Mungkinkah karena sebelumnya pernikahannya dengan Shaka harus batal, sehingga Annisa menjadi tegang begini.


Tapi sepertinya bukan karena itu membuat Annisa terus melamun. Melainkan Annisa terus memikirkan Furqon, suara merdu Furqon saat membaca ayat suci Alqur'an terus terngiang di telinganya. Annisa juga mengingat tangan Furqon yang pernah menempel di keningnya, yang mampu menenangkan pikirannya saat pingsan waktu itu. Annisa yang sempat memegang tangan Furqon tanpa sengaja, mampu membuat sesuatu berdesir dalam tubuhnya. Pandangan mata Furqon yang begitu tajam saat itu, mampu menusuk ke relung hatinya, yang mampu membuat hati seorang Annisa bergetar hebat.


'Ustadz Furqon, aku sangat mencintaimu. Apa yang harus kulakukan untuk melepas beban yang menghimpit dada ini. Jika di tanya, hati ini memilih kamu, Ustadz. Tapi aku harus melepas mu, karena tidak ingin membuat keluargaku terluka' batin Annisa tanpa sadar meneteskan air matanya.


'Ya Allah, ampuni aku yang sudah melakukan kesalahan' batin Annisa. Telah mengambil keputusan menikah dengan Shaka dengan cara tergesa gesa. Kini Annisa menyesal, dan tidak bisa mundur lagi.

__ADS_1


'Aku mencintai kamu Ustadz Furqon!" teriak Annisa dalam hati.' Tuhan! kenapa Engkau menghadapkan ku dengan masalah yang rumit?. Kenapa Engkau membiarkan ku mencintai Ustadz Furqon?, jika dia bukan jodohku. Ya Allah, bebaskan aku dari penderitaan hati ini. Aku gak sanggup lagi ya Allah!. Aku gak bisa membayangkan bagaimana nanti kehidupanku setelah menikah dengan Shaka. Hati dan raga ini, memiliki pemilik yang berbeda. Apa yang harus kulakukan?' batin Annisa berteriak, memberontak dengan masalah hati yang di hadapinya.


Keinginan dan kenyataan memang sering kali bertentangan. Sehingga banyak orang yang frustasi jika hidup tidak dilandasi dengan iman yang kuat.


Tok tok tok!


mendengar pintu kamarnya di ketuk, refleks Annisa menoleh ke arah pintu itu sambil menghapus air matanya.


Tok tok tok!


'Siapa?' batin Annisa, biasanya kalau Umi, Ayah atau Mama Aqeela, pasti memanggilnya jika akan masuk ke kamarnya.


"Masuk aja!" sahut Annisa.


Pintu itu pun langsung terbuka dari luar, seorang wanita berhijab yang masih terlihat muda melangkah masuk ke dalam kamarnya. Annisa yang sangat mengenali wanita itu, langsung berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah wanita itu.


"Kak Yasmin!" teriak Annisa tiba tiba setelah memeluk tubuh wanita berparas cantik dan lembut itu."Kenapa gak bilang kalau Kak Yasmin mau pulang?" Annisa menangis seketika.


"Kalau Kakak bilang, itu namanya bukan kejutan lagi dong" jawab Yasmin, membalas pelukan Adiknya itu.


"Kenapa Kakak pulang?, bukankah kata Kak Yasmin setahun lagi baru bisa pulang?." Annisa melepas pelukannya kemudian menghapus air matanya sendiri.


"Kakak sangat khawatir sama kalian saat mendengar kebakaran itu. Makanya Kakak ijin pulang, Alhamdulillah, langsung di kasih sama pihak kampus" jawab Yasmin.


"Kami Baik baik aja" ucap Annisa, entah kenapa air matanya sepertinya enggan berhenti keluar. Hatinya memang sangat sensitif akhir akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2