
Shaka menurunkan laju motornya saat akan memasuki gerbang rumahnya. Setelah memarkirkannya dengan sempurna di halaman rumah. Shaka langsung masuk ke dalam rumah.Melempar tasnya ke atas sofa, kemudian Shaka menjatuhkan tubuhnya dengan posisi terbaring ke atas sofa. Shaka pun mengambil mancis dan rokok dari atas meja lalu mengisapnya dan menghembuskan asapnya ke udara dengan kasar.
Sambil merokok, Shaka berselancar di layar hapenya. Semenjak kepergian Annisa. Shaka sekarang tidak lagi tinggal di rumah pemberian orang tuanya lagi. Shaka marah pada keluarganya karena tidak mau memberikan alamat tinggal Annisa di luar Negri. Dan Shaka sekarang tinggal di rumah kontrakan dan membiayai hidupnya sendiri dari membuka usaha potong rambut dan tato. Shaka juga membuka usaha doorsmeer.
"Assalamu alaikum, Shaka!."
Shaka berdecak mendengar suara wanita yang sangat ia kenal mengucap salam dari depan pintu.
"Walaikum salam!" balas Shaka terdengar tak ikhlas.
Pintu rumah itu pun terbuka dari luar. Seorang wanita menggendong anak masuk ke dalam rumah.
"Ini aku membawa makan siang untuk mu." Wanita itu meletakkan kotak makanan di atas meja sofa.
"Pulanglah, jangan lama lama di sini" usir Shaka langsung sebelum wanita itu sempat duduk.
"Kamu berubah, Shaka. Sampai kapan kamu seperti ini?" Inara menghela napasnya. Shaka yang sekarang sangat berbeda dengan Shaka yang dulu. Jika yang dulu goodboy, yang sekarang badboy dan cenderung seperti anak punk dengan penampilan urakan.
"Sudahlah Inara. Aku gak butuh nasihat dari kamu. Pulanglah, aku gak mau sampai warga menikahkan kita karena kamu berlama lama di rumahku" usir Shaka sekali lagi.
"Kamu berubah seperti ini karna Annisa?. Dulu kamu gak seperti ini, Shaka. Kamu adalah cowok baik baik. Sekarang lihat penampilan mu, sudah persis seperti preman." Penampilan Shaka sekarang memang seperti preman dengan rambut di biarkan gondrong dan di cat berwarna pirang. Bahkan sekarang Shaka sangat suka dengan memakai celana koyak di bagian lututnya. Telinga dan lidah di tindih. Dan ada tato di dadanya dan lengannya.
"Bawa ini, kamu gak perlu ceramah panjang lebar. Aku tidak membutuhkan kata kata nasehatmu." Shaka memberikan uang kepada Inara, supaya wanita itu segera pergi dari rumahnya.
Inara menghela napasnya lantas mengambil uang itu. Selama ini Shaka memang sering memberinya uang untuk membantu penunjang kehidupannya dengan anaknya, karena sampai sekarang suaminya masih di penjara."Seharusnya kamu lebih memperbaiki diri, supaya Annisa menyesal meninggalkan mu. Bukan malah seperti orang putus asa dan hancur."
"Jangan menyebut namanya di depanku!" bentak Shaka tiba tiba.
oe oe oe!
Bayi di gendongan Inara langsung menangis kencang, kaget mendengar suara keras Shaka.
__ADS_1
Shaka memejamkan matanya. Jika dulu ia sangat menyukai nama itu. Sekarang Shaka sangat membenci nama Annisa.
'Aku membenci mu Annisa. Aku sangat membenci mu' batin Shaka. Cinta yang besar itu sudah berubah menjadi benci. Bahkan sangat membenci Annisa yang tega meninggalkannya, tidak memberinya sama sekali kesempatan untuk menjelaskan apa pun. Annisa pergi tanpa kabar sama sekali. Tak terasa Shaka pun meneteskan air matanya. Sakit, benci dan rindu bersatu padu di hati dan pikirannya.
" Kamu keterlaluan, Shaka. Lihatlah Shaka, kamu hancur karena terlalu mencintai Annisa. Sedangkan Annisa sama sekali tidak memikirkan mu. Kamu hancur Shaka, hidup mu sudah hancur. Kamu rela hancur demi Annisa yang tidak begitu mencintai kamu!." Setelah mengatakan itu, Inara langsung keluar dari rumah itu. Kembali ke rumah kontrakannya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakan Shaka.
'Andaikan kamu mencintaiku, Shaka. Mungkin hidup kita tidak sama sama hancur seperti ini' batin Inara setelah masuk ke dalam rumah dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Inara menangis.
Dari dulu Inara sangat menyukai Shaka, dan bahkan sangat mencintai pria itu. Namun Shaka terus menolaknya karena menyukai gadis lain, tak lain gadis itu adalah Annisa. Sehingga Inara menerima cinta seorang cowok sebagai pelampiasannya. Yang membawanya ke lembah dosa, membuatnya hamil di luar nikah di usianya yang masih sangat dini. Yang membuatnya terusir dari rumah dan terpaksa menikah muda.
***
Turun dari dalam pesawat yang membawanya. Annisa mencoba mengulas senyumnya meski sebenarnya perasaannya tidak karuan. Antara bahagia, khawatir, resah gelisah menjadi satu. Bahagia karena akan bertemu dengan keluarganya. Khawatir, resah dan gelisah memikirkan hubungannya dengan Shaka.
"Annisa!"
Senyum Annisa mengembang saat memijat Salwa, Hasna, Ibu mertua dan kedua orang tuanya menyambut kedatangannya di bandara. Annisa pun berlari ke arah orang orang yang menyayanginya itu dan langsung memeluk Ustadz Bilal.
"Assalamu alaikum, Ayah" sapa Annisa menangis. Setahun jauh dari sang Ayah, membuat Annisa rindu berat dengan pria paru baya itu.
"Alhamdulillah Annisa sehat, Yah" jawab Annisa lantas mengurai pelukan mereka. Annisa pun berpindah memeluk Umi Hani, dan menangis di bahu wanita yang dicintai Ayahnya itu.
Dan Mr Boy yang datang bersamanya, langsung menyalam Ustadz Bilal, Pamannya sendiri.
"Ssst kenapa menangis, kita sudah bertemu" ujar Umi Hani, namun dirinya pun ikut menangis.
"Annisa kangen dengan Umi" balas Annisa. Setelah melepas pelukan mereka, Umi Hani pun mengecup kedua pipi putri sambungnya itu dengan sayang.
Kemudian Annisa berpindah memeluk wanita paru baya yang satu lagi. Siapa lagi kalau bukan Ibu Drabia, ibu mertua Annisa sendiri.
"Ma" tangis Annisa. Meski berjauhan, tapi komunikasi antara menantu dan mertua itu terjalin hampir setiap hari."Dimana Shaka, Ma?. Kenapa dia gak ikut?. Apa dia marah?."
__ADS_1
"Gak sayang, dia ada jam kuliah saat ini" jawab Ibu Drabia berbohong. Tidak tega mengatakan pada Annisa seperti apa Shaka sekarang.
"Kamu hanya merindukan Shaka. Bagaimana dengan kami?."
Annisa pun melepas pelukannya dari Ibu Drabia, berpindah memeluk Salwa dan Hasna secara bersamaan.
"Tentu aku juga merindukan kalian" ucap Annisa menangis.
"Sudah sudah sudah, ayo kita pulang" ajak Ibu Drabia. Annisa, Salwa dan Hasna pun melepas pelukan mereka.
Annisa menoleh ke arah Ustadz Bilal kemudian bergantian ke arah Ibu Drabia. Annisa bingung dia akan pulang kemana. Ke rumah orang tuanya kah? Mertuanya? Atau ke rumahnya dan Shaka.
"Pulanglah ke rumah orang tua mu, Nak. Kamu pasti sangat merindukan mereka" ujar Ibu Drabia paham melihat kebingungan Annisa. Pastilah menantunya itu lebih rindu kepada keluarga kandungnya dibanding mertuanya.
"Aku ingin bertemu Shaka, Ma" ucap Annisa. Percayalah, setelah menikah, seorang anak akan lebih rindu pada suami atau istri dibanding kepada orang tuanya. Apa lagi sudah setahun Annisa tidak bertemu dengan Shaka, Annisa sudah sangat merindukan suaminya itu.
Ibu Drabia terdiam, pandangannya terarah ke arah Ustadz Bilal dan Umi Hani, bingung harus mengatakan apa pada Annisa.
Semenjak setahun yang lalu, Shaka sudah membenci mereka semua. Karena tidak memberitahu dimana Annisa tinggal.
"Biar Abang yang mengantarmu menemui Shaka" ujar Mr Boy membantu mencarikan kebingungan ketiga orang tua itu.
"Tapi Shaka lagi di kampus" cegah Ibu Drabia. Shaka sudah tidak tinggal di rumahnya dan Annisa. Dan juga tidak tinggal di rumah mereka.
"Kami akan menemuinya di kampus." Tentu Mr Boy sudah tau dimana Shaka sekarang. Bahkan dari setahun yang lalu, Mr Boy sudah menyuruh orang untuk mengawasi Shaka.
Mr Boy pun menarik Annisa masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Mr Boy yang membawa Annisa pergi dari kehidupan Shaka. Dan sekarang dia yang akan menyelesaikan masalah Annisa dan Shaka.
Melihat Annisa dan Mr Boy masuk ke dalam mobil. Mereka semua pun ikut masuk ke dalam mobil masing masing dan melaju mengikuti kemana Mr Boy melajukan kendaraannya.
"Aku takut Shaka marah padaku" ucap Annisa lirih. Dari semenjak setahun yang lalu, itu yang di khawatirkan Annisa. Shaka marah padanya karena Annisa meninggalkannya.
__ADS_1
"Tenanglah, semua akan baik baik saja."
*Bersambung