
"Berbuat dosa, kok malah bersyukur" Cibir Dafi.
Ferel langsung menurunkan tangannya, lalu berucap, "Astaqfirullohal azim."
"Tapi kan, saling mencintai itu, gak dosa. Lagian, aku menemui Salwa, gak sendirian. kita rame rame di sini. Dan juga ada Shaka di sini sebagai mahramnya. Dan aku juga ada Annisa, sebagai mahram ku. Dan ada kalian sebagai saksi mata, kalau kami gak berbuat yang tidak tidak" jelas Ferel kemudian.
"Gak berbuat yang tidak tidak, tapi yang iya iya" sambung Dzaki.
"Iya iya gimana?" bingung Ferel.
"Tuh! mulai duduknya mepet, ntar lagi pegangan tangan tuh!. Pelan pelan nanti elus elus tangan" ucap Dafi, kembaran Dzaki.
Ferel memutar bola mata malas. Meski masih minim keimanan, tapi Ferel masih tau batasan pacaran.
"Calix sama Hasna mana?." Annisa yang baru sadar temannya hilang, memutar pandangannya ke sekitar pantai.
"Kemana mereka?" tanya Shaka yang dari tadi duduk berhadapan dengan Annisa.
Dafi berdecak,"Diam diam mereka kencan berdua. Begini nih ciri ciri orang yang mudah di rayu syetan" ucapnya.
"Eleh! kaya kamu udah kuat iman aja, gak mudah di rayu syetan" cibir Ferel.
"Makanya aku gak mau dekatin cewek. Takut syetan merayuku. Apa lagi ceweknya kaya Annisa, gak kuat iman aku" ucap Dafi.
Annisa memutar bola mata malas.
"Barusan juga aku nembak Annisa, kau sudah mendaftar menjadi sainganku. Siap siap satu dulu napa?" kesal Shaka.
"Kita masih anak sekolah, gak usah terlalu serius lah dengan urusan cinta. Udah dosa, belum tentu jodoh pula" ujar Salwa.
"Siapa yang serius? ops!." Ferel menutup mulutnya yang keceplosan dengan tangan, melihat Salwa menatap horor ke arahnya.
"Hahaha....!" tawa Annisa lepas, melihat Ferel mati kutu. Kalau sudah begini, hancur deh harapan Ferel untuk mendapatkan Salwa.
"Jadi kamu gak serius buat dekatin Salwa?. Wah! parah kamu Ferel. Mau ngajak gelut kamu ya?" gemas Shaka, tidak terima ternyata Ferel tidak serius untuk dekatin Salwa.
"Bukan begitu bro. Sabar!. Maksudku bukan seperti itu. Aku serius dekatin Salwa, maksudku itu. Kami sependapat. Jangan terlalu fokus dengan hubungan pacaran. Karna kita masih terlalu muda untuk menjalin hubungan serius. Masih ada hal yang lebih penting untuk di utamakan, seperti belajar, menggapai cita cita. Jika jodoh, ya Alhamdulillah" jelas Ferel.
__ADS_1
"Awas kalau kamu mempermainkan Salwa!" cetus Shaka mengancam Ferel.
"Jangan galak galak, napa?" ujar Ferel, tidak takut sama sekali dengan ancaman Shaka.
Shaka mendengus.
"Bagaimana denganmu?, emang kamu serius dekatin Annisa?" tanya Ferel penasaran.
"Serius lah, kalau Ustadz Bilal mengijinkan. Menikahi Annisa sekarang pun, aku siap" jawab Shaka meyakinkan.
Annisa langsung terdiam.
'Ya Allah, kelihatannya Shaka serius dengan ucapannya. Andai nya aku bisa jatuh cinta padanya' batin Annisa memperhatikan wajah Shaka sekilas.
"Ehem! jaga mata."
Mendengar bisikan Salwa di telinganya, berhasil menyadarkan Annisa dari lamunannya.
"Kalau di pikir pikir, dari pada kamu galau mikirin perasaanmu ke Ustadz Furqon, mending kamu mencoba membuka hati untuk Shaka" bisik Salwa lagi.
"Calix! aku capek, berhenti !."
"Sepertinya seru tuh main air" ucap Dzaki langsung menarik Dafi ke bibir pantai.
Begitu juga dengan Ferel, menarik Salwa ke arah bibir pantai untuk bermain air.
"Ferel!" teriak Salwa, namun Ferel terus menariknya.
"Aku serius, Annisa." Shaka berpindah duduk ke samping Annisa, meski tidak sampai tubuh mereka menempel.
**
Malam hari, Annisa baru sampai di rumah. Annisa pulang ke rumah Ayahnya di antar Ferel setelah tadi mendapat kabar dari Ibunya, Aqeela. Kamu Mama nya itu sedang berada di rumah Ustadz Bilal. Annisa yang baru turun dari dalam mobil Ferel, langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk rumah itu.
"Mumpung aku di sini, aku rasa sebaiknya pernikahan Yasmin dan Furqon di percepat lagi. Biar aku bisa membantu mempersiapkannya. Kalau aku nanti sudah pindah ke luar Negri, aku gak bisa membantu menyiapkannya."
Annisa yang mendengar suara Mama nya membicarakan tentang pernikahan Yasmin dan Furqon langsung menghentikan langkahnya di depan pintu masuk rumah itu. Sepertinya Annisa sudah mulai gerah mendengar rencana pernikahan itu. Hati Annisa terasa semakin sakit setiap harinya, dadanya rasanya mau pecah sangking sesaknya.
__ADS_1
"Kalau aku sebenarnya, tunggu Yasmin menyelesaikan kuliahnya dulu. Tidak mudah nanti baginya, harus membagi waktu antara sekolahnya dan rumah tangganya. Aku gak mau, Yasmin nanti bernasib sama sepertiku, karena tidak beres mengurus rumah tangganya" telak Ustadz Bilal.
Bukankah dulu Aqeela mantan istrinya itu, menggugat cerai, karena tidak bisa membagi waktu antara berdakwah dan keluarga. Sehingga Aqeela merasa di abaikan, kurang perhatian dan sebagainya. Ustadz Bilal tidak mau, jika sampai anak anaknya mengalami perceraian.
Aqeela mendengus, alasannya memang itu, tapi yang paling utama adalah, wanita yang duduk di samping Ustadz tampan dan terkenal itu.
"Kalau begitu, kenapa kamu menyetujui permintaan Ustadz Munzir dan Umi Fadilah?."Suara Aqeela terdengar seperti kesal kepada Ustadz Bilal.
"Aku tidak menyetujuinya, tapi menyerahkan keputusannya kepada Yasmin. Dan Yasmin sendiri yang menyetujuinya. Aku hanya mendukung keputusannya" jawab Ustadz Bilal.
'Berarti Kak Yasmin juga mencintai Ustadz Furqon' batin Annisa yang menguping di balik dinding luar rumah itu.
'Ya Allah, kenapa hati ini sakit banget, mendengar kalau Kak Yasmin sendiri yang menyetujui pernikahannya dengan Ustadz Furqon di percepat?. Apa itu artinya Kak Yasmin dan Ustadz Furqon saling mencintai?' batin Annisa lagi sambil memegangi dadanya.
'Sepertinya aku harus menerima cintanya Shaka. Meski pacaran, kan kami gak ngelakuin apa apa' batin Annisa lagi. Berpikir kalau Shaka adalah cowok yang baik dan juga sedikit religius. Shaka pasti juga pasti tau batasan batasan bergaul.
Annisa yang masih setia menguping di teras rumah, mengeluarkan handphonnya dari dalam tas sekolahnya. Setelah menghidupkan layarnya, Annisa pun membuka aplikasi WA, dan mengetik pesan untuk Shaka.
#Shaka, aku mau jadi pacarmu#
Begitulah pesan yang di kirim Annisa ke no Shaka.
#Yes! Trimakasih sudah menerima cintaku, Annisa#
Shaka langsung membalas pesannya. Annisa yang membacanya, bukannya senang, malah menjadi galau sendiri. Annisa pun melangkahkan kakinya ke dalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka.
"Assalamu alaikum!" sahutnya sambil berjalan, wajahnya terlihat cemberut dan tak bersemangat.
"Walaikum salam!" balas Ustadz Bilal, Hani dan Aqeela bersamaan.
"Annisa, kamu kenapa sayang?. Kok wajahnya begitu?" tanya Aqeela.
Annisa mendudukkan tubuhnya di samping Aqeela, dan langsung menjatuhkan kepalanya di pangkuan wanita yang melahirkan itu.
"Ma, boleh gak? Kakak beradik memiliki suami yang sama?" tanya Annisa ngasal.
Aqeela, Ustadz Bilal dan Umi Hani yang mendengar pertanyaannya, serentak mengerutkan kening mereka dan menoleh ke arah Annisa yang memejamkan matanya di pangkuan Aqeela.
__ADS_1
*Bersambung