
"Ma, boleh gak kakak beradik memiliki suami yang sama?" tanya Annisa ngasal.
Aqeela, Ustadz Bilal dan Umi Hani yang mendengar pertanyaannya, serentak mengerutkan kening mereka dan menoleh ke arah Annisa yang memejamkan mata di pangkuan Aqeela.
"Tidak boleh" jawab Ustadz Bilal." Dan hukumnya adalah haram."
Annisa membuka matanya dan langsung menoleh ke arah Ustadz Bilal yang duduk satu sofa dengan Umi Hani.
"Di dalam Alqur 'an Surah Annisa ayat 23 sudah jelas di katakan: Dan (di haramkan bagi kalian) mengumpulkan dua wanita yang bersaudara ( dalam satu pernikahan) kecuali yang telah terjadi di masa lalu. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang." Ustadz Bilal menjeda kalimatnya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi." Ada pun tadi di katakan kecuali yang telah terjadi di masa lalu. Di perbolehkan kalau sudah cerai, atau wanitanya sudah meninggal."
Setelah mendengar penjelasan Ayahnya, Annisa kembali memejamkan matanya, dan memutar arah wajahnya ke perut Aqeela, lalu memeluk pinggang wanita yang melahirkannya itu.
"Seharusnya Mama rujuk aja sama Ayah, kan boleh memiliki istri dua" ucapnya lagi ngaur.
Pluk!
"Awu, sakit Mama!" keluh Annisa mengerucutkan bibirnya sambil mengusap usap lengannya yang di pukul Aqeela.
"Kalau bicara jangan sembarangan Annisa. Mama sudah punya suami. Dan juga siapa pula yang mau di madu" gemas Aqeela. Putrinya itu terkadang mulutnya lemes, suka asal bicara.
"Sudahlah! kalian tidak akan mengerti di posisi Annisa." Annisa beranjak dari pangkuan Aqeela, melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu.
"Annisa!" panggil Aqeela, namun Annisa menulikan telinganya.
"Kamu tidak memikirkan itu dulu, dampak terhadap anak anak karena perceraian kita" ujar Ustadz Bilal.
Aqeela terdiam dan menajamkan pandangannya ke arah Ustadz Bilal dan Umi Hani.
"Sudahlah, biarkan aku yang bersalah di matamu. Yang penting sekarang, kita sudah sama sama bahagia dengan pasangan kita masing masing. Katakanlah aku egois, tidak masalah bagiku. Aku juga tau, kalau kamu sekarang juga bersyukur bercerai denganku ." Aqeela yang di salahkan Ustadz Bilal dengan perceraian mereka di masa lalu, memilih menyusul Annisa ke dalam kamarnya.
"Aku pikir urusan kalian sudah selesai" cetus Umi Hani berdiri dari samping Bilal, melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar mereka di lantai bawah rumah itu.
"Hani ! stop!" seru Bilal, berhasil membuat Hani menghentikan langkahnya."Kembali ke sini!" perintah Ustadz Bilal, melambaikan tangannya ke arah Hani, supaya Hani kembali duduk di sampingnya.
__ADS_1
Sebagai istri yang Soleha, yang ingin mencium bau surga. Umi Hani pun melangkahkan kakinya kembali duduk di samping Ustadz Bilal, dengan wajah cemberut.
"Temani aku ke kamar Annisa, ya!" ajak Ustadz Bilal dengan suara membujuk.Umi Hani mengangguk patuh, lantas berdiri kembali dari tempat duduknya. Dan Bilal pun ikut berdiri, membawa istrinya itu ke kamar Annisa.
Sampai di kamar Annisa, mereka melihat gadis berusia 17 Tahun itu, duduk di atas kasur dengan bibir memanjang ke depan. Jelas sekali di keningnya terlihat kalau gadis remaja itu sedang galau dan banyak pikiran.
"Kamu ada masalah apa sebenarnya?" tanya Ustadz Bilal setelah berdiri di samping kasur, sedangkan Umi Hani mendudukkan tubuhnya di samping Aqeela.
"Aku ingin menikah Yah, tapi gak tau dengan siapa" jawab Annisa dengan santai. Berhasil membuat Ustadz Bilal, Aqeela dan Umi Hani saling berpandangan.
"Ya udah, besok Ayah nikahkan kamu dengan kambing, mau?" tanya Ustadz Bilal.
"Terserah Ayah aja" Annisa mengembangkan kedua pipinya.
"Annisa, kamu sebenarnya kenapa?. Di sekolah pun kamu bermasalah. Akhir akhir ini kamu sering brantem bersama teman satu kelas mu. Kamu juga gak masuk saat pelajaran Furqon" tanya Aqeela dengan suara membujuk.
"Apa?" kaget Ustadz Bilal, mendengar apa yang barusan di katakan mantan istrinya itu. Kemudian ustadz Bilal naik ke atas tempat tidur, duduk berhadapan dengan Annisa.
"Benar yang di katakan Mama kamu?" tanya Ustadz Bilal bernada cepat. Dadanya nampak naik turun menahan emosi, matanya juga melotot.
"Lalu, kenapa kamu sering berantem di sekolah?" tanya Ustadz Bilal lagi kini meneduhkan pandangannya melihat Annisa takut melihatnya.
"Monica sering kali mengibarkan bendera perangnya terhadapku" jawab Annisa, cemberut.
"Lalu kamu juga mengibarkan bendera perang mu?." Sepertinya Ustadz kondang itu lupa akan dirinya yang dulu sangat nakal plus bandel.
Annisa diam tidak menjawab pertanyaan Ayahnya lagi. Annisa juga mengalihkan wajahnya ke arah lain.
'Ya Allah, apa yang kulakukan untuk hati ini. Aku tidak bisa mengajaknya berdamai dengan kenyataan, kalau Ustadz Furqon tidak mungkin menjadi milikku.'
Tanpa sadar Annisa meneteskan air matanya, sekelebat mengingat Furqon yang sebentar lagi akan menjadi milik Kakaknya, Yasmin.
"Annisa, kamu kenapa menangis?" tanya Umi Hani, melihat Annisa meneteskan air matanya. Umi Hani pun meraih lengan Annisa, mengelusnya dengan lembut.
__ADS_1
Annisa menggelengkan kepalanya, kemudian menghapus air matanya dengan sebelah tangannya.
"Kamu kenapa Annisa?" tanya Aqeela yang dari tadi duduk di samping Annisa.
Lagi, Annisa menggelengkan kepalanya. Membuat ketiga orang tua itu menjadi bingung.
"Ayah, aku ingin pindah sekolah, boleh?" tanya Annisa lirih, memandang Ustadz Bilal dengan pandangan memohon.
"Sebenarnya ada apa denganmu?. Kamu ada masalah apa di sekolah?. Kemarin kamu meminta untuk tinggal bersama Mama kamu. Sekarang kamu meminta untuk pindah sekolah. Alasannya apa?" tanya Ustadz Bilal bingung.
Kalau yang di hadapi putrinya itu masalah besar, kenapa tidak ada guru yang memberitahunya?. Dan Furqon yang di mintanya mengajar di sekolah pun, tidak memberi tahu apa apa padanya.
"Besok Ayah akan ke sekolah" ucap Ustadz Bilal melihat Annisa diam saja dan tidak menjawab pertanyaannya. Bilal akan mencari tau apa sebenarnya yang terjadi terhadap putrinya itu.
Bilal pun turun dari atas kasur dan langsung keluar dari kamar Annisa, membiarkan Aqeela dan Umi Hani yang mengurus Annisa. Mungkin antara sesama wanita, Annisa lebih luas untuk bercerita, ada apa sebenarnya.
**
Esok harinya, Ustadz Bilal memarkirkan mobilnya di parkiran biasa ia memarkirkannya. Langsung turun dan melangkahkan kakinya ke arah kelas Annisa. Yang menjadi target Ustadz Bilal adalah Hasna dan Salwa. Kedua sahabat putrinya itu pasti tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Annisa.
"Assalamu alaikum, Ustadz."
"Walaikum salam, ada apa?" tanya Ustadz Bilal kepada Siswa yang menyapanya itu.
"Gak ada Ustadz" jawab Siswa berwajah tampan rupawan itu senyum senyum tidak jelas dan menggaruk leher belakangnya, sambil mensejajarkan langkahnya dengan Ustadz Bilal.
"Lalu kenapa kamu mengikuti ku?" cetus Ustadz Bilal. Mood nya sedang tidak bagus, gara gara Annisa putrinya murung dari tadi malam. Belum lagi istrinya yang di landa rasa cemburu, karena mantan istrinya menginap di rumah mereka.
Aku ingin melamar Annisa, Ustadz" jawab Siswa itu.
"Uhuk uhuk uhuk!" sontak Ustadz Bilal terbatuk batuk dan menghentikan langkahnya."Apa kamu bilang?" tanyanya.
Shaka, pria berusia remaja itu, menggaruk leher belakangnya lagi, cengar cengir tidak jelas.
__ADS_1
*Bersambung