
Pulang sekolah, Annisa langsung masuk ke dalam kamarnya. Annisa mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, kemudian mengeluarkan sebuah paper bag yang di berikan Furqon tadi di sekolah padanya. Annisa mengeluarkan isi paper bag itu.
'Semoga kita di pertemukan di dalam zikir cinta yang sama.'
Annisa menghela napasnya mengingat apa yang di katakan Furqon saat memberikan tasbih itu padanya.
'Sudah terlambat Ustadz Furqon. Meski aku masih mencintaimu, tapi keputusanku sudah bulat untuk menikah dengan Shaka. Pria yang mencintaiku tanpa aku harus sakit hati untuk mendapatkan cintanya' batin Annisa.
Annisa pun kembali memasukkan tasbih itu ke dalam paper bag, lalu menyimpannya ke dalam laci meja nakas di samping tempat tidur.
"Annisa!"
"Iya Umi" Annisa langsung menoleh ke arah Umi Hani yang masuk ke dalam kamarnya.
"Ini baju untuk kamu pakai nanti malam." Umi Hani meletakkan sebuah paper bag berisi pakaian di atas pangkuan Annisa.
"Nanti malam?" Annisa mengerutkan keningnya.
Umi Hani mencebik, sepertinya putri sambungnya itu lupa kalau nanti malam Shaka dan keluarganya akan datang melamarnya."Nanti malam Shaka dan keluarganya kan akan datang melamar kamu."
"Kok aku gak tau?. Dan Shaka juga gak ada kasih tau" tanya Annisa.
"Ayah kamu juga baru tadi pagi kasih tau Umi. Makanya tadi buru buru Umi kasih tau sama Mama kamu untuk mencari baju ini" jawab Umi Hani.
"Lalu, Mama dimana?." Annisa menajamkan pandangannya ke arah Umi Hani yang masih berdiri di depannya.
"Pulang ke rumahnya, nanti sore katanya dia baru ke sini lagi."
Annisa mengangguk anggukkan kepalanya dengan pipi mengembang, lalu menghela napasnya. Berpikir sekarang, kalau wanita yang melahirkannya itu sudah terbiasa hidup tanpa anaknya.
"Kalau Mama nikah lagi sama Ayah. Umi Ridha gak di madu?" tanya Annisa tanpa berpikir.
Umi Hani memutar bola mata malas. Putri sambungnya itu memang lidahnya tajam banget. Kalau bicara gak mikir mikir dulu.
"Tanya Mama kamu, mau gak dia berbagi suami" cetus Umi Hani lalu pergi dari kamar itu.
"Apa yang salah berbagi suami?" gumam Annisa malah. Seolah olah dia tau bagaimana rasanya berbagi suami.
__ADS_1
**
Di tempat lain
Shaka yang baru pulang sekolah langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi terlentang. Wajahnya nampak sumiringah menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini. Nanti malam Shaka akan resmi melamar Annisa, gadis yang di cintai nya. Seminggu setelah lamaran, Shaka akan menikahi Annisa secara resmi.
'Annisa, aku tau kamu belum mencintaiku. Tapi itu tak mengapa asalkan kamu terus berada di sampingku, kau menjadi milikku' batin Shaka.
"Shaka! boleh aku masuk?."
Shaka langsung membuka matanya yang sempat di pejamkan nya.
"Masuk aja!" sahut Shaka lalu mendudukkan tubuhnya.
Salwa yang berada di depan pintu, pun memutar kenop pintu di depannya sembari mendorong pintu itu dan melangkah masuk.
"Kamu yakin ingin menikah dengan Annisa?" tanya Salwa mendudukkan tubuhnya di samping Shaka.
"Iya lah. Emang kenapa?" tanya balik Shaka.
"Annisa itu cintanya sama Ustadz Furqon. Dan Sepertinya Ustadz Furqon juga mencintai Annisa" jawab Salwa.
"Aku gak peduli dengan Ustadz Furqon. Yang penting bagiku saat ini, Annisa bersedia menikah denganku. Untuk masalah cinta, seiring berjalannya waktu, aku yakin Annisa pasti bisa mencintaiku" ucap Shaka.
Salwa semakin menatap intens wajah Shaka. Memperhatikan raut wajah Shaka yang begitu besar mencintai Annisa. Sampai Shaka menyanggup kan diri untuk menikah muda, demi untuk mengikat Annisa menjadi miliknya.
"Annisa gadis yang baik, pintar dan Soleha. Pasti banyak laki laki yang menyukainya. Kamu harus siap cemburu setiap saat nantinya" ujar Salwa.
"Aku yakin, Annisa pasti bisa menjaga dirinya. Dia pasti tau, jika harga diri seorang suami itu, ada pada istrinya" balas Shaka.
Salwa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Ferel?" tanya Shaka, mengingat sahabatnya Ferel sudah menembang Salwa.
"Aku belum menerimanya" jawab Salwa.
"Kenapa?" Shaka menajamkan netra nya ke wajah Salwa.
__ADS_1
"Aku belum yakin aja apakah dia tulus atau gak. Dan juga cewek itu perlu jual jual mahal. Masa sekali di tembak aja langsung mau" jawab Salwa.
Shaka mengangkat satu tangannya, lalu mengacak acak ujung kepala Salwa.
"Ih! Shaka" kesal Salwa karena rambutnya berantakan.
"Meski di dalam rumah, seharusnya kamu tetap memakai jilbab. Apa lagi saat masuk ke dalam kamarku" ujar Shaka.
"Aku malas. Dan juga kamu kan udah terbiasa melihatku dari kecil." Mata Salwa berkaca kaca mengatakan itu.
"Jangan sedih, kamu adalah putri kesayangan Papa" ujar Shaka. Tidak tega melihat wajah sedih Salwa.
Shaka dan Salwa bukanlah saudara kandung. Waktu baru lahir dulu, mereka di tukar orang di rumah sakit. Tapi untungnya, Shaka yang pernah di rawat orang lain, berhasil ditemukan. Sedangkan Salwa, sampai hari ini, tidak tau siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya. Dan orang tua saja juga tidak mau tau, apa lagi ingin mencari tau. Bagi mereka Salwa adalah putri kandung mereka di rumah itu.Tidak banyak orang mengetahui itu.
"Aku hanya penasaran aja, siapa orang tua kandungku sebenarnya" ucap Salwa.
"Untuk apa?, itu tidak perlu. Sudah ada Mama dan Papa yang menjadi orang tua kandungmu. Dan ada aku yang menjadi kembaran mu" ketus Shaka. Tidak suka mendengar Salwa ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya.
**
"Furqon, kamu kenapa?. Dari tadi ku perhatiin kamu terus melamun."
Furqon yang duduk di kursi kerjanya, menoleh ke arah pria yang masuk ke ruangannya itu.
"Ada apa? Hm!. Kamu memikirkan Annisa?." pria berusia tiga puluh Tahun itu menepuk pelan bahu Furqon. Dia adalah Thariq, Kakaknya Furqon.
"Kata Umi, nanti malam acara lamarannya" lirih Furqon.
Thariq pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan meja Furqon.
"Seharusnya kamu mengatakan itu dulu pada Umi. Supaya Umi dan Abi membatalkan perjodohanmu dengan Yasmin. Mumpung kalian masih anak anak dulu" ucap Thariq.
"Aku juga baru tau, kalau Annisa itu Adiknya Yasmin. Putri dari Ustadz Bilal sendiri" balas Furqon.
"Mungkin saja, jodohmu memang Yasmin. Abang rasa, Yasmin juga wanita yang baik, pintar dan Soleha. Dan Abang pernah melihatnya sekali, sepertinya Yasmin adalah wanita yang lembut"ujar Thariq.
Furqon menghela napasnya kasar. Dia tidak mencintai Yasmin, tapi bukan karena Yasmin tidak baik. Tapi yang namanya cinta, ya tidak bisa di paksakan. Tapi kalau memang Yasmin adalah jodohnya, Furqon akan menerimanya dengan lapang dada, dan tentunya akan belajar mencintai Yasmin.
__ADS_1
*Bersambung