
"Aku ingin melamar Annisa, Ustadz" jawab siswa itu.
"Uhuk uhuk uhuk!." Sontak Ustadz Bilal terbatuk batuk dan menghentikan langkahnya." Apa kamu bilang?" tanyanya.
Shaka, pria berusia remaja itu menggaruk leher belakangnya lagi, cengar cengir tidak jelas.
"Kan pacaran itu berdosa Ustadz, jadi aku ingin menghalalkannya" jawab Shaka.
Ustadz Bilal pun memicingkan matanya ke arah Shaka, mengingat tadi malam Annisa juga mengatakan pengen kawin.
'Apa bocah ini yang mengajak Annisa kawin?.'
Ustadz Bilal bertanya tanya di dalam hati.
"Siapa nama kamu?" tanya Ustadz Bilal.
"Shaka, Ustadz."
"Nama lengkap."
"Murtado Shaka Budiman, Ustadz."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ustadz Bilal melanjutkan langkahnya ke arah kelas Annisa. Membuat Shaka bingung jadinya. Berpikir apakah lamarannya di terima atau tidak, soalnya Ustadz Bilal tidak memberinya jawaban.
Sampai di kelas Annisa, Bilal langsung masuk sambil mengucap salam.
"Assalamu alaikum!."
"Walaikum salam Ustadz!" seru semua siswi yang ada di kelas itu dengan serentak.
"Hasna, Salwa, ikut saya" tegas Ustadz Bilal langsung keluar dari kelas tersebut. Membuat Salwa dan Hasna saling berpandangan, dengan ragu ragu berdiri dari bangku masing masing.
"Kenapa kita di panggil?" tanya Hasna pelan kepasa Salwa.
"Gak tau" jawab Salwa berbisik.
"Ayo cepat kalian berdua!."
Mendengar seruan Ustadz Bilal dari depan pintu kelas, membuat Salwa dan Hasna bergegas berjalan mengikuti langkah Ustadz Bilal dari belakang.
Sampai di ruangan khusus pemilik sekolah itu. Bilal langsung mendudukkan tubuhnya di kursi meja kerjanya. Lalu mengarahkan pandangannya ke arah Hasna dan Salwa yang berdiri menunduk di depan mejanya.
"Kalian pasti tau alasan Annisa kenapa tidak masuk di jam pelajaran Ustadz Furqon" ucap Bilal.
Hasna dan Salwa refleks saling berpandangan tanpa berani mengangkat kepala mereka.
__ADS_1
"Kalian jalan kemana semalam sampai pulang malam?. Dan kalian pergi bersama siapa saja?."
Hadeh! gak bisa kalau nanya itu satu satu?, pikir Salwa dan Hasna bersamaan.
"Salwa!"
"Iya, Ustadz" jawab Salwa cepat, karena kaget di panggil secara tiba tiba.
"Besok suruh kedua orang tuamu, menemui saya di ruangan ini. Ada hal yang perlu kami bicarakan soal saudara mu Shaka, barusan melamar Annisa langsung kepada saya" ucap Ustadz Bila memandangi wajah kedua gadis remaja itu sekilas.
"Apa Ustadz? Shaka melamar Annisa?." Salwa tidak percaya.
"Ya!" jawab Ustadz Bilal.
'Ya ampun Shaka, sepertinya kamu cari masalah dengan Mama' batin Salwa.
"Apa selama ini Annisa dan Shaka berpacaran?" tanya Ustadz Bilal lagi, padahal pertanyaan nya yang pertama, dan kedua dan seterusnya belum di jawab Hasna dan Salwa.
"Mereka baru jadian semalam, Ustadz" jawab Hasna.
"Semalam?" ulang Ustadz Bilal, tidak percaya. Baru jadian semalam sudah langsung pengen nikah aja, pikir Ustadz Bilal.
"Lalu apa masalah Annisa dengan Monika?, sampai mereka sering berantem" tanya Ustadz Bilal lagi.
"Monica itu dari dulu gak suka sama Annisa, Ustadz. Dia selalu memancing mancing emosi Annisa. Dan selama ini Annisa selalu diam dan tidak pernah terpancing. Tapi, akhir akhir ini, sepertinya Annisa lagi galau Ustadz, membuatnya gampang marah" jawab Hasna panjang lebar.
"Ya sudah, silahkan kembali ke kelas kalian" suruh Ustadz Bilal kepada Salwa dan Hasna.
"Baik, Ustadz. Assalamu alaikum" pamita Hasna dan Salwa bergantian, kemudia. melangkahkan kaki mereka keluar dari ruangan itu.
**
Ceklek!
"Annisa."
Mendengar suara Aqeela masuk ke dalam kamarnya. Annisa yang berbaring di atas tempat tidur memutar tubuhnya, membelakangi wanita paru baya itu. Annisa kesal, karena Ibunya tidak mau membawanya ikut pindah keluar Negri. Dengan alasan di sana Dunianya tidak cocok untuk Annisa, di sana pergaulan terlalu bebas.
"Annisa, ayo makan dulu. Ini Mama memasak makanan kesukaan mu." Setelah Aqeela meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja nakas, Aqeela pun mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, lalu menyentuh lengan Annisa dengan lembut.
"Nanti Annisa pasti akan makan Ma, jangan khawatir" balas Annisa tanpa melihat Mama nya.
Aqeela menghela napasnya, kalau sudah seperti itu, itu artinya Annisa sedang marah padanya.
"Mama minta Maaf, sayang. Kalau Mama ada salah, sudah menyakiti hati Annisa" lirih Aqeela tanpa sadar meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kalau Annisa gak maafin Mama. Emang Mama mau ngelakuin apa?" tanya Annisa.
Aqeela terdiam, memang apa yang bisa di lakukan nya, jika putrinya itu tidak memaafkannya.
"Tidak ada" jawab Aqeela dengan suara tercekat. Aqeela pun memutuskan pergi dari kamar itu, tak ingin sampai terjadi keributan di antara mereka.
Mendengar Ibunya keluar dari dalam kamar, Annisa membalik badannya kembali, mendudukkan tubuhnya meraih nampan makanan dari atas meja di samping tempat tidurnya, lalu memakan makanan itu hanya sedikit.
Namun saat mengunyah makanan di mulutnya, tiba tiba Annisa mendengar handphonnya berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Annisa langsung meraih handphon nya itu dari atas nakas, melihat pesan yang barusan masuk.
#Annisa, aku udah melamar mu kepada Ustadz Bilal#
"Uhuk uhuk uhuk!." Annisa langsung terbatuk batuk sampai makanan di mulutnya keluar dan berserak kemana mana, begitu kaget membaca pesan yang di kirim Shaka padanya. Baru juga jadian tadi malam, sudah langsung main malamr lamar aja.
Ceklek!
Annisa refleks menoleh ke arah pintu kamarnya yang di buka dari luar. Di lihatnya Ustadz Bilal masuk dengan raut wajah datar dan menahan emosi.
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi pergi ke sekolah, dan tidak boleh keluar rumah" ucap Ustadz Bilal dengan rahang mengeras.
Annisa langsung menunduk tanpa berani membantah.
"Maafin Ayah." Tiba tiba Ustadz Bilal menangis terisak." Ayah sudah gagal mendidikmu." Ustadz Bilal mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan.
Annisa yang mendengar Ayahnya menangis, perlahan mengarahkan pandangannya ke arah Ustadz Bilal. Annisa menjadi ikut bersedih, melihat Ayahnya menyalahkan diri sendiri.
"Maafin Annisa Yah. Annisa gak bermaksud merebut Ustadz Furqon dari Kak Yasmin. Annisa gak sengaja jatuh cinta dengan Ustadz Furqon" lirih Annisa.
Refleks Ustadz Bilal menghentikan tangisnya, mendengar Annisa menyebut nama Ustadz Furqon. Dan....
'Apa tadi katanya?, Annisa gak bermaksud merebut Furqon dari Yasmin?. Gak sengaja jatuh cinta dengan Ustadz Furqon?.'
Ustadz Bilal membatin sambil memperhatikan Annisa yang menunduk dari tadi.
'Lalu, apa maksudnya tadi bocah ingusan itu ingin melamar Annisa?. Laki laki mana sebenarnya yang menjalin hubungan dengan Annisa?. Apa Annisa memacari dua laki laki sekaligus?. Ya Allah!.'
'Atau jangan jangan Annisa dan bocah itu sudah melakukan....' Ustadz Bilal memejamkan matanya membayangkan sesuatu hal yang buruk sudah terjadi kepada putrinya itu.' Astaqfirullohal 'azim.'
"Kemari" geram Ustadz Bilal menarik Annisa turun dari atas tempat tidur.
"Ayah!" panggil Annisa melihat Ayahnya menariknya masuk ke dalam kamar mandi, dan langsung menyiramnya dengan air.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan siswa bernama Shaka itu, Annisa? Hah!" bentak Ustadz Bilal tiba tiba, membuat Annisa sampai terlonjak kaget dan ketakutan. Seumur umur, baru kali ini Ayahnya itu marah seperti itu kepadanya.
"Kalian masih sekolah, tapi dia sudah ingin melamar mu"
__ADS_1
*Bersambung