Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Merajuk


__ADS_3

"Aku gak tau" jawab Indri singkat.


Berhasil membuat Annisa mengeraskan rahangnya. Jika saja dia bukan putri dari seorang Ustadz yang harus bisa menjaga nama baik Ayahnya. Sudah pasti Annisa menarik rambut wanita yang menantangnya itu.


"Oo kamu gak tau ya?" Annisa yang tadinya bergelayut manja di lengan Shaka, kini menegakkan cara berdirinya dan juga berkacang pinggang sembari menatap Indri dengan horor. Anggap saja hari ini Annisa menjadi pemeran antagonis."Dengar baik baik culun, ops maaf, maksudku Indri."


'Astagfirulloh, ini cewek kok ngundang syetan ya?' batin Annisa.


"Shaka ini suamiku. Kami sudah menikah sejak satu setengah Tahun yang lalu. Jadi saya minta dengan baik dan hormat, jangan mengusik keharmonisan rumah tangga kami" tekan Annisa mengingatkan.


"Saya hanya ingin berteman dengannya" ucap Indri dengan wajah polosnya.


"Mau berteman ya?. Berteman sama kita aja yuk!" ucap Salwa, Hasna yang berdiri di sampingnya pun mengangguk angguk.


"Hai, perkenalkan. Nama saya Salwa, Adik kembarnya Shaka." Salwa mengulurkan tangannya sembari tersenyum ke arah Indri.


Indri pun terdiam dan memperhatikan wajah Salwa dengan intens, kemudian berganti memperhatikan wajah Shaka yang tidak ada miripnya sama sekali dengan Salwa.


"Ya! dia bengong" Salwa berdecak melihat Indri tidak menerima uluran tangannya sama sekali.


"Indri, sudah tau kan, apa alasanku tidak ingin berteman dengan mu?" tanya Shaka.


Indri diam tidak menjawab dan malah menundukkan kepalanya.


"Aku sudah punya istri. Dan ini istriku, namanya Annisa. Dan yang di samping mu Adikku, di sebelahnya namanya Hasna. Sahabat dari Annisa dan Salwa" jelas Shaka.


'Tapi kamu sudah membuatku jatuh cinta Shaka' batin Indri.


Hati tidak bisa di tentukan atau di atur kepada siapa dia akan jatuh cinta. Karna memang cinta itu tidak memandang status. Cinta itu buta, tidak bisa melihat apa apa.


"Kalau kamu ingin berteman, bertemanlah dengan mereka. Supaya kamu punya teman di kampus ini, dan tidak ada lagi nanti yang berani membuly kamu di sini. Karena aku tidak akan berteman dengan wanita mana pun" lanjut Shaka. Untuk pertama kalinya berbicara baik dan panjang pada gadis itu.


"Itu lebih bagus, kalau kamu mau. Tapi kalau kamu gak mau, ya sudah, kami gak akan rugi. Tapi kami pastikan kamu tidak akan nyaman lagi di kampus ini" ancam Hasna.


'Mereka sangat jahat' batin Indri lagi, mendengar ancaman Hasna.


"Dan tidak bagus wanita dan laki lak yang bukan mahram berteman. Pasti akan menimbulkan fitnah" lanjut Shaka.


Sontak Indri mengangkat wajahnya ke arah Shaka. Tidak menyangkah jika cowok berpenampilan urakan itu bisa berkata seperti itu. Indri malah menjadi mengagumi Shaka.

__ADS_1


"Kalau kamu masih berani mendekati suamiku. Kek!" Annisa mengancam Indri dengan menggesekkan telunjuknya di lehernya."Dan aku akan menjual kamu sama Om om" ancam Annisa lagi.


Indri menelan air lidahnya ketakutan. Sama seperti Shaka, ternyata wanita cantik berhijab di samping pria itu juga sangat galak.


"Ayo sayang, aku sudah sangat ingin memakan mangga muda" ajak Annisa kembali memeluk lengan Shaka dan menarik pria itu pergi meninggalkan Indri. Langsung di ikuti Salwa dan Hasna dari belakang.


"Wa, aku gak salah dengar kan, kalau Annisa katanya pengena makan mangga muda?" bisik Hasna ke telinga Salwa.


"Nggak, tapi masa iya Annisa sudah mengidam? Mereka kan baru ke Bulan, baru beberapa hari" jawab Salwa bingung.


"Kok kamu tau? Annisa cerita?" tanya balik Hasna.


"Pas mereka ke rumah, aku melihat bekas ciuman Shaka di lehernya" jawab Salwa.


"Berarti Annisa udah gak perawan dong." Hasna memperhatikan tubuh Annisa yang berjalan di depan mereka dari atas sampai ke bawah.


"Begitulah" lanjut Salwa kemudian membuka pintu mobilnya saat mereka tepat sampai di parkiran. Mobil itu pun melaju mengikuti mobil Shaka dan Annisa dari belakang. Kemudian di ikuti Hasna dari belakangnya.


Menjelang siang itu, ketiga mobil limitid edition itu pun beriringan membelah jalanan, berhasil mengundang perhatian pengendara lain.


Jangan di tanya dari mana Salwa dan Hasna mendapatkan mobil sport yang mereka bawa. Tentu Mr Boy meminjamkannya kepada mereka sebagai teman sejati dari Annisa.


"Sayang, benaran kamu pengen makan mangga muda?. Masa iya sih kamu langsung hamil dan mengidam? Kan kita baru berikhtiar" ujar Shaka. Meski rasanya tidak mungkin, tapi Shaka sangat berharap kalau Annisa langsung hamil.


"Aku tadi cuma bohong. Biar si Indri Indri itu mengira aku hamil. Kalau pun aku langsung hamil, gak mungkinlah aku langsung ngidam. Lagian, kita usahanya aja masih sering gagal. Aku belum puas kamunya udah lelah."


Tak!


"Awu!"


Annisa seketika mengeluh saat merasakan satu sentilan mendarat di keningnya.


"Asal ngerocos aja itu bibir" cetus Shaka. Istrinya itu memang sangat genit. Tapi kan Shaka mampu mengimbangi ke genitan istrinya itu."Aku berhenti juga karena kamu bilang udah cukup. Sekarang malah ngatain aku lemah." Shaka membuang wajahnya ke arah jendela kaca di sampingnya.


Annisa yang sibuk menyetir, mengangkat satu tangannya untuk mengusap kepala Shaka. Sebenarnya Annisa mengatakan seperti itu untuk menggoda Shaka, gak nyangka suaminya itu merajuk.


Ya, tentu pria itu merajuk. Tidak taukah Annisa jika ia sudah melukai harga diri suaminya itu? Dengan mengatakan Shaka lemah.


"Aku hanya bercanda, jangan merajuk dong suamiku" rayu Annisa membujuk.

__ADS_1


Shaka melihat Annisa dari sudut matanya. Shaka benar benar merajuk sekarang.


"Padahal tadi sebenarnya maksudku, sampai di rumah kamu mengajakku ke Bulan lagi loh" ucap Annisa, mencoba meluluhkan hati Shaka.


Shaka masih diam dan pura pura tidak mendengar rayuan Annisa.


"Shaka, aku minta maaf. Serius tadi aku hanya bercanda." Annisa jadi merasa bersalah melihat Shaka benaran merajuk. Wajah Annisa menjadi berubah sedih, merutuki kebodohan mulutnya yang suka asal bicara.


"Shaka, mamafin aku. Kalau aku salah jangan mendiamkan ku. Tegur kesalahan aku. Bukankah membingbingku adalah kewajiban mu?" tuntut Annisa tak ingin Shaka mendiamkannya.


Dan berhasil, Shaka akhirnya menoleh padanya. Shaka tersenyum lembut dan mengusap kepalanya dari belakang.


"Kamu gak salah Annisa. Tapi cara ku menyampaikannya padaku salah. Jika aku punya kekurangan, tegurlah dengan baik, jangan dengan seperti tadi. Dengan bercanda dan seolaj olah meremehkan ku" nasihat Shaka.


Mereka masih sama sama muda. Dan Shaka yang mengajak Annisa dewasa sebelum waktunya, jadi harus Shaka lah yang harus bersikap dewasa terlebih dahulu. Dan haris memahami Annisa yang memang manja dan sering kali berbicara tanpa berpikir. Shaka sudah tau itu sebelum menikahi Annisa.


"Aku minta maaf" ucap Annisa. Shaka mengangguk pelan.


Saat akan membelokkan kemderaannya masuk ke pekarangan rumah, Annisa pun menurunkan laju kenderaannya, dan memarkirkam mobil pinjaman itu tepat di depan pintu masuk rumah mereka. Di ikuti Salwa dan Hasna dari belakang.


"Trus kita ngapain di rumah kalian?. Nungguin kalian buat dede?" celetuk Hasna setelah mereka keluar dari kenderaan masing masing.


"Terserah kalian aja mau ngapain. Aku harus pergi bekerja kembali di kantor Papa" jawab Shaka.


Untuk memenuhi kebutuhannya dan Annisa, Shaka harus kembali menerima tawarab sang Papa untuk kembali ke perusahaan. Karena penghasilan barbeshop nya dan usaha car wash miliknya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.


"Bagaimana kalau kita jalan jalan aja?" usul Salwa." Sebentar lagi kan kita masuk kuliah, kita beli beli perlengkapan kita gitu."


"Kamu benar, ayuk" antusias Hasna.


Sedangkan Annisa diam saja dan mengarahkan pandangannya pada Shaka.Berpikir kalau Shaka tidak punya uang untuk memberinya modal belanja belanja kebutuhannya.


Mengerti dengan tatapan Annisa, Shaka pun menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Supaya Annisa ikut bersama Salwa dan Hasna.


"Tapi...


"Jangan khawatir, Mama sudah memberikan modal untuk kita" selah Salwa, mengerti dengan tatapan suami istri itu.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2