Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Bersyukur


__ADS_3

"Naluri seorang istri" jawab Annisa tersenyum malu malu, wajahnya nampak merona. Annisa juga tidak tau kenapa ia bisa hal gila kepada Shaka.


Shaka pun memeluk tubuh Annisa, kemudian mengecup kening istrinya itu.


"Kamu membuatku semakin jatuh cinta, Annisa. Trimakasih ya yang barusan kamu lakuin" ucap Shaka.


"Sekarang kita gimana?. Ke sekolah udah terlambat" tanya Annisa mendongakkan wajahnya ke arah Shaka.


"Kita ke kamar yuk!" Shaka melepas pelukannya lalu menarik Annisa berjalan menaiki anak tangga rumah itu.


"Kita ngapain di kamar?" tanya Annisa lagi mengikuti langkah Shaka masuk ke dalam kamar.


"Pijatin aku ya, badanku lelah banget nih" ujar Shaka membuka baju seragam sekolahnya dan melemparnya ke lantai, dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Ish! Shaka" kesal Annisa mengambil baju Shaka dari lantai kemudian menaruhnya di keranjang baju kotor.


Shaka yang sudah berada di atas kasur, tersenyum melihat wajah cemberut Annisa. Tadi Shaka sengaja melempar bajunya ke lantai untuk mengerjai Annisa. Istrinya itu sangat rajin bersih bersih meski akhirnya mengeluh capek, dan tidak suka yang berantakan.


"Sini sayang" panggil Shaka, menepuk kasur di sampingnya. Annisa langsung menurut, naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di samping Shaka, yang langsung di peluk Shaka.


"Gak terasa ya, usia pernikahan kita sudah empat Bulan" ucap Shaka.


"Iya, waktu berlalu terasa sangat cepat" balas Annisa.


"Sangat lambat" ucap Shaka.


Annisa mengarahkan pandangannya ke wajah Shaka. Shaka pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Annisa.


"Setahun lagi, baru aku boleh menyentuhmu" ujar Shaka.


"Kamu yang berjanji sendiri untuk tidak meminta hak mu sebelum aku lulus sekolah." Annisa menjeda kalimatnya sebentar." Janji adalah hutang, wajib kamu tepati." Annisa mengambil tangan Shaka yang mengelus elus pipinya, lalu mengecup punggung tangan pria itu.


"Baiklah, tidak masalah. Lagian kalau si budiman ngamuk, istriku ini sudah bisa menenangkannya" ucap Shaka melebarkan senyumnya sampai giginya yang berjejer rapi kelihatan.


"Kita jalan jalan yuk!" ajak Annisa. Semenjak menikah mereka belum pernah jalan jalan berdua. Selain sibuk sekolah, Shaka juga sibuk bekerja setelah pulang sekolah.

__ADS_1


"Ayok!, tapi aku di pijat dulu ya bentar. Setelah itu aku mandi baru kita pergi" ujar Shaka.


Annisa pun mendudukkan tubuhnya, dan Shaka memutar tubuhnya menjadi tengkurap. Setelah memberi minyak urut ke punggung Shaka, Annisa pun mengurut punggung suaminya itu.


Selesai mijat, ternyata Shaka sudah ketiduran. Melihat itu Annisa mengulas senyumnya.


"Dia memang sangat tampan" gumam Annisa memandangi wajah Shaka dari samping.


**


"Furqon, apa kamu tidak tertarik sama sekali dengan Aisyah?."


Furqon yang di tanya menoleh sebentar ke arah Hilman yang berdiri di sampingnya. Kemudian kembali memandang lurus ke depan memperhatikan seorang gadis bercadar berlari lari mengejar seorang anak kecil.


"Saddam! Ammah pasti bisa menangkap mu!" seru Aisyah sambil terus mengejar bocah laki laki berusia lima Tahun itu.


"Ammah kalah!" seru Saddam terus berlari menjauh. Aisyah pun menambah kecepatan nya berlari untuk menangkap tubuh Saddam. Dan akhirnya, Aisyah berhasil menangkapnya dan mengangkat tubuh bocah itu ke gendongannya.


Ammah adalah panggilan untuk Bibi dalam bahasa Arab.


"Umurku sudah di vonis Dokter tidak lama lagi. Aku ingin sebelum aku mati, sudah ada laki laki yang menjaga Aisyah" ucap Hilman lagi."Aisyah adalah putri dari istri kedua Ayahku. Makanya jarak usia kami sangat jauh. Ibu Aisyah meninggal saat melahirkannya, tak lama kemudian Ayah pun menyusul meninggalkan kami. semenjak itu, aku yang mengasuh Aisyah bersama Bibi." Hilman menjeda kalimatnya sebentar tanpa memutuskan pandangannya dari Aisyah yang sibuk mengecupi pipi bocah di gendongannya itu.


Hilman sudah menikahi wanita bernama Hindun selama lima Tahun, namun sampai saat ini istrinya belum juga hamil, karena penyakit yang di derita Hilman sendiri. Kalau dia mati, pasti istrinya menikah lagi, dan tidak mungkin istrinya itu membawa adiknya bersama suaminya yang baru.


"Jika aku sudah tiada nanti, tolong bawa Aisyah pulang ke Indonesia. Aku titipkan dia kepadamu, Furqon. Tolong jaga Adikku" lirih Hilman. Furqon pun mengarahkan pandangannya ke wajah Hilman, memperhatikan raut wajah pria itu dengan Intens.


"Aku hanya percaya padamu, Furqon."


**


"Shaka, ayo bangun, hari ini kamu ujian kan?" Annisa menggoyang lengan Shaka yang masih tidur di sampingnya.


"Sebentar lagi, Annisa" gumam Shaka. Wajar saja dia malas bangun pagi pagi, tadi malam dia begadang sampai larut malam untuk belajar.


"Ini sudah masuk waktu subuh Shaka" kesal Annisa. Setelah menikah, Annisa baru tau kalau Shaka susah dibagunin pagi.

__ADS_1


"Iya sayang, aku tau." Shaka yang masih enggan membuka mata, ia pun menarik tubuh Annisa ke dalam pelukannya.


"Ciri ciri rumah tangga yang di selimuti syetan adalah, Seorang suami belakangan bangun dari istri. Tidak membangunkan istrinya untuk shalat subuh" ujar Annisa yang sudah menyandarkan dagunya di atas dada Shaka.


Mendengar ceramah istrinya, Shaka langsung membuka mata. Dan mendudukkan tubuhnya dengan pelan sambil menahan tubuh Annisa supaya tidak jatuh dari pangkuannya.


"Ya udah, istriku bangun ya, sana shalat" suruh Shaka sambil mengusap usap kepala Annisa dengan lembut.


"Aku udah selesai shalat" cetus Annisa mengerucutkan bibirnya.


Dari jam tiga tadi, Annisa sudah bangun. Sudah selesai shalat malam, mengaji, berzikir, shalat fajar, shalat sunah subuh, dan shalat fardhu subuh.


"Masya Allah, istri Solehah ku, gak salah aku memilihmu menjadi istriku" puji Shaka, lalu menempelkan bibirnya di bibir Annisa yang mengerucut.


"Sana cepat shalat!, bentar lagi waktunya habis Shaka" kesal Annisa mendorong dada Shaka, supaya suaminya itu segera turun dari atas kasur.


Bukannya menuntunnya lebih dekat dengan Tuhan, malah Shaka yang harus di ingatkan setiap saat kewajibannya sebagai seorang muslim dan seorang suami.


"Iya istriku, cerewet banget sih!." Shaka pun akhirnya turun dari atas kasur.


"Seharusnya kamu bersyukur aku mau membangunkan mu shalat, bukan malah mengataiku cerewet" ketus Annisa.


"Iya, sayang, aku bersyukur." Shaka naik lagi ke atas ranjang, dan langsung mengecupi pipi Annisa, gemas.


"Muah muah muah muah!. Jangan cemberut, okeh!" ucap Shaka kemudian berlalu ke kamar mandi. Berhasil membuat Annisa tersenyum senang.


Melihat Shaka sudah menghilang di balik pintu, Annisa pun menyiapkan perlengkapan Shalat untuk Shaka. Setelah itu keluar kamar untuk memulai pekerjaannya membersihkan rumah, mulai dari dapur sampai halaman rumah.


"Sayur! sayur!"


"Sayur! sayur!"


Mendengar penjual sayur lewat di depan rumah, Annisa yang menyapu halaman pun menoleh ke si Bapak yang berhenti di depan rumah. Terlihat Ibu Ibu komplek berdatangan membeli sayur.


"Sayur Dek!" ucap si Bapak penjual sayur itu kepada Annisa.

__ADS_1


"Gak, Pak!" balas Annisa, dia gak bisa masak, buat apa dia beli sayur.


*Bersambung.


__ADS_2