Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Menyambut cinta


__ADS_3

"Bang, ikan gurami asam pedas satu, kepiting asam pedas satu,nasi tiga, jeruk hangat dua."


"Iya, Dek. Silahkan di tunggu ya" ucap si Bapak pemilik angkringan pinggir jalan itu dengan ramah. Meski tempatnya terlihat sederhana, tapi si Bapak menyediakan cukup banyak menu masakan.


Annisa melangkahkan kakinya ke arah Shaka yang sudah duduk di salah satu kursi meja kosong.


"Pesan apa untuk kita?." Shaka tidak ikut memesan makanan, jadi tidak tau makanan apa yang di pesan Annisa untuk mereka.


"Ikan gurami sama kepiting" jawab Annisa. Annisa duduk di samping Shaka, tangan Shaka langsung terangkat untuk mengusap kepalanya. Shaka yakin, pasti nanti istrinya itu makan lebih banyak, mengingat Annisa dari dulu porsi makannya memang besar.


Malam sudah larut, meski pakai jaket, tetap saja Annisa merasa kedinginan. Dari dulu Annisa memang tidak biasa dengan udara malam, apa lagi larut malam begini.


"Dingin?" tanya Shaka melihat Annisa menggosok gosok kedua telapak tangannya dan sesekali meniupnya dengan napas.


Annisa mengangguk, Shaka pun menarik tubuh Annisa supaya bersandar ke dadanya. Supaya lebih mudah memeluk Annisa dengan posisi seperti itu.


"Masih dingin?" tanya Shaka lagi.


Annisa mengangguk, baru juga di peluk, masa iya langsung menghangat. Dan juga sepertinya akan turun hujan, membuat udara malam semakin dingin. Tapi untung angkringan itu pakai tenda, jika turun hujan, mereka tidak kena hujan.


Dan benar saja, dari kejauhan sudah nampak kilat, begitu juga dengan gemuruh terdengar samar samar, menandakan di tempat lain sudah turun hujan.


"Sepertinya akan turun hujan" ucap Annisa menatap ke arah langit yang tidak ada bintang sama sekali.


"Gak apa apa, nanti kamu bisa pake jas hujan." Di motor Shaka selalu ada jas hujan, persediaan kalau hujan turun.


Melihat remaja seperti Meraka berani berpelukan erat di tempat umum. Berhasil mencuri perhatian para pengunjung lain. Mereka berbisik bisik membicarakan Shaka dan Annisa. Apa lagi Annisa gadis berhijab, menurut mereka hijabnya hanya topeng. Padahal meraka tidak tau, kalau kedua remaja itu sudah menikah satu setengah Tahun yang lalu. Tapi itulah manusia, cepat sekali menilai apa yang terlihat mata saja.


"Shaka, sepertinya membicarakan kita." Meski tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan pengunjung lain di angkringan itu. Tapi dari gelagat orang orang itu bisa Annisa tebak, kalau mereka di bicarakan.Orang orang itu berbicara sambil menatap ke arah meraka.


"Biarkan aja" Shaka malah mengecup kening Annisa dengan sayang. Dia tidak peduli orang membicarakan mereka. Yang penting bagi Shaka mereka tidak berbuat dosa di tempat itu.

__ADS_1


Tak lama menunggu, pesanan mereka pun akhirnya datang. Annisa langsung memperbaiki posisi duduknya meski sebenarnya ia masih ingin di pelukan Shaka.


"Silahkan Abang sama Kakak" ucap si Bapak yang datang mengantar pesanan mereka, saat meletakkan makanan di atas meja.


"Trimakasih, Pak" Annisa yang menjawab, sedangkan Shaka hanya diam saja.


Setelah membaca doa makan, Annisa pun langsung menyantap ikan gurami di depannya. Sangat enak, kebetulan perut Annisa sangat lapar, membuatnya makan dengan lahap. Tidak hanya memakan ikan, Annisa juga memakan kepiting yang tersaji di depan Shaka.


Shaka yang melihatnya mengusap kepala Annisa dengan lembut. Menjadi kasihan melihat Annisa yang menahan lapar karena menunggunya. Shaka pun mengambil daging kepiting dari cangkangnya, dan memindahkannya ke piring Annisa. Supaya istrinya itu lebih mudah memakannya.


Annisa langsung menoleh ke arah Shaka," Untuk kamu?."


"Ini masih ada, makanlah, kamu pasti sangat kelaparan karena menungguku" jawab Shaka tersenyum, mengusap sekali lagi kepala Annisa dari belakang.


Annisa juga mengulas senyumnya. Perhatian sekecil itu saja, sudah mampu membuat hati Annisa bahagia. Tapi rasanya tidak sempurna jika hanya Annisa yang bahagia. Gadis berparas cantik dan manis itu pun mengambil nasi dan daging ikan di depannya, lalu menyuapkannya ke mulut Shaka dengan menggunakan tangan.


"Aku yakin kamu juga belum makan dari tadi" ucap Annisa.


"Akhirnya hujannya sampai juga ke sini" ujar Annisa, membayangkan dinginnya mereka pulang hujan hujanan di malam hari.


"Gak apa apa, sesekali kita main hujan. Ayo cepat habiskan makanannya, biar kita pulang." Malam hari semakin larut, sepertinya tidak mungkin mereka menunggu hujan itu reda baru pulang.


Meski mereka terkena rembesan air hujan, Annisa tetap menghabiskan makanannya. Sayang jika tidak di habiskan, mengingat cari uang itu tidak mudah.


Setelah makanan di meja mereka habis, Shaka langsung membayarnya sebelum meninggalkan tempat itu.


"Tunggu di sini, aku ambil jas hujan dulu" ujar Shaka melangkahkan kakinya menerobos hujan deras itu ke arah motornya terparkir untuk mengambil jas hujan dan langsung kembali ke dalam angkringan, memakaikan mantel itu ke tubuh Annisa.


"Kamu pakai apa?." Kalau Shaka tidak memakai jas hujan, jelas suaminya itu akan basah kuyup sampai di rumah, Shaka bisa sakit nantinya.


"Gak ada, jas hujannya cuma satu. Kamu aja yang pakai." Dari pada istrinya yang basah dan bisa sakit nanti, lebih baik Shaka yang basah.

__ADS_1


Selesai memasangkan jas hujan ke tubuh Annisa, Shaka langsung menarik Annisa ke arah motor mereka, tidak lupa memakai helm sebelum melaju melewati hujan deras itu. Annisa pun memeluk Shaka dari belakang dengan erat saat motor itu mulai melaju dengan perlahan.


'Ya Tuhan, Ini sangat indah.'


Annisa membatin saat mengadakan wajahnya ke langit, membiarkan butiran butiran itu menimpa wajahnya.


Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?.


Mungkin jika Annisa tidak pergi setahun yang lalu. Mungkin sudah banyak kenikmatan kenikmatan yang ia lewati bersama Shaka. Bukan hanya menikmati hujan bersama sama seperti malam ini, mungkin banyak kenikmatan lain yang lebih besar bisa mereka raih bersama sama.


Annisa pun melepas pelukannya dari tubuh Shaka, mencoba berdiri dengan berpegangan di bahu Shaka. Kemudian Annisa merentangkan kedua tangannya untuk menyentuh air hujan yang mampu menyejukkan hatinya, menumbuhkan begitu banyak benih cinta untuk Shaka. Laki laki yang nekat menikahinya di saat usia mereka masih remaja.


"Shaka! aku mencintaimu!" seru Annisa, tak bisa membendung perasaanya. Meski di awal pernikahan Annisa tidak mencintai Shaka, tapi pria itu mampu membuatnya jatuh cinta dengan segala kebaikan dan perhatian Shaka. padanya.


Mendengar itu, tentu hati Shaka berbunga bunga, sampai membuat senyumnya merekah indah menampakkan gigi giginya yang jejer tapi.


Annisa kembali duduk karena takut jatuh. Memeluk tubuh Shaka kembali, lalu mengecup leher pria itu dari samping. Berhasil membuat Shaka semakin menambah kecepatan laju motornya, tak sabar untuk sampai di rumah.


Tepat motor itu terparkir sempurna di sebuah halaman rumah. Shaka langsung turun dari atas motor.


"Kita pulang ke rumah ini?." Annisa mengarahkan pandangannya ke arah rumah di depannya. Rumah minimalis berlantai dua yang di tempati mereka setahun yang lalu.


"Mulai malam ini, kita kembali tinggal di sini" jawab Shaka. Membantu Annisa turun dari atas motor. Shaka juga membuka helm dan jas hujan yang di pakai Annisa, kemudian menarik gadis itu masuk ke dalam rumah.


Annisa langsung memutar pandangannya ke setiap sudut ruang tamu rumah itu. Meski tidak di tempati, rumah itu terlihat bersih dan terawat. Pasti Ibu Drabia yang menyuruh pembantu di rumahnya untuk membersihkan rumah itu.


"Aaa!" pekik Annisa tiba tiba, merasakan tubuhnya melayang. Ya, Shaka mengangkat tubuhnya secara tiba tiba.


"Mari kita ke Bulan" tanpa aba aba Shaka langsung menyapu permukaan bibir Annisa dengan bibirnya.


Dengan senang hati, Annisa langsung menyambut cinta dari suaminya itu.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2