Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Ayah, bawa aku pulang


__ADS_3

"Shaka" panggil Annisa lirih lalu menundukkan pandangannya.


Tanpa mengatakan apa pun pada Annisa, Shaka melangkahkan kakinya begitu saja. Berhasil membuat Annisa meneteskan air matanya kembali.


'Ya Allah, aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Tapi kenapa aku di hukum seperti ini?. Tunjukkan hamba jalan yang lurus ya Allah, jika hamba memang berada di jalan yang salah' batin Annisa sambil menghapus air matanya lantas melangkah masuk ke dalam kamar.


Annisa masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu setelahnya langsung melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam.


Selesai berdoa, Annisa langsung membuka mukenanya, namun tidak langsung berdiri dari atas sajadahnya. Lagi lagi Annisa meneteskan air matanya saat pandangannya menyapu setiap sudut kamar itu. Lima Bulan lebih, kamar itu menjadi tempat ternyaman Annisa. Banyak sekali kenangan mereka ciptakan di dalam ruangan itu. Tapi sekarang kamar itu tidak senyaman kemarin lagi, rasanya sudah berubah seperti di neraka.


Hiks hiks hiks hiks!


Annisa kembali menangis terisak isak. Annisa bingung harus bagaimana? Bingung harus melakukan apa?. Rasanya Annisa ingin pergi dari rumah itu, tapi mengambil keputusan itu tidaklah mudah. Apa lagi Shaka sudah mengancam talak padanya jika kakinya berani melangkah keluar pintu. Tapi untuk bertahan di rumah itu, rasanya Annisa juga tidak sanggup jika Shaka bersikap dingin begitu.


Ting nung!


Suara bel itu berhasil menghentikan tangis Annisa. Berpikir siapa yang datang berkunjung. Mendengar bel rumah itu terus berdiri, Annisa pun segera bergegas dari atas sajadahnya. Annisa keluar kamar untuk membuka pintu untuk tamu yang datang.


"Assalamu alaikum! Annisa!."


"Walaikum salam!" balas Annisa menyahut setelah sampai di lantai bawah rumah itu. Annisa menghapus air matanya dan berusaha merubah ekspresi wajahnya untuk terlihat baik baik saja. Meski wajah sembabnya tak bisa disembunyikan.


Saat membuka pintu, Annisa pun terdiam, melihat keluarganya di depan pintu.


"Annisa, boleh kami masuk?" tanya Umi Hani melihat Annisa diam saja memandangi mereka.


Annisa mengulas senyumnya kemudian menyalam Ustadz Bilal dan Umi Hani."Silahkan masuk Ayah, Umi."


"Trimakasih, Nak!." Ustadz Bilal pun mengusap kepala Annisa kemudian melangkah masuk.


Melihat Yasmin berdiri di belakang Ustadz Bilal. Annisa kembali terdiam melihat Kakaknya itu, yang sempat mengusirnya tadi dari dalam kamar.


"Silahkan masuk Kak Yasmin" ucap Annisa. Meski sempat sakit hati, tapi Annisa tetap Harus menghargai orang yang bertamu ke rumahnya.


"Trimakasih" balas Yasmin langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tidak ada senyum di wajah wanita itu, bahkan tatapannya pun masih tak bersahabat kepada Annisa.


"Shaka mana?" tanya Umi Hani, tidak melihat Shaka di rumah itu. Dan kendaraannya pun tidak ada di depan rumah.

__ADS_1


"Katanya tadi keluar sebentar, Umi" jawab Annisa, padahal sebenarnya Annisa tidak tau kalau Shaka pergi.


Umi Hani yang sudah duduk di sofa, menarik tangan Annisa supaya duduk di antaranya dan Ustadz Bilal. Umi Hani membingkai wajah Annisa lalu mengecup kening putri sambungnya itu.


"Maafin Umi dan Ayah" ucap Umi Hani dengan suara lembutnya.


Mata Annisa langsung berkaca kaca dan perlahan meneteskan cairan bening dari sudutnya.


"Umi percaya kalau putri Umi ini gak sengaja berada di dalam kamar mandi yang sama dengan Furqon. Umi percaya, putri Umi ini tidak seburuk itu tega menghianati Kakaknya dan keluarganya" ucap Umi Hani lagi, berhasil membuat Annisa semakin menangis.


"Annisa udah gak mencintai Ustadz Furqon lagi, Umi" Isak tangis Annisa.


Annisa menangis kembali bukan hanya karena fitnah itu aja. Melainkan karena Shaka tidak percaya lagi dengan cintanya.


"Annisa lupa menutup pintu kamar mandi itu karena Annisa kebelet sakit perut, Umi. Dan Tiba tiba Ustadz Furqon masuk. Ustadz Furqon juga langsung keluar setelah melihat aku di dalam kamar mandi itu" cerita Annisa sekali lagi.


"Annisa bersumpah demi Allah, Umi. Annisa sedikit pun tidak bermaksud menghianati Kak Yasmin" lanjut Annisa.


"Ssst!" Umi Hani menarik tubuh Annisa ke dalam pelukannya. Tidak tega melihat betapa hancurnya perasaan Annisa saat ini.


"Ayah juga percaya kalau putri Ayah ini tidak akan menghianati Ayah" ucap Ustadz Bilal menarik Annisa dari pelukan Umi Hani, lalu membawanya ke dalam pelukannya.


Cerai?


Tidak semudah itu mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan. Apa lagi pernikahan mereka baru berusia seumur jagung. Annisa gak mau menjadi janda di usia muda.


'Ayah, bawa aku pulang.'


Ingin sekali rasanya Annisa bisa mengatakan itu pada Ayahnya. Tapi Annisa harus memikirkan itu dengan matang matang.


"Maafkan Ayah, Nak." Ustadz Bilal pun jadi ikut menangis.


Dulu saat bercerai dengan Aqeela mantan istrinya. Annisa juga menangis seperti ini, saat Aqeela meninggalkan rumah. Sampai sampai Annisa sakit dan terpuruk, terus meminta Ayahnya untuk membawa Ibunya kembali tinggal bersama mereka.


"Annisa, istiqfar Annisa. Gak boleh menangis berlebihan." Umi Hani mengusap lembut kepala Annisa dari belakang.


Meski anaknya ceria, namun Annisa adalah anak yang cengeng, dan gampang rapuh.

__ADS_1


Bukannya berhenti menangis, malah tangis Annisa semakin kencang. Dadanya terasa penuh, ingin mengatakan kalau Shaka marah padanya, tapi Annisa harus memendamnya setelah mendengar nasihat sang Ayah kemarin. Seorang istri harus menyembunyikan kekurangan suami.


Melihat Annisa menangis meraung raung, Umi Hani dan Ustadz Bilal menjadi bingung. Bukankah mereka sudah mengatakan kalau mereka percaya pada Annisa. Seharusnya Annisa merasa lega, bukan bertambah menangis seperti ini.


"Annisa, kamu kenapa sayang?" tanya Ustadz Bilal.


Annisa menggeleng gelengkan kepalanya. Dia mau jawab apa? dia menangis karena Shaka tadi mendiamkannya dan pergi tanpa berpamitan. Annisa tidak bisa membayangkan hidup bersama tapi diabaikan.


"Tapi kenapa kamu menangis seperti ini, Nak?" tanya Ustadz Bilal lagi.


Annisa menggeleng kan kepalanya lagi.


"Apa Shaka menyakiti mu?" tebak Ustadz Bilal.


Lagi lagi Annisa menggelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa kamu sampai menangis sepertinya ini, Annisa?" Umi Hani yang bertanya.


Annisa tetap tidak mau menjawab dengan jujur.


"Ayo cerita sama Umi" bujuk Umi Hani menarik Annisa ke dalam pelukannya.


Umi Hani dan Ustadz Bilal saling berpandangan. Mereka sama sama berpikir kalau Annisa dan Shaka hubungannya tidak baik saat ini. Apa lagi melihat Shaka tidak ada di rumah. Mereka berpikir kalau Shaka meninggalkan Annisa.


**


Shaka yang sedang melajukan kendaraannya, menurunkan lajunya saat akan memarkirkannya di halaman sebuah rumah sederhana. Shaka langsung turun dari dalam mobil setelah mematikan mesinnya, dengan membawa sebuah kotak makanan di tangannya berjalan ke arah pintu rumah sederhana itu.


Tok tok tok !


"Assalamu alaikum! Inara!." Dahak berseru sembari mengetok pintu di depannya.


"Walaikum salam!" balas seorang perempuan dari dalam.


Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka, menampakkan seorang gadis cantik keluar dari dalam rumah itu.


"Ini aku bawakan makanan untuk mu." Shaka mengulurkan kotak makanan di tangannya yang di bawanya memang khusus untuk gadis cantik itu.

__ADS_1


"Trimakasih" gadis bernama Inara itu menerimanya dengan senang hati."Silahkan duduk, aku akan mengambilkan minum dulu" ucap Inara lagi, memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah. Dan Shaka pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di teras rumah itu.


*Bersambung


__ADS_2