Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Cepat pulang


__ADS_3

Tok tok tok!


"Assalamu alaikum! Shaka!."


Annisa yang sedang sibuk merapikan kasur langsung menghentikan gerakan tangannya.


'Siapa itu? ini baru pagi pagi sudah datang bertamu.'


"Walaikum salam!" balas Annisa berseru sambil melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar untuk membuka pintu untuk tamu itu.


Setelah membuka pintu, Annisa langsung terdiam melihat wanita menggendong anak berdiri di depan pintu.


"Aku kesini untuk mengantar sarapan untuk kalian." Inara menyodorkan rantang berbahan plastik ke arah Annisa.


Namun Annisa tidak langsung mengambilnya. Netranya sibuk menelisik tubuh Inara dari atas sampai ke bawah.


'Apa benar Shaka sudah menikahi Inara?' batin Annisa mengingat pengakuan Shaka semalam telah menikah dengan Inara.


"Annisa! siapa yang datang?" seru Shaka baru keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk di pinggang.


Annisa yang melihat itu langsung menutup sebagian pintunya supaya Inara tidak sampai melihat aurat Shaka.


"Inara!"balas Annisa berseru.


"Ayo ambil" Inara menarik sebelah tangan Annisa, dan menyangkutkan rantang di tangannya ke tangan Annisa.


"Mulai besok kamu gak perlu mengantar sarapan ke sini lagi. Ada aku yang akan membuat sarapan untuk Shaka" ucap Annisa, wajahnya terlihat tak bersahabat.


"Seharusnya kamu gak cemburu sama aku. Karena akulah yang cemburu sama kamu. Kamu dengan mudah mendapatkan cinta dari Shaka. Sedangkan aku sekuat apa pun berjuang. Cinta Shaka kepadamu tidak pernah goyah" ucap Inara tersenyum.


"Aku sudah memiliki anak, Annisa. Bukan waktunya lagi aku memikirkan cinta, melainkan masa depan anak ku ini. Lagian, aku juga sudah punya suami. Tidak wajar aku memikirkan pria lain, apa lagi suami orang."


Annisa terdiam mendengar apa yang diucapkan Inara barusan. Benarkah ibu muda itu sedewasa itu pemikirannya. Annisa tidak percaya, bisa saja Inara seperti itu untuk menarik simpati Shaka.


Inara menghela napasnya melihat Annisa tidak percaya padanya." Aku mengantar makanan ke sini, karena Shaka sering memberiku uang. Dia sering membantu keuanganku. Aku hanya ingin membalas sedikit kebaikannya. Tapi kalau kamu keberatan aku mengantar makanan ke sini, aku tidak akan mengantarnya lagi. Assalamu alaikum!." Inara langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Annisa yang diam dari tadi.


"Tunggu!" seru Annisa.


Sontak langkah Inara terhenti dan langsung memutar tubuhnya ke arah Annisa.

__ADS_1


"Aku minta maaf, masuk lah" ucap Annisa.


Inara menghapus air matanya yang sempat mengalir kemudian tersenyum."Lain kali aja, aku harus bekerja."


"Bekerja?" Annisa mengerutkan keningnya, berpikir pekerjaan apa yang bisa di lakukan wanita yang memiliki balita.


Inara menganggukkan kepalanya," buka warung di depan rumah."


Annisa mengangguk paham. Ia pikir Inara akan mengerjakan pekerjaan berat, ternyata tidak.


"Kalau begitu aku permisi dulu" pamit Inara sekali lagi dan langsung pergi.


Annisa pun kembali masuk ke dalam rumah dengan membawa rantang di tangannya dan meletakkannya di atas meja sofa.


"Annisa, gak apa apa kan aku tinggal sendiri di rumah. Aku harus ke kampus pagi ini."


Annisa langsung menoleh ke arah Shaka yang baru keluar dari dalam kamar, memperhatikan rambut Shaka yang terlihat lembab.


Ah, meski penampilan Shaka urakan, tapi tetap saja terlihat tampan, bahkan terlihat keren. Namun Annisa lebih suka melihat penampilan Shaka yang dulu.


"Gak apa apa" jawab Annisa."Ayo sarapan, Inara mengantar makanan untuk kita." Bibir Annisa sedikit manyun saat menyebut nama Inara. Meski mencoba untuk berpikiran baik, tapi tetap saja Annisa cemburu dengan kedekatan Shaka dan Inara.


Melihat sendok dan piring belum tersedia di atas meja. Shaka kembali berdiri melangkah ke dapur untuk mengambil peralatan makan untuk mereka, dan langsung kembali.


"Kok ngambil piringnya cuma satu? Sendok sama gelasnya juga?" tanya Annisa melihat Shaka hanya membawa satu piring, sendok dan gelas dari dapur.


"Aku akan menyuapi mu makan." Shaka membuka rantang yang di bawa Inara tadi, dan memindahkan sebagian isinya ke atas piring. Kemudian menyuapi Annisa makan dengan makanan yang di antar Inara.


'Masakannya enak.'


Annisa membatin sambil mengunyah perlahan makanan di mulutnya.


"Setiap hari Inara membuat nasi goreng dan mie goreng untuk di titip ke warung warung. Inara juga membuka warung kering keringan di depan rumah kontrakannya" jelas Shaka seolah tau apa yang di pikirkan Annisa.


Annisa menghentikan kunyahan ya dan menatap Shaka.


'Kalau begitu aku juga harus bisa memasak. Supaya Inara tidak punya alasan lagi mengantar makanan ke sini. Aku gak suka Shaka dekat dekat dengan Inara' batin Annisa.


Dia tidak boleh kalah dari wanita mana pun, Annisa harus lebih unggul dari Inara di segala bidang.

__ADS_1


Shaka mengulas senyum, melihat jelas sekali di wajah Annisa kalau sedang cemburu. Shaka pun mengangkat satu tangannya untuk mengusap kepada istrinya yang masih perawan itu.


Aduh! kapan mereka ke Bulan?.


"Ayo cepat makan, jangan mikir yang aneh aneh trus." Shaka menyuapkan makanan ke mulut Annisa lagi.


Setelah makanan di piring mereka habis, baru Shaka berangkat ke kampus. Annisa pun mengantarnya ke depan pintu.


"Hati hati di rumah, gak usah ngerjain apa apa, biar nanti aku aja yang ngerjain, oke!" ucap Shaka. Tidak mau sampai istrinya itu kelelahan karena membereskan rumah yang berantakan.


"Cepat pulang, aku masih merindukan mu" balas Annisa memeluk tubuh Shaka. Rasanya berat sekali melepas Shaka ke kampus.


Shaka mengulas senyumnya, ia pun menjatuhkan satu kecupan di ujung kepala Annisa. Tentu Shaka juga merindukan istrinya itu, meski tadi malam mereka sudah kembali tidur bersama. Bahkan rasa rindu Shaka lebih besar dari Dunia ini.


"Iya cinta." Kalau seperti itu rasanya Shaka juga berat untuk meninggalkan Annisa.


"Nanti bawain aku dawet ya." Setahun di luar Negri Annisa sudah kangen dengan rasa minuman yang satu itu. Annisa pun melapas pelukannya dari tubuh Shaka supaya pria itu bisa pergi.


"Iya, sayang. Assalamu alaikum." Shaka mengusap lembut kepala Annisa lalu pergi dengan wajah yang berbinar cerah. Tidak seperti semalam, terlihat datar tanpa ekspresi.


Setelah Shaka pergi, baru Annisa masuk ke dalam rumah, tidak lupa mengunci pintunya rapat rapat.


"Aku harus bisa memasak" gumam Annisa, segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya. Annisa langsung membuka vidio memasak untuk melihat resep masakan.


Setelah puas menonton berbagai cara memasak makanan. Annisa pun pergi mencari warung sayur untuk berbelanja bahan masakan.


"Annisa, kamu mau kemana?."


Sontak langkah Annisa terhenti mendengar suara Inara memanggilnya dari sebuah warung.


"Mencari warung sayur. Aku ingin makan siang untuk Shaka" jawab Annisa.


"Oo!" Inara ber O sambil tersenyum. Sebenarnya ia tau kalau Annisa tidak bisa memasak sama sekali."Warung sayurnya di sebelah sana, di sebelah sana juga ada, tapi lebih jauh." Inara pun menunjuk dua arah pada Annisa.


"Ya udah, aku pergi dulu ya" pamit Annisa ramah. Inara pun menganggukkan kepalanya.


Pulang dari warung, Annisa langsung ke dapur membawa belanjaannya sebanyak dua kantong plastik besar. Entah apa aja yang di belinya, dirinya sendiri juga gak mengerti dengan semua bahan makanan itu, dan menyerak semua isinya di lantai.


"Aku masak apa dulu ya?" tanya Annisa pada dirinya sendiri."Aku masak ayam aja deh." Annisa pun menjawab pertanyaannya sendiri setelah berpikir pikir.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2