Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Rumah ternyaman


__ADS_3

"Belum" jawab Annisa cetus.


Tante Sabina mengulas sedikit senyumnya, hanya sedikit." Kenapa? Apa kalian menundanya?."


Bibir Annisa yang mengerucut dari tadi semakin panjang sampai lima senti lalu menganggukkan kepalanya lemah dengan mata melirik ke arah Shaka yang sibuk menyalami para paman Annisa yang berjumlah lima orang.


"Iya Tante, kami menundanya. Aku pikir kami masih terlalu muda untuk menjadi orang tua. Apa lagi di posisi Annisa masih sekolah, aku pikir dia belum siap jika harus mengandung dan melahirkan" jawab Shaka setelah mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kosong di ruangan itu.


Mendengar jawaban Shaka, Annisa sedikit terharu. Shaka yang masih muda sangat memikirkan dirinya. Tambah jatuh cinta deh Annisa.


"Iya juga sih. Aku pikir juga begitu. Kalian masih terlalu muda untuk menjadi orang tua. Setidaknya tunggu Annisa lulus sekolah dulu" balas Tante Sabin.


"Jadi orang tua muda itu seru juga loh. Dulu aku dan Sirin sangat menikmati menjadi orang tua muda. Saat itu aku juga belum lulus SMA, tapi aku sudah menjadi seorang Ayah" celetuk Paman Annisa bernama Arsenio.


"Yang paling enak, kalau kita menjadi orang tua di usia muda. Kita belum tua tua banget, anak kita sudah besar semua" tambah Paman Arsenio lagi.


Shaka mengulas senyumnya, pikirannya menerawang jauh ke masa depan. Kalau boleh jujur, ia juga pengen langsung bisa memiliki anak meski usia mereka masih muda. Tapi Shaka tidak mau jika harus merusak masa depan Annisa sekarang. Shaka tetap ingin Annisa bisa menikmati usia remajanya seperti remaja remaja pada umumnya.


"Dulu juga aku pengen menikah muda, tapi Papa menyembunyikan calon istriku" sambung Paman Annisa bernama Darren. dengan wajah nampak sedikit kesal.


"Usiamu waktu itu masih SMP, mana mungkin Papa bisa membiarkanmu menikahi wanita dewasa. Bahkan kamu sendiri belum berpenghasilan, dan kencingmu aja belum lurus" cibir Paman Annisa bernama Orion.


Paman Darren mendengus kesal. Benar juga sih yang dikatakan Paman Orion, kalau pada saat itu usianya belum pantas menikah. Tapi bagaimana lagi, saat itu hati Paman Darren di landa cinta.


"Walaupun aku pengen menikah muda, tapi bukan berarti aku akan menikah saat usia SMP. Setidaknya aku lulus SMA lah" Paman Darren melakukan pembelaan pada dirinya sendiri.


"Nak Shaka, kalian udah datang. Kirain kalian gak jadi nginap di sini malam ini" ujar Umi Hani saat meletakkan satu persatu gelas minuman yang di bawanya menggunakan nampan dari dapur.

__ADS_1


"Jadi Umi. Tapi pulang kerja aku ada janji sama teman, makanya lama sampai di sini" balas Shaka mengulas senyumnya.


"Dari tadi Annisa menangis terus loh. Sepertinya dia gak makan seharian" ucap Umi Hani lagi melirik wajah Annisa yang nampak masih sembab dan cemberut.


"Astaqfirullohal azim. Aku jadi lupa, tadi Annisa minta makan." Shaka langsung berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah Annisa yang duduk di samping Tante Sabina." Sayang, ayo kamu makan dulu." Shaka menarik lengan Annisa supaya istrinya itu berdiri dari tempat duduknya.


"Aku udah gak lapar" tolak Annisa karena sudah sempat memakan kue kue yang di bawa Shaka yang di letakkan di atas meja sofa.


"Hanya makan kue itu tidak akan cukup untukmu. Ayo biar ku temani" bujuk Shaka dan sedikit memaksa Annisa.


"Iya Annisa, nanti perutmu kembung kalau gak makan nasi" ujar Umi Hani yang sudah paham dengan perut putri sambungnya itu.


"Aku gak selera untuk makan nasi lagi" ucap Annisa.


"Sedikit aja, yuk!" Shaka pun membantu Annisa untuk berdiri dari tempat duduknya. Setelah berpamitan kepada para orang tua di ruangan itu. Shaka pun membawa Annisa ke ruang makan di rumah itu.


"Itu banyak banget, aku gak akan habis" ujar Annisa melihat piring yang di letakkan Shaka di depannya.


"Aku juga belum makan dari tadi siang." Shaka mengusap kepala Annisa sembari mendudukkan tubuhnya. Ia juga tak berselera makan dari tadi karena kesal dengan Annisa yang membuatnya malu.


Annisa pun terdiam sambil memperhatikan wajah Shaka yang yang tampan itu. Tampan sekali wajah suaminya itu, duh! membuat Annisa klepek klepek aja. Seperti ada yang memerintah, Annisa pun tiba tiba memeluk tubuh Shaka dari samping.


"Suapin" manja Annisa dengan kepala mendongak ke arah Shaka.


Cup!


Shaka mengulas senyumnya setelah menjatuhkan satu kecupan di bibir gadis berwajah manis dan cantik miliknya itu.

__ADS_1


Ehem!


Suara deheman itu sontak membuat pelukan Annisa lepas dari tubuh Shaka dan pandangannya dan Shaka juga langsung tertuju ke arah wanita cantik yang berdiri di ujung meja makan.


"Mesra mesraannya di dalam kamar. Di sini banyak anak anak, jangan sampai mata mereka ternodai oleh kalian" tergur Yasmin yang baru masuk ke ruang makan itu.


"Nanti juga Kak Yasmin akan merasakan menjadi pengantin baru. Lagian kami gak ngapa ngapain juga, cuma cium dikit aja" cetus Annisa melakukan pembelaan.


Sedangkan Shaka hanya bisa diam sambil menggaruk leher belakangnya, salah tingkah. Tingkah istrinya itu sih menggemaskan, membaut Shaka tadi tidak tahan untuk tidak mengecup bibirnya.


"Awalnya dikit dikit, lama lama jadi bukit" balas Yasmin mencibir, melangkahkan kakinya berlalu ke arah dapur rumah itu.


"Shaka, kita makan di kamarku aja yuk!" ajak Annisa wajahnya masih tampak kesal.


"Kita makan di sini aja, ayo buka mulutnya." Shaka pun menyuapkan nasi beserta lauk ke mulut Annisa dengan menggunakan tangannya sendiri.


"Seharusnya tadi kita makan di rumah kita aja, baru berangkat kesini" ucap Annisa. Sekarang merasa lebih nyaman di rumah mereka dari pada di rumah orang tuanya sendiri.


Bagaimana tidak nyaman, Shaka selalu baik dan perhatian padanya. Sedangkan di rumah orang tuanya, semenjak Ayahnya memiliki istri dan baby lagi, Annisa sudah tidak begitu di perhatikan lagi, karena Ayahnya sibuk dengan istri dan anaknya yang baru lahir. Sehingga rumah itu bukan tempat ternyaman untuknya lagi. Dan kini Shaka lah yang menjadi rumah ternyaman nya.


"Nanti setelah acara lamaran Kak Yasmin, kita akan kembali makan di rumah kita" balas Shaka mengembangkan senyumnya sampai menampakkan giginya yang berjejer rapi. Shaka senang, Annisa sudah nyaman hidup bersamanya.


Yasmin yang mendengarnya, terdiam sejenak lalu menghela napasnya pelan. Yasmin berpikir, semenjak kedua orang tua mereka bercerai, sudah tidak ada lagi kebahagiaan di dalam hidupnya dan Annisa. Selama ini mereka hanya berpura pura baik baik saja, padahal sebenarnya tidak. Tapi bagaimana lagi, takdir mengakhiri pernikahan kedua orang tua mereka, dan harus di gantikan wanita lain di sisi Ayah mereka.


'Semoga nanti Furqon sangat menyayangiku, perhatian padaku. Dan tidak ada kata cerai di antara kami berdua' batin Yasmin yang hatinya terluka semenjak perceraian kedua orang tuanya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2