
Malam ini sangat indah, bukan hanya membawanya ke Bulan, Shaka juga membawa Annisa memetik bintang satu persatu sebagai hadiah bukti cinta untuknya. Wajah Annisa berbinar menerima semua bintang itu, terlalu indah dan berharga. Shaka memberikan segalanya untuknya. Annisa terbuai sampai tak sadar kakinya menginjak sesuatu yang rapuh, membuatnya terjatuh dan melayang dari langit ke tujuh.
"Aaa!!!"
Annisa berteriak dengan mata terpejam. Tubuhnya bergetar, tangisnya pecah saat merasakan tubuhnya terjatuh ke sebuah jurang. Perlahan Annisa membuka mata, ternyata dia tidak terjatuh ke jurang. Melainkan ke taman surga yang begitu indah. Perlahan Annisa kembali tersenyum, melihat banyaknya bunga bunga di sekitarnya, hamparan rumput hijau luas membentang, di hiasi dengan kupi kupu yang beterbangan menghiasi taman itu.
Ini sangat indah.
Annisa kembali memejamkan matanya dengan bibir tersenyum indah. Menikmati aroma bunga bunga yang berhasil menghipnotisnya, membuat kesadarannya hilang kembali.
**
"Annisa, ayo bangun, sudah pagi."
Mendengar suara Shaka membangunkannya, Annisa langsung membuka mata. Pandangannya langsung terkunci saat bertubrukan dengan bola mata indah Shaka yang tepat berada di depannya.
"Ada apa? Hm!"tanya Shaka lembut melihat Annisa menatapnya tak berkedip.
"Apa tadi malam kita sudah jadi ke Bulan?."
Shaka mengulas senyumnya lalu terkekeh mendengar pertanyaan konyol Annisa barusan. Begitu rasanya terasa nyata, apakah istrinya itu masih merasa kalau kenyataan tadi malam itu hanya mimpi!,
"Coba lihat" ucap Shaka.
Dengan bodohnya, Annisa pun membuka sedikit selimut yang menutup tubuh mereka. Ternyata Shaka tidak pakai baju, sedangkan tubuhnya sudah berganti pakaian. Namun kali ini pakaian yang dikenakan Annisa berbeda. Annisa tidak pernah memakai pakaian kurang bahan sebelumnya.
"Kapan aku membeli pakaian seperti ini?." Annisa mendudukkan tubuhnya untuk memastikan pakaian yang dikenakannya. Annisa tidak punya pakaian seperti itu sama sekali, tapi kenapa pakaian itu bisa menempel di tubuhnya. Ya, jelas Shaka lah yang mengenakan itu ke tubuhnya tadi malam.
Selama ini meski Shaka halal melihat tubuhnya, tapi Annisa tidak pernah berpakaian seksi seperti itu. Sudah bajunya pendek, bahunya dan dadanya kelihatan, tipis lagi dan yang lebih parah. Saat ini Annisa tidak memakai dalaman. Menyadari itu, Annisa langsung menarik selimut untuk menutup tubuhnya kembali. Annisa mendadak malu, padahal tadi malam, bukan hanya melihatnya saja, tapi Shaka sudah menikmati seluruh tubuhnya.
Shaka pun terkekeh melihat tingkah menggemaskan Annisa. Bukankah tadi malam istrinya itu dengan senang hati menyambut sentuhannya, bahkan Annisa lupa untuk malu. Tapi kenapa sekarang istrinya baru ingat untuk malu?.
"Gemesin banget sih kamu." Shaka membingkai wajah Annisa yang merona, lalu mengecup ngecup singkat bibir manis itu.
__ADS_1
"Malu" manja Annisa, memeluk Shaka yang duduk di sampingnya dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
Meski dulu setiap malam tidur bersama, tapi tadi malam untuk pertama kalinya Shaka melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun, wajar saja jika Annisa malu.
"Trimakasih ya, sudah menyerahkannya dengan ikhlas" ucap Shaka, kemudian mengecup mesra kening Annisa.
Annisa menganggukkan, kedua tangannya pun semakin erat melingkar di pinggang Shaka. Bukan hanya ikhlas, bahkan Annisa dengan senang hati menyerahkan tubuhnya pada Shaka. Suami yang di cintainya segenap jiwa dan raganya.
"Kamu selalu berhasil membuatku semakin jatuh cinta, Annisa. Bagaimana aku gak gila kalau tidak ada kamu?." Apa lagi setelah percintaan semalam, Shaka semakin mencintai Annisa beribu ribu kali lipat dari yang sebelumnya.
"Aku juga semakin jatuh cinta sama kamu, Shaka."Annisa mendongakkan wajahnya ke arah Shaka dengan wajah berbinar. Tentu Annisa juga sama seperti Shaka. Semakin jatuh cinta setelah apa yang mereka lakukan tadi malam. Menyatukan cinta jiwa dan raga mereka, melebur menjadi satu.
"Mandi yuk!" aja Shaka, mendengar adzan subuh sudah berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari rumah mereka. Mereka harus segera mandi sebelum waktu subuh habis.
Annisa mengangguk, Shaka pun memindahkan tubuhnya ke atas pangkuan pria itu, lalu membawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai shalat subuh, Shaka langsung bersiap siap untuk pergi ke kampus. Sedangkan Annisa memilih untuk membereskan kasur mereka yang berantakan.
"Shaka!" panggil Annisa tiba tiba.
"Lihat ini, ada warna merah." Bibir Annisa mengerucut namun wajahnya terlihat berbinar cerah.
Sambil merapi rapikan rambutnya dengan minyak rambut, Shaka melangkahkan kakinya mendekati Annisa.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di pipi Annisa saat tangan kekar Shaka berhasil melingkar di pinggangnya." Itu tandanya sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya, Annisa. Kamu bukan lagi gadis, tapi sudah menjadi wanita. Mudah mudahan sebentar lagi kamu menjadi seorang Ibu." Shaka berbicara sembari mengusap lembut perut Annisa. Berharap mereka cepat dikaruniai seorang anak.
"Amin!"ucap Annisa menyentuh tangan Shaka yang melingkar di perutnya." Tapi kalau aku gak hamil hamil jangan nikah lagi ya. Aku gak mau di madu."
"
Cup!
__ADS_1
Satu kecupan pun mendarat di pipi Annisa, kemudian Shaka melepas pelukannya dari tubuh istrinya itu."Kamu bicara apa sih, istriku? Hm!."
"Aku khawatir gak bisa hamil." Pandangan Annisa meneduh. Mengingat sebelah indung telurnya sudah di ambil.
"Insya Allah, bisa. Tidak ada yang sulit bagi Allah jika dia ingin mengkehendaki. Aku gak suka kamu membahas itu." Shaka pun melepas pelukannya, kemudian membereskan kasur mereka yang berantakan.
Setelah selesai, mereka keluar kamar untuk turun ke lantai bawah, karena sebentar lagi Shaka harus berangkat ke kampus.
"Tunggu di sini aja, biar aku jemput sarapan untuk kita" ujar Shaka dan langsung melangkahkan kakinya keluar rumah.
Sedangkan Annisa mendudukkan tubuhnya di sofa. Wajahnya terlihat murung dan tidak semangat. Kepikiran dengan kondisi tubuhnya yang sekarang.
**
Shaka yang baru sampai di kampus. Setelah memarkirkan motornya langsung melangkah ke arah kelas. Namun lagi lagi langkahnya harus terhenti karena seorang gadis yang hoby mengepang dua rambutnya menghalangi jalannya.
Gadis bernama Indri itu melangkahkan kakinya mendekati Shaka, dan berhenti tepat di depan Shaka dan menatap wajah pria itu dengan intens.
"Shaka, aku hanya ingin menjadi teman mu" ucap Indri tanpa melepas netranya dari wajah Shaka.
"Oh ya? Setelah menyuruh saudara mu menghancurkan usahaku?." Shaka memutar bola mata malas. Meski Shaka yang dulu sudah kembali, tapi itu hanya berlaku untuk Annisa saja, tidak untuk orang lain. Diluar, Shaka masih menjadi pria yang dingin, tidak tersentuh sama sekali.
Kalau memang Indri hanya ingin berteman dengannya, gak perlu juga Indri harus setiap hari mengemis padanya. Dan juga orang hanya berteman, tidak harus nempel setiap hari, bukan?.
"Aku gak menyuruhnya, sungguh!" Indri meneduhkan pandangannya, supaya Shaka percaya padanya.
"Menyingkir!" Shaka mendorong tubuh Indri ke samping dan langsung melangkah masuk ke dalam kelasnya.
Katakanlah Shaka kejam terhadap perempuan. Siapa pun orangnya kalau dipepet trus pasti lama lama muak.
'Awas kamu Shaka. Kalau kamu masih menolak ku trus, aku akan melaporkanmu ke pihak kampus, Kalau kamu pernah melakukan pelecehan terhadapku.'
Indri membatin dengan rahang mengeraskan sembari memperhatikan punggung Shaka yang menghilang di balik pintu.
__ADS_1
*Bersambung