Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Kasmaran


__ADS_3

Dari tadi Annisa terus memandangi wajahnya di kaca cermin meja rias. Senyum senyum sendiri tidak jelas sembari mengelus elus bercak merah kebiruan di lehernya, seperti orang kasmaran. Tadi malam Shaka sangat hebat, Annisa mengagumi itu dan ingin mengulang nya lagi, tapi Shaka dari tadi pagi belum pulang ke rumah.


'Shaka, cepat pulang!' begitulah teriakan hati Annisa saat ini. Rindu Shaka, ingin memeluk pria itu.


Saat mengingat sesuatu, Annisa pun mengerutkan keningnya.


'Shaka dapat baju kurang bahan itu dari mana ya?. Perasaan aku gak pernah beli baju kaya gitu. Apa Mama atau Salwa yang beli?. Ya ampun, apa segitunya mereka menginginkan aku hamil?' batin Annis.


Padahal tadi pagi Annisa ingin menanyakan soal baju itu tadi pagi, tapi Annisa lupa.


Brumm!


Mendengar suara deru motor parkir di depan rumah, Annisa langsung tersadar dari lamunannya. Annisa langsung beranjak dari kursi meja rias, berlari keluar kamar untuk menyambut Shaka ke depan pintu.


Namun belum sempat Annisa sampai di pintu, Shaka sudah masuk lebih dulu. Annisa pun berlari langsung menghambur memeluk Shaka.


"Ada apa? Hm!" tanya Shaka lembut lalu mengecup kening istrinya itu sembari membalas pelukan Annisa.


Annisa menggelengkan kepalanya di dada Shaka. Annisa kangen, tapi Annisa malu mengatakannya.


Shaka pun melepas pelukannya dari tubuh Annisa, mengangkat kedua tangannya untuk membingkai wajah gadis manis itu, lalu mengecupi kening, kedua pipi, hidung dan dagu Annisa.


"Katakan, sayang, kalau kamu merindukan ku" Shaka berkata tepat di bibir manis Annisa.


Wajah Annisa merona, dia malu. Entah kenapa Annisa mendadak menjadi pemalu sekarang. Biasanya tidak seperti itu.


Shaka pun menurunkan sedikit tubuhnya, supaya bisa meraih bokong Annisa untuk menaikkannya ke gendongannya. Shaka melangkahkan kakinya, membawa gadis itu menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Nanti malam aja ya" ucap Shaka mengerti melihat kemanjaan Annisa yang tidak biasa. Annisa diam dan malah menyembunyikan wajahnya di dada Shaka.


Sampai di dalam kamar, Shaka pun mendudukkan tubuhnya di sofa kamar itu, dengan membiarkan Annisa tetap berada di pangkuannya. Shaka mengulas senyum, melihat Annisa merias wajahnya, sangat terlihat cantik. Pakaian Annisa juga terlihat berbeda, memakai dress selutut, leher baju berbentuk V sampai menampakkan belahan dadanya, lengannya juga pendek. Annisa juga menggerai rambut panjangnya.

__ADS_1


Hm! Shaka baru menyadari itu setelah mereka sampai di kamar. Tentu Shaka senang di suguhkan dengan pemandangan seperti itu saat ia pulang kerja. Melihat istri cantik begitu rasa lelah Shaka langsung menguap.


"Kapan beli baju seperti ini" tanya Shaka mengulum senyum.


"Aku nemu di lemari" jawab Annisa tersenyum, berpikir kalau Shaka lah yang membeli baju itu untuknya.


"Kamu terlihat sangat cantik memakai baju seperti ini." Tidak munafik, tentu Shaka lebih suka melihat Annisa berpakaian terbuka. Kecantikannya lebih terpancar. Tapi kembali lagi pada ajaran Agama. Wanita harus menutup auratnya jika keluar rumah, atau di depan laki laki yang bukan mahram.


"Tapi jangan keluar rumah ya kalau memakai baju seperti ini" nasehat Shaka. Annisa adalah perhiasan Dunia nya. Hanya dia yang boleh menikmati indahnya kecantikan istrinya itu.


Annisa mengangguk, dia juga tidak akan berani keluar dengan memakai baju pendek seperti itu.


Shaka pun mengangkat satu tangannya untuk merapikan rambut Annisa yang berantakan ke depan, menyelipkannya ke belakang telinga. Shaka tersenyum melihat warna merah kebiruan di leher Annisa. Shaka bangga dengan dirinya sendiri, meski tadi malam yang pertama kali, tapi Shaka berhasil menciptakan tanda kepemilikan di sebagian tubuh Annisa.


"Sakit?" tanya Shaka menyentuh maha karyanya itu.


Annisa menggeleng, ya memang gak sakit. Annisa pun seketika teringat dengan baju pemersatu bangsa yang dipakainya saat terbangun tidur. Di lemari juga masih ada stoknya, sepertinya Shaka ingin menyuruhnya memakai baju seperti itu setiap malam.


"Baju yang tadi pagi sama yang ini, kamu yang beliin?" tanya Annisa memastikan. Annisa tidak menyangka jika pikiran Shaka sampai sejauh itu. Membeli pakaian khusus menggoda suami, dan dress untuk di pakai di rumah.


Setiap laki laki berbeda beda memang selera terhadap perempuan. Tapi itulah Shaka, setelah terbebas dari janjinya, Shaka ingin Annisa berpakaian lebih terbuka ketika di rumah.


Annisa mengulas senyum, merasa tidak masalah jika Shaka memintanya berpenampilan seperti itu. Shaka berhak atas dirinya, dan Annisa wajib menyenangkan hati suami. Yang terpenting kan suami siap memodali kalau ingin istri cantik!.


"Aku mandi dulu ya, biar kita pergi ke rumah Mama" ucap Shaka. Malam ini meraka akan tidur di rumah orang tua Shaka, sesuai permintaan Ibu Drabia.


Annisa pun turun dari pangkuan Shaka, dan Shaka segera berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Annisa tidak perlu mandi lagi, karena baru siap mandi.


Selagi menunggu Shaka selesai mandi, Annisa pun bersiap siap. Tinggal memakai rok dan blazer supaya baju yang terbuka tadi menjadi tertutup, kemudian Annisa memasang jilbab pasmina di kepalanya.


Setelah Shaka selesai mandi dan berpakaian, Mereka langsung berangkat ke rumah orang tua Shaka dengan menggunakan motor.

__ADS_1


Sampai di sana, Annisa dan Shaka langsung di sambut Ibu Drabia dan Salwa. Ibu Drabia langsung memeluk Shaka sembari menangis. Sudah lama sekali Shaka tidak menginjakkan kaki di rumah itu. Sampai Ibu Drabia sudah sangat merindukan kehadiran anaknya itu.


"Shaka minta maaf, Ma" ucap Shaka tidak tega melihat Ibunya menangisinya.


"Mama kangen sama kamu sayang. Sudah lama kamu tidak mengunjungi Mama" balas Ibu Drabia. Semenjak Annisa pergi, Shaka memang tidak pernah datang ke rumah itu, padahal Shaka sering lewat di depan rumah orang tuanya itu.


"Maafin Shaka, Ma" ucap Shaka sekali lagi. Kalau di tanya kangen, tentu Shaka juga kangen dengan wanita yang melahirkannya itu. Tapi bagaimana lagi, hatinya sedang marah selama ini.


Ibu Drabia pun melepas pelukannya dari tubuh Shaka, berpindah memeluk tubuh Annisa yang berdiri di samping Shaka.


"Mama juga kangen sama kamu, sayang" ucap Ibu Drabia mengecup kedua pipi menantunya itu.


"Annisa juga, Ma" balas Annisa. Kalau Ibu mertua sebaik dan sesayang itu, menantu mana pun pasti kangen pada Ibu mertuanya.


"Mama memasak makanan kesukaan kalian, ayo kita ke dapur." Ibu Drabia melepas pelukannya, kemudian menarik lengan Annisa berjalan ke arah dapur, di ikuti Salwa dan Shaka dari belakang.


Sampai di dapur, Ibu Drabia menarik kursi meja makan untuk Annisa dan membantu menantunya itu untuk duduk.


"Mama" tegur Annisa lembut, karena memperlakukannya seperti ratu.


"Gak apa apa, sayang. Duduklah biar Mama siapkan." Ibu Drabia mengulas senyumnya sembari mengusap lembut kepala Annisa, lantas melangkahkan kakinya ke arah dapur, tak lama kemudian kembali dengan membawa nampan berisi empat mangkok soto ayam.


"Mama yang masak sendiri?" tanya Annisa melihat semangkok soto ayam yang di letakkan Ibu Drabia di depannya. Ibunya itu memang sangat berbakat memasak, masakannya enak enak lagi.


"Iya, sayang. Mama sengaja memasaknya untuk kalian" jawab Ibu Drabia.


"Trimakasih, Ma" balas Annisa tersenyum, senang banget punya mertua baik hati.


"Ayo di makan, Shaka juga" ucap Ibu Drabia sembari mengusap lembut kepala Shaka dari belakang.


"Iya, Ma" balas Shaka langsung melahap makana di depannya.

__ADS_1


Sambil menikmati soto ayam dari mangkok masing masing, mereka sesekali mengobrol ringan. Tentu yang mereka bicarakan masalah sekolah. Terutama untuk Annisa dan Salwa yang akan melanjut ke tingkat yang lebih tinggi.


*Bersambung


__ADS_2