Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Tolong


__ADS_3

"Jadi bagaimana pernikahan kalian?, dibatalkan?" tanya Calix kepada Shaka.


"Aku belum tau, belum di bicarakan kembali. Dan juga, Annisa dan keluarganya masih dalam keadaan trauma dengan kebakaran itu. Gak enaklah jika harus membicarakannya sekarang" jawab Shaka lalu menghela napasnya. Ia harus terbangun dari mimpi indahnya menikah dengan Annisa karena kejadian itu.


"Ya mungkin belum waktunya kalian berjodoh. Lagian, kalian itu masih sama sama sekolah, kok bisa bisa kalian berpikir untuk menikah?. Apa gak tunggu kalian lulus sekolah dulu" ujar Calix lagi.


"Aku juga gak tau. Aku mencintai Annisa, aku ingin memilikinya, ingin bisa dekat dengannya tanpa khawatir akan berdosa" jawab Shaka.


"Itu Annisa bersama Hasna dan Salwa. Mau kemana mereka?, kelihatannya Annisa sedang sakit." Calix menunjuk ketiga gadis yang berjalan di teras sekolah itu dengan dagunya.


Shaka yang melihatnya, berdiri dari tempat duduknya, melangkah untuk mendekati Annisa, Salwa dan Hasna.


"Annisa kenapa?" tanya Shaka melihat Annisa di tuntun berjalan, dan wajahnya terlihat pucat.


"Sakit demam" jawab Salwa.


Tiba tiba


Brukk!


"Annisa!" seru Shaka, Hasna dan Salwa bersamaan, melihat Annisa tiba tiba pingsan, ambruh ke tubuh Salwa.


Shaka pun langsung menarik tubuh Annisa, dan langsung mengangkatnya. Namun saat melangkah, Shaka merasa kesusahan membawa Annisa.


"Ya Allah, tubuhnya berat banget, tolong" ucap Shaka.


Tubuh Annisa lebih besar dari tubuh Shaka, sudah tinggi, berisi lagi. Sedangkan Shaka, hanya tinggi saja, tapi kurang berotot. Wajar saja jika Shaka tidak mampu membawa tubuh Annisa ke ruang UKS.


"Gimana sih Shaka, masa menggendong tubuh Annisa kamu gak mampu" ujar Salwa. Buat malu aja saudaranya itu.


"Gak lihat nih, tubuhnya besar" balas Shaka kesal.


"Annisa kenapa?."


Hasna dan Salwa langsung menoleh ke arah salah satu pintu kelas yang terbuka. Mereka melihat Furqon berdiri di ambang pintu yang mereka lewati. Furqon keluar dari dalam kelas tempatnya mengajar, karena mendengar suara berisik di depan kelas, dan menyerukan nama Annisa.


"Annisa pingsan, Ustadz" jawab Hasna.

__ADS_1


Furqon yang melihat Shaka kesusahan membawa Annisa, langsung melangkahkan kakinya untuk membantunya. Tanpa permisi, Furqon langsung mengambil tubuh Annisa dari gendongan Shaka.


"Aku gak butuh bantuan, Ustadz. Aku masih bisa membawa calon istriku ke UKS" kesal Shaka menekan kata ' calon istri'. Shaka merasa harga dirinya terinjak injak, karena Furqon membantunya. Laki laki yang mencintai Annisa, dan juga di cintai Annisa, Shaka tau itu. Tapi Shaka tidak perduli, yang penting baginya, Annisa menjadi miliknya, soal cinta seiring berjalan waktu bisa tumbuh dengan sendirinya.


"Masih calon kan?. Dan juga kalau kamu memaksakan diri untuk menggendongnya ke UKS, bisa saja kamu menjatuhkan calon istrimu ini dari gendongan mu" balas Furqon dan segera berlalu membawa tubuh Annisa ke ruang UKS. Shaka, Hasna, Salwa dan Calix langsung mengikuti.


Sampai di ruang UKS, Furqon meletakkan tubuh Annisa dengan sangat hati hati di atas brankar tanpa melepas netra nya dari wajah Annisa.


'Annisa, meski beribu kali aku mengatakan ikhlas, tapi hati ini masih berharap bisa memiliki mu' batin Furqon.


Brank!


"Astaqfirullohal azim" ucap Furqon kaget mendengar debuman suara pintu ruangan itu.


"Ngapain Ustadz masih di sini ? Sana keluar" usir Shaka ketus, setelah membuka pintu ruang UKS itu dengan kasar.


"Shaka, kau itu gak ada sopan nya bicara ketus kepada Ustadz Furqon" tegur Salwa yang ikut menyusul masuk.


Shaka mendengus," Aku tau dia itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sok jadi pahlawan, padahal ingin berkesempatan untuk menyentuh tubuh Annisa."


"Astaqfirullohal azim" gumam Furqon menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, mendengar tuduhan Shaka padanya.


"Berprasangka buruk, akan membuat kita larut dalam perasaan cemas, gelisah dan tak tenang. karena membiarkan emosi negatif menguasai diri kita. Bisa membuat aura jiwa kita menjadi negatif. Sehingga semua orang akan terlihat seperti musuh dalam selimut, bermuka dua, penjahat, penghianat dan sebagainya. Su' uzon juga merupakan salah satu penyakit hati yang bisa merusak akhlak manusia. Dan su'uzon juga adalah salah satu perbuatan yang menimbulkan dosa besar" ujar Furqon panjang lebar, kemudian mengenal napasnya kasar.


"Kau sedang di landa rasa cemburu, sehingga kamu berpikir aku akan merebut Annisa dari kamu." Furqon menepuk pelan bahu Shaka yang terdiam, kemudian keluar dari ruangan itu.


Meski Mencintai Annisa, tapi Furqon masih ingat batasan berbuat sesuatu kepada seorang perempuan. Dan tadi, Furqon murni berniat untuk membantu, membawa Annisa ke ruang UKS, karena melihat Shaka kesusahan membawanya.


"Kau mempermalukan diri kamu sendiri" ujar Salwa kepada Shaka, lalu mendekati Annisa yang terbaring di atas brankar, untuk membangunkan Annisa yang sedang pingsan. Saat Salwa akan mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Annisa, tiba tiba Annisa berteriak meminta tolong.


"Tolong! tolong! tolong!" Annisa berteriak dengan mata terpejam.


"Annisa!" seru Shaka, Salwa, Hasna dan Calix bersamaan dan langsung mendekati Annisa.


"Annisa! kamu kenapa Annisa?. Bangun Annisa" panggil Shaka menggoyang sedikit lengan Annisa, namun Annisa sepertinya tidak mendengarnya.


"Tolong! ada api!. Tolong! aku takut!. Ayah! Umi! Mama!" teriak Annisa lagi menangis terisak.

__ADS_1


"Annisa!" panggil Shaka lagi.


"Tolooooong!" tangis Annisa lagi berteriak ketakutan.


Furqon yang berjalan belum jauh dari ruang UKS, langsung memutar tubuhnya dan berlari kembali masuk ke ruang UKS karena mendengar suara Annisa berteriak meminta tolong.


"Annisa kenapa?" tanya Furqon, wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Gak tau Ustadz, tiba tiba Annisa berteriak saat aku akan mengoleskan minyak kayu putih ke hidungnya" jawab Salwa.


"Ayah!, tolong Annisa!" teriak Annisa lagi.


'Ya Allah, apa dia mengalami trauma dengan kebakaran itu?' batin Furqon melihat Annisa berteriak meminta tolong di alam bawah sadarnya.


Furqon pun melangkahkan kakinya mendekati brankar, dan mendudukkan tubuhnya di pinggir brankar itu. Kemudian Furqon meletakkan tangannya di kening Annisa yang dilapisi kain jilbabnya.


"Ayah! tolong Annisa Ayah!" tangis Annisa lagi.


"Annisa" panggil Furqon dengan suara lembutnya.


"Annisa takut, Yah!."


"Annisa" panggil Furqon lagi.


"Tolong Annisa Yaaaah!"


"Annisa, istiqfar Annisa!" Furqon mengencangkan sedikit suaranya. Berhasil membuat Annisa berhenti berteriak, meski masih menangis terisak dan ketakutan.


Furqon pun memejamkan matanya. Setelah beristigfar dan mengucap salawat. Furqon pun membacakan Alfatihah menghadiahkannya kepada Annisa, kemudian Furqon membacakan surah An naba. Surah, bagi siapa yang membacanya dan mengamalkannya, akan mendapat syafaat di hari kiamat. Mendapatkan kebahagiaan, bagi yang membaca dan mendengarkannya. Terhindar dari perbuatan syirik, dan dapat memenangkan suatu perkara.


Annisa mulai terlihat tenang dan berhenti menangis, saat Furqon membacakan ayat ayat suci Alqur'an itu.


'Suara siapa itu!. Kok seperti suara Ustadz Furqon?' batin Annisa yang mulai sadar dari pingsannya. Keningnya pun terlihat mengerut, merasakan sesuatu menempel di keningnya. Tanpa membuka matanya, Annisa pun mengangkat satu tangannya untuk menyentuh sesuatu yang menempel di keningnya.


"Annisa!" Panggil Salwa, Hasan dan Shaka bersamaan, melihat Annisa mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Furqon yang menempel di keningnya.


Berhasil membuat Annisa dan Furqon sama sama membuka mata. Dan tak sengaja pandangan mereka bertubrukan dan saling mengunci.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2