Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Keputusan yang benar


__ADS_3

"Kalian masih sekolah, tapi dia sudah ingin melamar mu!."


'Jadi Ayah marah gara gara Shaka melamarku?' batin Annisa dalam tangisnya.


Tadi Annisa pikir Ayahnya marah karena mengetahui kalau dia menyukai Furqon, dan mengganggu Furqon di sekolah. Ternyata oh ternyata.


"Kan Shaka yang ingin melamar Annisa, kenapa Ayah marahnya sama Annisa. Annisa aja gak tau kalau Shaka melamar Annisa pada Ayah" jawab Annisa menangis sambil menghapus air matanya.


"Ayah marah bukan karena itu aja Annisa!. Tadi apa kamu bilang. Kamu menyukai Furqon?. Kamu tidak sengaja jatuh cinta kepada Furqon!. Laki laki mana sebenarnya yang kamu pergauli ?. Shaka atau Furqon ?. Ya Allah Annisa!." Ustadz Bilal menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya kasar." Semenjak kapan kamu mulai pacaran?. Kamu tau kan kalau pacaran itu berdosa?. Kenapa masih kamu lakuin Annisa?. Percuma Ayah ceramah ke sana ke mari. Ternyata Ayah sendiri gagal mendidik putri Ayah!" oceh Ustadz Bilal panjang lebar sambil menangis.


"Tapi Ayah, Annisa gak pacaran sama siapa pun" sangkal Annisa.


"Gak pacaran kamu bilang?. Hasna bilang kamu dan Shaka jadian semalam. Dan pagi tadi, Shaka menemui Ayah, dia ingin melamar kamu Annisa!, padahal kalian masih sekolah. Dan apa kamu benar menjalin hubungan juga dengan Furqon. Ya Allah, Nak!."


Annisa menundukkan kepalanya, tidak bisa menjawab rentetan pertanyaan bertubi tubi Ayahnya.


"Kalau kamu memang mau menikah. Baiklah! Ayah akan menikahkan kamu. Biar tanggung jawab Ayah lepas mendidik kamu. Katakan, Nak!. Kamu ingin di nikahkan dengan siapa?. Shaka atau Furqon?."


Dug dug dug !


Jantung Annisa langsung berdegup sangat sangat kencang mendengar Ustadz Bilal akan menikahkannya. Benarkah itu ?. Dan kenapa Ayahnya menyuruhnya memilih Shaka atau Furqon?. Bukan kah Furqon sudah di jodohkan dengan Kakaknya, Yasmin?.


"Abang! ada apa?, kenapa memarahi Annisa sampai membawanya ke kamar mandi?" tanya Umi Hani yang baru datang dan langsung mendekati Annisa yang sudah basah kuyup.


"Iya Bilal, kenapa kamu memarahinya seperti itu?" tanya Aqeela yang datang bersama Umi Hani.


"Annisa menjalin hubungan dengan dua orang pria sekaligus" jawab Ustadz Bilal.


Aqeela langsung mengarahkan pandangannya ke arah Annisa yang sibuk menghapus air matanya yang tidak mau berhenti keluar.


"Annisa!" panggil Aqeela.


"Annisa gak berpacaran, Ma. Shaka hanya mengungkapkan perasaannya sama Annisa" jelas Annisa semakin menangis terisak sampai cigukan.

__ADS_1


"Tapi kata Hasna dan Salwa kamu dan Shaka semalam jadian Annisa!. Apa itu gak pacaran namanya?" gemas Ustadz Bilal." Dan kamu juga menjalin hubungan dengan Furqon" ucap Ustadz Bilal lagi.


"Apa?" kaget Aqeela yang sudah berdiri di samping Annisa.


"Annisa, jatuh cinta dengan Furqon. Dia sendiri yang mengatakannya tadi" jelas Ustadz Bilal.


Aqeela kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Annisa. Ternyata itu alasan Annisa ingin pindah sekolah, dan ingin ikut tinggal bersamanya.


"Annisa, apa itu benar sayang?" tanya Aqeela kepada putrinya itu.


"Annisa minta Maaf, Ma. Tapi Annisa udah gak jatuh cinta lagi kok sama Ustadz Furqon" dusta Annisa dengan air mata yang mengalir semakin deras. Jelas sekali kalau dia sedang berbohong.


Aqeela pun menarik Annisa ke dalam pelukannya, kemudian mengecup ujung kepala putrinya itu.


"Annisa hanya jatuh cinta. Kenapa kamu menghukumnya?. Annisa pasti tau batasan batasan jatuh cinta dengan lawan jenis. Aku yakin dia tidak akan berani melakukan kontak fisik dengan pria lain. Tapi kamu memarahinya seolah olah Annisa sudah melakukan dosa besar" ucap Aqeela kepada Ustadz Bilal. Tidak terima putrinya itu dimarahi tanpa alasan yang pasti.


"Seharusnya kamu bertanya baik baik dulu. Dengarkan penjelasannya, ada apa sebenarnya" lanjut Aqeela terdengar kesal.


"Astaqfirullohal 'azim!" gumam Ustadz Bilal mengusap kasar wajahnya dengan satu telapak tangannya.


"Maafin Ayah" Bilal mendekati Annisa dan Aqeela." Ayah terlalu khawatir, Ayah khawatir kalau putri Ayah sampai salah pergaulan." Ustadz Bilal menarik Annisa dari pelukan Aqeela, lalu memeluk putrinya itu."Kamu adalah harta Ayah yang sangat berarti bagi hidup Ayah. Kamu adalah kebahagiaan Ayah. Ayah gak mau sampai terjadi hal hal yang buruk kepada putri Ayah" ucap Bilal menangis."Maafin Ayah."


Annisa menggelengkan kepalanya di pelukan Ustadz Bilal. Ayahnya tidak salah, yang salah itu hatinya yang tidak bisa menerima kenyataan, kalau Furqon tidak bisa menjadi miliknya. Furqon sudah di jodohkan dengan Yasmin.


"Ayah gak salah" lirih Annisa dalam tangisnya.


"Ssstt!" Ustadz Bilal mengusap usap kepala Annisa, lalu menuntun putrinya itu keluar dari kamar mandi. Di ikuti Aqeela dan Umi Hani dari belakang. Setelah mendudukkan Annisa di atas sofa, Ustadz Bilal pun keluar dari kamar Annisa, supaya Annisa mengganti pakaiannya yang basah.


"Sssttt! putri Mama" ucap Aqeela menarik Annisa kembali ke dalam pelukannya, setelah mendudukkan tubuhnya di samping Annisa. Sedangkan Umi Hani, ia mengambil pakaian di lemari untuk Annisa.


"Annisa gak tau kalau Ustadz Furqon sudah di jodohkan dengan Kak Yasmi, Ma. Annisa juga gak menjalin hubungan dengan Ustadz Furqon, Ma" Isak tangis Annisa di dalam pelukan Aqeela.


"Mama mengerti sayang. Sssstt! jangan menangis lagi ya!" bujuk Aqeela sambil mengusap usap punggung Annisa dari belakang."Ayah mu hanya terlalu mengkhawatirkan mu, sayang. Dia tidak bermaksud menyakitimu."

__ADS_1


"Annisa, ayo ganti bajunya dulu, nanti kamu masuk angin." Umi Hani pun meletakkan baju yang baru di ambilnya dari lemari di samping Annisa.


**


Ustadz Bilal yang sudah berada di dalam kamarnya, mengeluarkan handphonnya dari saku celananya, dan langsung melakukan panggilan kepada nomor seseorang.


"Assalamu alaikum Ustadz!" sapa seorang pria langsung dari sebrang telepon setelah sambungan teleponnya tersambung.


"Walaikum salam" balas Ustadz Bilal.


"Ada apa gerangan Ustadz menghubungi saya?" tanya pria itu terdengar suaranya begitu bersahabat.


"Ada hal yang ingin saya bicarakan Ustad Munzir, soal anak anak kita" jawab Ustadz Bilal lalu menghela napasnya dalam dan panjang.


Ustadz Munzir yang berada di balik telepon, terdiam dengan kening mengerut. Perasaannya menjadi tidak enak setelah mendengar helaan napas Ustadz Bilal.


"Sebelumnya saya minta maaf Ustadz. Sepertinya saya tidak bisa melanjutkan perjodohan anak anak kita" ujar Ustadz Bilal, kemudian menghela napasnya lagi.


"Kenapa seperti itu Ustadz?. Kita sudah lama loh menyepakati perjodohan ini. Bahkan anak anak kita sudah menyetujuinya, dan bahkan sudah siap menikah dalam waktu dekat." Tentu Ustadz Munzir begitu kaget dan penasaran mendengar Ustadz Bilal membatalkan perjodohan Yasmin dan Furqon.


"Hati putriku yang lain tersakiti dengan perjodohan itu. Jika aku melanjutkannya, sama saja aku melukai perasaan putriku yang lain" jelas Ustadz Bilal.


Ustadz Munzir pun terdiam, bingung dengan yang di ucapkan Ustadz Bilal.


"Sekali lagi saya minta maaf, Ustadz. Assalamu alaikum." Setelah mengucap salam, Ustadz Bilal pun mematikan sambungan teleponnya sepihak.


"Abang mengambil keputusan yang benar" ucap Umi Hani yang mendengar pembicaraan Ustadz Bilal dari tadi.


Ustadz Bilal menoleh ke arah Umi Hani yang sudah berdiri di sampingnya.


"Aku juga pernah merasakannya. Wanita yang kucintai di jodohkan dengan pria lain. Di posisi Annisa lebih rumit, dari pada yang ku alami dulu. Jika aku masih melanjutkan perjodohan Yasmin dan Furqon. Aku khawatir kedua putri saling bermusuhan."


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2