Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Sudah berani mengatur kita


__ADS_3

"Shaka, ayo kita pulang. Mama nya Calix marah, aku takut" bisik Annisa ke telinga Shaka.


"Mama nya Calix memang begitu, cerewet kaya kamu, sayang" balas Shaka berbisik ke telinga Annisa.


"Aduh! bagaimana ini ?. Sebentar lagi tamu undangan akan berdatangan" ucap Wanita itu terlihat panik sendiri.


"Ada apa sih sayang?."


Wanita itu mendekati suaminya yang berjalan ke arahnya.


"Ini loh Pa, minuman yang aku pesan, belum di siapkan di atas meja" adu wanita itu kepada suaminya.


Pria berusia 57 Tahun itu pun mengarahkan pandangannya ke arah Calix.


"Pa, Ma, sampai kapan kalian akan menganut budaya mengkonsumsi minuman memabukkan itu?. Itu bukan budaya Agama kita Pa, Ma" ujar Calix mencoba mengingatkan kedua orang tuanya yang buta Agama.


"Apa maksud kamu Calix?" tanya Wanita cantik berpakaian terbuka itu.


"Untuk perayaan ulang Tahun pernikahan Mama dan Papa Tahun ini. Tidak ada yang namanya khamr atau sejenisnya. Dan acara kali ini, Calix kita akan merayakannya dengan sukuran. Mengundang anak yatim dan anak anak kurang beruntung dari Panti asuhan. Dan akan di hibur dengan lagi lagu religi" jelas Calix.


Tahun ini, Calix memang menawarkan diri kepada orang tuanya untuk mempersiapkan acara ulang Tahun pernikahan kedua orang tuanya. Karena tak ingin lagi kedua orang tuanya merayakannya dengan berpesta miras.


"Maaf Om, Tante, saya mau bertanya kepada Om dan Tante. Tapi Tante dan Om jangan tersinggung ya" ucap Annisa dengan sangat hati hati dan sopan.


Kedua orang tua Calix pun langsung menoleh ke arah Annisa yang tersenyum manis kepada mereka.


"Ingin bertanya apa?" tanya Wanita yang biasa di panggil Nyonya Hajar itu.


"Emm! sebenarnya Agama Om sama Tante apa?" tanya Annisa bernada sedikit ragu. Takut kedua orang tua Calix tersinggung dan akhirnya marah. Soalnya yang di tanyakan itu adalah, hal yang paling sensitif dalam diri seseorang.


"Kami beragama Islam" jawab pria bernama Chandra itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap Annisa semakin melebarnya senyumnya.


"Iya, kami beragama Islam" jawab Nyonya Hajar sekali lagi.


"Om, Tante, bukan maksud saya untuk menggurui atau sok pintar apalagi sok alim. Tapi Om, Tante, sesama hamba Allah kita wajib saling mengingatkan." Annisa menjeda kalimatnya sebentar." Di dalam Islam, khamr, atau sejenis minuman yang memabukkan, hukumnya harap di konsumsi orang Islam."


"Kenapa haram?" tanya Nyonya Hajar.


"Karena alkohol lebih banyak menimbulkan mudharat dari pada manfaat. Meminum alkohol bisa menghilangkan kesadaran dan akal sehat. Seperti, berkendara dalam keadaan mabuk, bisa mengakibatkan kecelakaan. Sering mengkonsumsi alkohol bisa mengakibatkan penyakit jantung dan yang lainnya. Dalam keadaan mabuk, seseorang bisa melakukan hal hal yang buruk. Bisa menimbulkan perceraian karena terjadi perselingkuhan yang tidak di sengaja, dan masih banyak keburukan lain lagi yang di akibatkan karena meminum alkohol" jelas Annisa panjang lebar.


"Ada pun manfaat minum alkohol, bisa menghangatkan tubuh, meredakan nyeri pada tubuh, bisa menenangkan pikiran, mengobati penyakit jantung, struk dan diabetes. Tapi jika mengonsumsi berlebihan, resikonya malah bisa lebih tinggi memicu penyakit jantung, struk dan diabetes.Itu sebabnya alkohol itu di haramkan. Karena sudah jelas, resikonya lebih tinggi dari pada manfaatnya. Apa yang di larang Allah, pasti itu tidak baik untuk hamba hambanya, bukan hanya peraturan semata" tambah Annisa lagi.


"Dengar itu Ma, Pa. Kalau Calix yang mengatakannya, kalian gak percaya" ucap Calix yang diam mendengarkan tausiah Annisa barusan. Calix sudah sering melarang kedua orang tuanya untuk menghentikan budaya meminum alkohol, namun kedua orang tuanya tidak pernah mendengarkannya.


Pak Chandra mengulas senyumnya ke arah Annisa.


"Siapa nama kamu, Nak?."


"Trimakasih sudah membagi pengetahuannya pada kami" ucap Pak Chandra lagi.


"Sama sama, Om" balas Annisa.


Pak Chandra pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh ujung kepala Annisa. Namun Shaka langsung meletakkan telapak tangannya di atas kepala Annisa.


"Maaf, Om. Om gak boleh menyentuh istriku" ucap Shaka.


"Kenapa?, aku hanya ingin mengusap kepalanya sebagai bentuk rasa banggaku mendengar nasihatnya barusan. Bukankah istrimu juga teman Calix. Aku sudah menganggap kalian seperti anak anakku" Pak Chandra mengerutkan keningnya ke arah Shaka.


"Aduh Calix, tolong nanti jelaskan sama Om, kenapa dia tidak boleh menyentuh istriku" ujar Shaka kepada sahabatnya itu.


"Pa, Ma. Kalian cobalah untuk belajar Agama. Kalian sudah tidak muda lagi. Sampai kapan kalian hidup hanya memikirkan Dunia aja?. Kapan akan memilirkan akhirat kalian?" ucap Calix menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan meneduh.

__ADS_1


Pak Chandra dan Nyonya Hajar pun hanya bisa terdiam.


"Permisi Tuan, Nyonya, security yang berjaga di depan melaporkan, para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Dan rombongan para anak anak dari panti asuhan dan anak anak yatim sudah sampai di depan gerbang" lapor salah satu pembantu di rumah itu.


"Dari pada Mama malu melihat anak anak dari panti. Lebih baik Mama mengganti pakaian Mama dengan pakaian yang lebih tertutup lagi. Kalau perlu Mama itu memakai hijab. Malu sama umur, Ma" ujar Calix.


"Pa, anakmu itu sudah berani mengatur kita. Ya ampun, anak ini" gemas Nyonya Hajar melihat anaknya yang sudah mulai berani mengajarinya.


"Kita yang salah, Ma" ucap Pak Chandra. Wajahnya tampak malu di depan anak anak remaja itu.


Wajar saja dia tidak tau soal Agama nya. Karena Pak Chandra lahir dan besar di Negara yang minoritas muslim. Semenjak lahir, Ayah dari Calix itu juga tidak pernah mendapat pendidikan Agama. Selama ini dia hanya di tuntut orang tuanya belajar bisnis dan bisnis. Begitu juga dengan Nyonya Hajar, yang memiliki hidup penuh dengan misteri. Orang tuanya yang mengasuhnya dulu juga tidak begitu memberinya pendidikan Agama. Sehingga pikirannya tertutup untuk memikirkan yang namanya Agama.


"Huh! anak yang satu ini, bikin repot aja" cetus Nyonya Hajar, melangkahkan kakinya dengan sedikit menghentak hentak ke arah tangga rumah itu.


"Alhamdulillah" seru Shaka the gengs dengan serentak melihat Nyonya Hajar mau mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tertutup.


Dafi yang masih berdiri di dekat sound sistem dari tadi pun, mulai mengencangkan suara musik di ruangan itu dengan memutar lagu religi penyejuk hati. Dan tak lama kemudian, para tamu undangan pun mulai memasuki ruangan itu. Pak Chandra pun melangkahkan kakinya menyambut para tamu undangan yang berdatangan dengan wajah bingung dan heran mendengar musik dan melihat rombongan anak anak memakai baju muslim.


"Annisa, Hasna, ayo kesana, anak anak panti dan anak anak yatim sudah datang. Ayo kita sambut mereka" ajak Salwa menarik tangan Annisa dan Hasna bersamaan ke arah pintu masuk rumah itu.


"Wah! banyak juga anak anak yang di undang Calix" ujar Annisa melihat banyaknya rombongan anak anak yang masuk memenuhi ruangan lantai bawah rumah itu.


"Iya, Calix mengundang anak anak itu dari beberapa Panti asuhan" sambung Hasna.


"Dari melihat jumlahnya, sepertinya begitu" timpal Salwa.


'Bagaimana ya reaksi Annisa dan Hasna, kalau mereka tau, kalau aku ini bukan saudara kandung Shaka. Kalau aku ini sebenarnya senasib dengan anak anak panti itu' batin Salwa.


"Cek cek cek, halo!. Ehem! selamat malam semua! dan Assalamu Alaikum waroh matullohi wabarokatu" seru Shaka melalui mikrophon yang ada di tangannya.


" Walaikum salam waroh matullohi wabarokatu!" seru sebagian para tamu undangan yang sudah hadir.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2