Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Ngambek ngambekan


__ADS_3

"Seorang istri adalah pakaian bagi suami, begitu juga sebaliknya. Membicarakan aib atau kekurangan suami, sama halnya menelanjangi diri sendiri. Begitu juga dengan suami yang membicarakan kekurangan istrinya. Suami istri seharusnya sama sama menutupi kekurangan atau aib masing masing. Jangan membicarakannya kepada orang lain meski pun itu pada keluarga sendiri. Seperti yang sudah di sebutkan di dalam Alqur'an:


Mereka(istri istrimu) merupakan pakaian bagimu dan merupakan pakaian bagi mereka.(QS. Al baqoroh: 187)."


Begitulah Ustadz Bilal menasehati Annisa putrinya. Meski Annisa adalah gadis yang cerdas, pintar dan Soleha. Tapi Annisa belum memiliki kedewasaan yang penuh untuk memahami apa itu pernikahan, apa itu suami dan istri.Sehingga Annisa dan (kita semua para kaum istri) sering tanpa sadar melakukan kesalahan besar pada suami kita. Seperti yang sudah di lakukan Annisa, tanpa sadar membuat suaminya malu pada keluarganya.


"Apa yang harus Annisa lakukan, Yah?. Sepertinya Shaka marah pada Annisa" tanya Annisa sambil menghapus air matanya yang mengalir di pipinya.


"Minta maaf, sayang" jawab Ustadz Bilal, mengulurkan tangannya ikut menghapus lelehan bening di pipi putrinya itu.


"Kalau begitu, Annisa mau menemui Shaka, Yah." Annisa berdiri dari tempat duduknya."Annisa pergi dulu, assalamu alaikum."


Annisa langsung berlari keluar rumah. Dia akan pergi ke perusahaan dimana Shaka berkerja. Dia harus meminta maaf langsung kepada Shaka sekarang juga. Meski sebenarnya Annisa bisa minta maaf lewat telephon. Tapi lebih baik Annisa meminta maaf langsung pada Shaka.


Sampai di luar gerbang, Annisa pun memesan ojek On line. Annisa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Shaka. Setelah ojek pesanannya datang, Annisa langsung melaju di bawa tukang ojek itu.


Sampai di perusahaan Citra Indah milik keluarga Shaka. Annisa langsung turun dari boncengan tukang ojek itu, dan melangkahkan kakinya ke arah pos satpam perusahaan itu.


"Dek! ongkosnya mana" seru tukang ojek itu.


"Astaqfirullohal azim" gumam Annisa langsung berbalik badan dan mendekati tukang ojek itu kembali. Annisa pun membayar sesuai tarif yang sudah di tentukan." Trimakasih, Pak."


"Sama sama, Dek" balas supir gojek itu.


Annisa kembali melangkah ke arah pos satpam, untuk meminta ijin masuk ke dalam.


"Permisi, Pak" sahut Annisa kepada seorang satpam yang duduk di dalam pos, dengan mata merem melek menahan kantuk.


"Ya" balas Satpam itu kaget dan langsung menoleh ke arah Annisa yang mengintip dari lobang kaca itu.


"Pak, saya mau menemui Shaka, apa saya boleh masuk?" tanya Annisa. Ini pertama kalinya Annisa berkunjung ke perusahaan itu.


"Shaka? Maksudnya anak Pak Ansel?" tanya balik Satpam itu.

__ADS_1


"Iya, Pak. Shaka nya ada di dalam, kan?" tanya Annisa lagi.


"Barusan pergi, Dek" jawab Satpam itu.


Annisa pun terdiam dengan kening mengerut. Berpikir kemana Shaka pergi?, kenapa gak mengabarinya?.


"Kalau begitu trimakasih, Pak."


"Sama sama, Dek"


Annisa pun melangkahkan kakinya gontai menjauhi pos Satpam itu. Sebelum memesan taxi untuknya, Annisa memandang gedung perusahaan itu, berharap Shaka melihatnya dari salah satu kaca jendela perusahaan itu. Entah kenapa, Annisa merasa Shaka ada di dalam.


Tak ingin langsung kembali ke rumah orang tuanya. Annisa pun memilih untuk menghabiskan waktu sebentar di luar. Mungkin ia akan menunggu Shaka selesai bekerja. Baru nanti mereka akan sama sama pulang ke rumah orang tua Annisa.


Sampai di sebuah pusat perbelanjaan, Annisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall. Kesana Annisa tidak mempunyai tujuan, sehingga ia hanya ingin menghabiskan waktu untuk berjalan jalan saja. Setelah lelah Annisa mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku panjang yang tersedia di dalam mall. Annisa mencoba menghubungi Shaka. Mungkin Shaka sudah gak sibuk lagi. Namun nomor yang di hubungi tidak menerima panggilan telephonnya.


'Kemana dia? Apa Shaka sangat marah ya?' batin Annisa gelisah.


Berulang kali Annisa menghubungi no Shaka, namun pria itu tak juga menerima panggilannya. Berhasil membuat Annisa bersedih, khawatir dan merasa semakin bersalah. Annisa pun memutuskan mengirim pesan permintaan maaf kepada Shaka. Berharap Shaka membaca pesannya dan langsung menghubunginya.


Namun harapan itu sirna sampai sore sudah menyapa. Shaka tidak ada kabar dan tidak mau menerima panggilan telephonnya. Akhirnya Annisa pun meninggalkan mall itu, pulang sendiri ke rumah orang tuanya.


"Annisa, Shaka mana? kok gak ikut?" tanya Yasmin, yang berpapasan dengan Annisa di bawah tangga.


"Dia masih banyak kerjaan, katanya nanti dia nyusul" bohong Annisa, dengan wajah tak bersemangat.


Yasmin pun memperhatikan wajah Annisa. Jelas sekali di wajah Adiknya itu, kalau Annisa belum mendapat maaf dari Shaka. Namun Yasmin tak ingin bertanya lagi, supaya Annisa tidak bingung mencari kebohongan lagi.


"Oo!" akhirnya Yasmin ber O saja sambil mengangguk paham.


Annisa pun melangkahkan kakinya ke arah kamarnya di rumah itu. Kamar yang sudah di rindukannya beberapa Bulan ini.


Sampai di dalam kamar, Annisa mencoba menghubungi nomor Shaka lagi, namun tetap juga Shaka tidak menerima panggilan telephonnya.

__ADS_1


"Shaka" lirih Annisa perlahan menjatuhkan air matanya." Aku minta maaf, tadi aku gak bermaksud membuatmu malu. Memang uang kita lagi gak ada, dan kamu gajiannya masih lama katanya." Annisa bermonolog sambil menghapus air matanya.


Annisa pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, berbaring dengan posisi miring dan memeluk bantal gulingnya.


Sampai malam Hari, Shaka juga belum ada kabar. Membuat Annisa khawatir jika terjadi sesuatu pada Shaka. Sehingga Annisa menghubungi Salwa, saudara kembar Shaka.


"Assalamu alaikum, Salwa. Apa Shaka ada pulang ke sana?. Dari tadi Shaka gak mengangkat telephon ku. Tadi aku ke perusahaan, Shaka juga gak ada di sana" cerca Annisa langsung setelah Salwa menerima panggilan telephonnya.


"Tadi Shaka sama Papa ada meeting di luar perusahaan. Tapi jam dua siang Papa udah sampai di rumah kok" jawab Annisa.


"Lalu kemana Shaka pergi?" tanya Annisa.


"Gak tau, di rumah kalian kali" jawab Salwa.


Annisa pun berpikir," Ya udah, aku cek ke rumah dulu."


Annisa langsung mematikan sambungan telephonnya dan bergegas keluar kamar, berlari menuruni anak tangga kelantai bawah rumah itu.


"Annisa, kamu mau kemana?. Ayo makan malam."


Langkah Annisa langsung terhenti mendengar seruan Umi Hani yang baru keluar dari dalam kamar di lantai bawah rumah itu.


"Annisa mau mengecek Shaka ke rumah Umi. Assalamu alaikum." Annisa langsung berlari keluar rumah, supaya langkahnya tidak di halangi lagi.


Umi Hani pun menghela napasnya kasar, melihat masalah Annisa dan Shaka, ternyata belum terselesaikan. Umi Hani pun kembali masuk ke dalam kamar untuk menemui suaminya.


"Abang, sepertinya Annisa dan Shaka belum baikan" ucap Umi Hani pada Ustadz Bilal yang sibuk memberi baby Han susu botol, Karena susu praktis istrinya itu tidak mencukupi lagi untuk mengenyangkan perut baby Han lagi.


"Biarkan mereka belajar menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri. Kalau mereka sudah tidak menemukan titik terangnya. Baru kita boleh memberi mereka pengarahan" balas Ustadz Bilal, tak ingin ikut campur masalah rumah tangga putrinya itu.


Lagian masalah yang di hadapi Annisa dan Shaka masih masalah sederhana. Berantem dikit, ngambek ngambekan, itu biasa terjadi dalam rumah tangga.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2