
"Siapa yang melakukannya?." Pertanyaan itu keluar dari mulut Husen, saudara kembar Hasan.
"Aku gak tau" jawab Hasan.
"Aku pikir pasti kedua wanita yang menjadi saksi mata tadi." Gaia yang menjawab. Dia adalah Kakak sepupu Annisa, putri dari Pamannya bernama Arsenio.
"Aku pikir juga kedua wanita itu yang sudah bersekongkol" sambung Ayana. Dia adalah Kakak sepupu Annisa, putri dari Pamannya bernama Orion.
Umi Fadilah dan Abi Munzir sama sama menghela napas. Mereka menjadi malu kepada keluarga Ustadz Bilal jika benar Aisyah dan Hindun melakukan penjebakan terhadap Annisa dan Furqon.
"Tapi kita belum mempunyai bukti untuk menuduh mereka" ujar Umi Hani, khawatir akan menebarkan fitnah yang baru jika menuduh sebelum memiliki bukti.
Hasan yang sibuk di depan laptopnya, terus menelusuri semua rekaman cctv di rumah itu, mulai dari keluarga Furqon datang ke rumah itu. Pasti ada sesuatu yang bisa di temukan di sana sebagai bukti. Mungkin dari geram gerik seseorang yang mencurigakan bisa di ketahui dari sana.
"Dimana kedua wanita itu?" tanya Gaia. Memutar pandangannya mencari kedua wanita yang datang bersama keluarga Furqon itu.
Semuanya pun ikut mencari ke dua wanita itu yang entah sejak kapan menghilangnya.
**
Furqon menghentikan laju kendaraannya di depan rumah kedua orang tuanya. Furqon langsung turun dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Tanpa basa basi, Furqon masuk ke dalam kamar yang di tempati Aisyah dan Hindun untuk mencari sesuatu di kamar itu. Mungkin yang bisa di jadikan bukti, jika dirinya dan Annisa sengaja di jebak di dalam kamar mandi yang sama. Furqon tidak perlu ragu lagi, jika ketua wanita lah yang menjebaknya, dengan sengaja memasukkan sesuatu ke makanan atau minumannya dan Annisa.
Dan benar saja, saat menggeledah salah satu laci meja di kamar itu, Furqon menemukan sebuah bungkus obat. Obat itu sepertinya obat untuk diet, jika di konsumsi bisa mengakibatkan BAB secara berlebihan.
"Astaqfirullohal azim" gumam Furqon memejamkan matanya. Furqon tidak menyangka kedua wanita yang dianggapnya baik dan soleha, ternyata tega menjebaknya dengan cara yang begitu murahan. Pantas saja perutnya tadi tiba tiba terasa mules dan mencret.
Furqon segera keluar dari dalam kamar itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
**
Di tempat lain tepatnya di sebuah hotel. Hindun menarik lengan Aisyah masuk ke dalam salah satu kamar hotel.
"Setelah ini, kamu harus menjebak ku dan Furqon, Aisyah" ujar Hindun kepada Aisyah.
"Aku gak mau" tolak Aisyah. Wanita polos itu meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka jika Kakak iparnya itu sangat jahat.
"Kalau begitu, aku akan menjual mu di sini" ancam Hindun.
__ADS_1
Aisyah menggeleng gelengkan kepalanya.
"Setelah Kakakmu, aku menyukai Furqon Aisyah. Aku jatuh cinta padanya semenjak pertama kali melihatnya" ujar Hindun.
"Kak Hindun adalah seorang janda. Bagiamana bisa Kak Hindun mengharapkan cinta dari pria yang masih lajang?. Dan Kakak ku juga belum lama meninggal" balas Aisyah.
"Kakakmu sudah lama mati bagiku Aisyah. Dia hanya beban untukku selama dia sakit sakitan, dan kau juga."
Aisyah terdiam, semenjak Kakaknya sakit sakitan, Hindun lah selama ini yang bekerja keras untuk membiayai hidupnya dan Kakaknya.
"Bantu aku mendapatkan Furqon, supaya kita bisa tinggal di sini. Bukankah tinggal di Negara asalmu ini adalah impian terbesarmu?. Sekarang kita punya kesempatan itu. Di sini kamu juga bisa mencari keluarga dan kerabat Ayah dan Ibu mu."
Hindun pun memberikan sesuatu ke tangan Aisyah." Berikan ini ke minuman Furqon dan aku saat makan malam nanti."
Aisyah menggelengkan kepalanya. Meski tidak tau obat fungsi itu. Tapi Aisyah tau kalau obat itu tidak baik di konsumsi sembarangan.
"Ayo kita pulang." Hindun menarik kasar tangan Aisyah, membawa gadis itu keluar dari dalam hotel.
**
"Ya Allah, yang maha melihat dan mengetahui. Tunjukkan kebenaran kepada kami. Jangan biarkan kami keliru dengan apa yang tidak kami ketahui. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar, amin."
Ada aja masalah kepada kedua putrinya jika sudah bersangkutan dengan pria bernama Furqon. Seolah olah keluarga mereka tidak boleh menjalin hubungan lebih dekat lagi.
"Allah akan mengabulkan doa hambanya yang bersungguh sungguh meminta padanya."
Ustadz Bilal mengulas senyumnya, saat tangan wanita di sampingnya itu menghapus lelehan bening yang mengalir dari sudut matanya.
"Aku sangat takut kedua putri kita akan bermusuhan karena satu laki laki. Apa yang harus kulakukan?."
"Tidak akan, mereka saling menyayangi. Yasmin dan kita semua hanya salah paham. Pasti ada titik terangnya, jika kita tetap berusaha mencari tau ada apa sebenarnya" sanggah Umi Hani.
Dengan kejadian tadi, suaminya itu menjadi bersedih. Apa lagi melihat Yasmin marah pada Annisa.
"Apa kita batalkan saja ya rencana pernikahan Yasmin dan Furqon?." Ustadz Bilal baru berpikir, kalau Allah sedang memberi isyarat pada mereka kalau Yasmin bukan jodoh Furqon.
"Sudah dua kali kita menolak mereka, Bang. Tapi mereka masih berbesar hati ingin tetap berbesan pada kita. Bagaimana bisa Abang berfikir untuk membatalkan rencana pernikahan Yasmin dan Furqon?" tanya balik Umi Hani.
__ADS_1
Ustadz Bilal pun terdiam.
Umi Hani mengulas senyumnya sembari mengusap lembut dada suaminya itu.
"Abang pun pernah di tolak dua kali lamarannya" ucap Umi Hani, mengingat masa lalu mereka yang begitu manis dan takkan terlupakan sampai kapan pun.
Ustadz Bilal tersenyum matanya nampak berbinar mengingat kenangan manis mereka dulu di waktunya masih muda.
"Baiklah, aku setuju dengan mu."
"Sekarang, ayo kita ke rumah Annisa, kasihan dia. Jangan sampai dia pikir kalau kita sedang mengucilkannya saat ini" ajak Umi Hani.
"Ya sudah, tapi alangkah lebih baik, kamu ajak Yasmin juga. Kita sama sama kesana."
Ustadz Bilal pun berdiri dari atas sajadahnya. Setelah merapikan alat shalatnya, mereka sama sama keluar dari dalam kamar mereka.
Di ruang tamu, keluarga besar mereka masih berkumpul semua. Sedangkan Umi Fadilah dan Abi Munzir beserta rombongan keluarga mereka sudah pulang.
"Paman Ustadz, meski kita gak nemuin buktinya. Aku yakin kalau kedua wanita itu telah bersekongkol untuk menjebak Furqon dan Annisa" celetuk Ferel, Calix, Dada dan Dzaki pun mengangguk setuju.
Ustadz Bilal menghela napasnya. Ia juga berfikir seperti itu. Tapi tetap saja, menuduh tanpa bukti yang akurat itu, su'uzon namanya.
"Bagaimana kabar Annisa dan Shaka, mereka baik baik aja kan?" tanya Ustadz Bilal tak ingin menanggapi tuduhan keponakannya itu.
Ferel diam sebentar sebelum menjawab, Ferel berpikir apakah dia harus jujur atau bohong.
"Baik Paman Ustadz" jawab Ferel akhirnya.
**
Melihat jam sudah menunjukkan masuk waktu ashar. Annisa yang menangis dari tadi, menghentikan tangisnya dan turun dari atas sofa. Annisa melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah itu menuju kamarnya dan Shaka. Annisa ingin shalat, mukenanya berada di dalam kamar, sehingga terpaksa Annisa masuk ke dalam kamar itu, dimana Shaka sedang diam bersemedi di dalamnya.
Saat membuka pintu, Annisa langsung terdiam dan mengarahkan pandangannya ke arah Shaka yang berdiri tepat di depannya.
Tidak ada yang berbicara, kedua anak manusia itu saling mengunci pandangan dalam waktu yang cukup lama.
"Shaka"
__ADS_1
"Bersambung