
"Bolehkah aku minta segelas air hangat?" Sastra memulai pembicaraan untuk memecah keheningan.
"Ibuku sedang membuatkan minum, setelah siap akan kuambilkan, tunggu di sini sebentar." Bunga segera turun ke lantai bawah.
Setelah memastikan Bunga benar-benar turun, Sastra mengambil ponsel Bunga yang tergeletak di meja. Ia membukanya dan benar saja gadis itu tidak memakai kunci pengaman untuk ponselnya.
"Dasar ceroboh!" gumam Sastra sambil mengotak-atik ponsel Bunga.
Sastra mengetikkan nomornya dan disimpannya dengan nama My Man. Kemudian membuat panggilan dari ponsel Bunga ke ponsel miliknya, lalu disimpannya nomor kontak Bunga yang baru. Sastra juga menyelipkan mikro chip pelacak ke dalam ponsel Bunga.
Sastra hanya khawatir karena mengingat kondisi Bunga yang belum pulih sepenuhnya. Ia melakukan itu untuk berjaga-jaga jika ada hal darurat terjadi, dengan begitu Sastra bisa dengan mudah melacak di mana posisi Bunga berada.
Bunga membawakan teh madu hangat disusul Bu Marni dibelakangnya.
"Diminum Sas." Bunga menaruh gelas teh diatas meja dan juga sepiring pie apel yang baru keluar dari pemanggang.
__ADS_1
"Terima kasih." Sastra mengambil cangkir yang disajikan Bunga dan meminum tehnya.
"Tante, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan, itupun jika Tante berkenan dan mempunyai waktu luang," pinta Sastra.
"Memangnya ada apa Nak Sastra?" sahut Bu Marni.
"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan empat mata saja dengan Tante."
Bu Marni tampak tertegun sejenak dan mengerutkan keningnya. "Baiklah, mari kita bicara. Lia sayang, bisa tinggalkan kami berdua Nak?"
*****
"Jadi, sebenarnya apa yang ingin Nak Sastra bicarakan." Bu Marni menatap Sastra penuh tanya.
"Sebelumnya saya kesini ingin memohon maaf atas apa yang terjadi di masa lalu. Saya tahu permintaan maaf saya tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula, tapi izinkan saya untuk menebus semua kesalahan saya, tolong berikan saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya," mohonnya pada Bu Marni.
__ADS_1
"Kamu tahu? selama hampir dua tahun terakhir ini Bunga melalui waktu yang sangat sulit untuk bisa kembali normal seperti sekarang, walaupun saat ini dia belum pulih sepenuhnya. Tante sangat menghargai itikad baikmu, tetapi mengenai kesempatan, Tante tidak bisa memutuskan untuk memberikannya padamu atau tidak. Semuanya terserah Bunga, sebagai ibunya, Tante akan mendukung apapun keputusan Bunga," jawab Bu Marni dengan mantap.
"Dua tahun yang lalu kenapa Tante kabur membawa Bunga begitu saja? saya sangat kebingungan saat itu, rasa bersalah di hati saya semakin besar, saya mencari Bunga hampir seperti orang gila."
"Itu adalah keinginan Bunga untuk menjauh darimu. Kala itu kondisinya sangat memprihatinkan, dan kamu pasti ingat setiap kali melihatmu dia jadi histeris. Tante hanya ingin menebus kesalahan di masa lalu, sebagai seorang ibu Tante pernah membuat Bunga tertekan karena keinginan pribadi sendiri tanpa mempertimbangkan perasaannya." Bu Marni mengembuskan napasnya berat.
"Dulu, Tante sering menuntutnya untuk segera menikah dan mempunyai suami yang mapan melebihi orang lain karena terlalu terpengaruh dengan hujatan orang-orang di lingkungan sekitar dan juga sanak saudara. Bunga pribadi juga sering dikatai tidak laku oleh mereka, bahkan beberapa dari mereka mengatakan bahwa wajah cantiknya tidak berguna. Saat Bunga berpacaran denganmu Tante jadi makin terobsesi karena kamu kaya dan berkuasa. Tante selalu mendesak Bunga agar memintamu segera menikahinya tanpa memperdulikan apakah dia tertekan atau tidak dengan permintaan tersebut." Bu Marni meneteskan air matanya.
"Tante memang marah padamu, tapi yang terjadi pada Bunga tidak sepenuhnya salahmu karena Tante juga ikut andil di dalamnya, yang Tante harapkan sekarang adalah Bunga kembali sembuh normal dan selalu berbahagia."
Sastra merasa hatinya mencelos, ia kembali mengingat bagaimana kasarnya kata-katanya saat menolak untuk menikahi Bunga yang tengah hamil dulu.
Hatinya meringis perih. Pantas saja Bunga terguncang dengan hebat karena sejak sebelumnya Bunga sudah mempunyai masalah yang menyakiti mentalnya, sehingga ketika Sastra menambahkan beban berat itu jiwanya tidak mampu mengatasinya.
"Saya tidak akan menyerah pada Bunga. Saya akan selalu memperjuangkannya karena sangat mencintainya. Saya ingin Bunga selalu bahagia dan melihatnya tersenyum. Saat Bunga memilih pergi menjauh, saya merasakan ada yang hilang di dalam jiwa ini," tutur Sastra sarat akan ketulusan dalam setiap kalimatnya.
__ADS_1
"Berusahalah Nak, Tante tidak akan melarang ataupun mendukungmu, semua keputusan Tante serahkan pada Bunga. Jika memang sudah ditakdirkan, maka Tuhan akan menuntun kalian untuk bisa bersama."