
Di atas podium Sastra berusaha menyampaikan pidato sambutan dengan tenang, walaupun sebenarnya ia ingin segera meloncat keluar dari ruangan itu dan mengejar ke tempat gadisnya berada.
Sedangkan Tommy masih memantau situasi dengan tetap menghidupkan ponselnya.
"Pak, mobil yang saya ikuti berhenti di Hotel Rattan Inn."
"Di hotel ini?" sahut Tommy.
"Iya Pak, dan mereka sekarang sudah masuk ke dalam."
Riuh tepuk tangan bergema di seluruh penjuru aula saat Sastra selesai berpidato, ia membungkuk memberi hormat pada semua hadirin yang hadir dan segera turun dari podium menghampiri Tommy.
"Bagaimana? di mana posisi mereka sekarang?" tanyanya tergesa-gesa.
"Mobil yang diikuti orang kita berhenti disini, dan dari pengintaian mereka wanita bersama pria itu masuk ke dalam hotel ini Pak."
"APA? MASUK KEDALAM HOTEL INI!"
Sastra mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih. Selama ini ia menahan rindu yang hampir membuat dirinya tidak waras karena Bunga pergi begitu saja.
Sastra tahu bahwa dirinya telah berbuat salah, tetapi ia tak terima kalau gadisnya malah sedang bersama pria lain karena baginya Bunga hanya miliknya.
Lalu sekarang apa yang sedang dilakukan gadisnya setelah meninggalkannya dan menghilang tanpa kata. Masuk ke dalam hotel? Bersama seorang pria?
__ADS_1
Pikiran negatif memenuhi seluruh isi kepalanya, rahangnya mengeras, amarahnya meledak-ledak ibarat granat yang siap dilemparkan ke medan perang.
*****
"Ayo cepat kita masuk, sepertinya acara sudah dimulai." Rama segera menarik tangan Bunga masuk ke dalam hotel setengah berlari menuju aula pesta.
"Kak." Rama datang menghampiri Nadine dengan napas yang sedikit tersengal disusul oleh Bunga di belakang Rama.
"Rama, Lia, kenapa kalian terlambat?"
"Maaf Dokter Nadine, karena jalanan macet kita jadi terlambat sampai disini." Bunga menyahut.
"Ya sudah, Lia kamu tunggu sebentar disini dengan Rama. Silahkan cicipi hidangannya ya, jangan sungkan, aku akan memanggil dokter ahli gizi yang ingin kukenalkan padamu." Nadine segera berlalu.
"Jangan minum wine, bagaimana kalau nanti kamu mabuk?"
"Ah maaf Kak, aku tidak tahu kalau gelas yang tadi isinya wine, makasih." Bunga menukar gelasnya.
"Your welcome." Rama berbalik membelakangi meja sajian minuman dan matanya menangkap sosok Sastra yang sedang berjalan tergesa-gesa ke arah pintu keluar.
"Lia, tunggu sebentar disini, jangan kemana-mana oke!" ucap Rama yang disambut anggukan oleh Bunga.
Rama melangkah mendekati Sastra sementara Bunga sedang menikmati minumannya dan tersenyum bangga melihat kue buatannya disajikan di acara semewah ini.
__ADS_1
Tommy masih berkomunikasi dengan orang-orang bayaran Sastra, saat mendengar informasi tentang pria yang diminta Sastra wajah Tommy terlihat terkejut, lalu dia membisikkan sesuatu pada bosnya itu.
"Pak, pria yang bersamanya adalah dokter Rama, sepupu anda."
Sastra membulatkan matanya bertepatan dengan Rama yang menepuk pundaknya.
"Bang Sastra." Sastra langsung berbalik dan menatap Rama dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Bang kenapa melamun?" Rama mengibas-ngibaskan tangannya.
"Eh, Ram, gimana kabarnya?" ujar Sastra berbasa basi sambil matanya menjelajahi seisi ruangan.
"Baik Bang, sangat baik. Sini Bang, gue kenalin sama seseorang." Rama menarik tangan Sastra mendekati seorang perempuan yang sedang asyik memperhatikan sajian pesta.
"Lia, kenalin ini saudara sepupuku." Rama menghampiri Bunga
Bunga berbalik dan_
DEG....
Mata mereka langsung bersirobok. Keduanya terkesiap sama-sama mematung ditempatnya berdiri masing-masing.
Jantung Bunga berdegup kencang seperti genderang yang ditabuh, dadanya bergemuruh, kakinya melangkah mundur dan gelas yang dipegangnya terjatuh saking terkejutnya melihat seseorang di hadapannya.
__ADS_1
"Sa-Sastra?"