Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 23


__ADS_3

Sastra dan Bunga membawa belanjaan dari butik tadi dan menaruhnya di bagasi. Bunga melangkah dengan lunglai karena ternyata barang yang dibeli sangatlah banyak, bahkan sepertinya bagasi pun tidak sanggup menampungnya membuat gadis itu makin meratapi gajinya.


Gajiku betapa malang nasibmu, kita sudah dipisahkan bahkan di saat kita belum pernah bertemu huhuhu....


Sastra hanya tersenyum geli melihat ekspresi Bunga yang seperti orang linglung. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan Bunga hanya diam tak berbicara sedikitpun, hanya terdengar helaan nafas yang diembuskan kasar berkali-kali.


*****


Kini mereka telah sampai di kota tujuan. Sebelum ke apartemen, Sastra memarkirkan mobilnya di sebuah restoran Jepang.


"Sebaiknya kita makan siang dulu disini," usul Sastra sementara tangannya membuka seatbelt.


"Aku nggak lapar!" Bunga menjawab dengan lesu.


"Sebenarnya kamu kenapa?" Sastra pura-pura tidak tahu.


"Aku nggak apa-apa, cuma kelelahan saja."


Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang berduka? Bahkan aku tidak punya nafsu makan sama sekali, rest in peace wahai gaji.


"Ya sudah aku beli makanannya di bungkus saja, tunggu sebentar." Sastra turun dan berlari masuk ke dalam restoran.


Setelah lima belas menit Sastra kembali ke parkiran dan melajukan mobilnya langsung menuju apartemen.


"Sudah sampai. Ayo turun, koper sama belanjaan biar satpam gedung yang membawakannya ke atas." Bunga hanya mengangguk lemah lalu mengekori Sastra masuk ke dalam lift.


Sastra membuka pintu apartemennya dan membawa gadisnya masuk, Bunga melangkah ke arah sofa dan menjatuhkan dirinya menelungkup di sana. Tak berapa lama dua orang satpam mengantarkan belanjaan serta koper gadis itu. Sastra memberikan uang tip dan mereka berdua langsung berpamitan.


Ia pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan dari restoran Jepang tadi. Sastra membeli shabu-shabu dengan dua macam kaldu, yang satu kaldu sup miso dan satunya lagi kuah tomyam, tak lupa ia juga membeli dua porsi sushi.

__ADS_1


Sastra menyajikan hidangan di atas meja makan, dua porsi sushi dan juga shabu-shabu yang mengepul panas menggugah selera. Kemudian ia menghampiri Bunga yang masih tengkurap.


"Bunga, ini sudah lewat jam makan siang jadi cepatlah makan, aku tidak mau kamu sakit."


Bunga pun bangkit dan menuju meja makan, dia duduk kemudian mengambil sumpit dan sendok yang ada dihadapannya dan hanya mengaduk-aduk shabu-shabunya.


Sastra mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu entah apa itu, tak lama kemudian ponsel Bunga berbunyi menandakan ada pesan masuk. Bunga merogoh ponselnya dan pada saat membacanya dia membelalakkan matanya.


*T*entang barang-barang yang di beli tadi tidak akan di potong dari gajimu, semua itu adalah sebagai rasa terimakasihku karena kamu sudah membelikanku bubur dan merawatku saat aku sakit. Aku sangat bersyukur, love you.


Bunga tiba-tiba menangis seperti anak kecil dan menghambur memeluk Sastra.


"Hei sayang jangan menangis." Sastra membalas pelukan Bunga dengan mesra, kemudian Bunga sedikit melonggarkan pelukannya.


"Kamu itu suka banget ya ngerjain aku! Aku tadi kebingungan, kalau nanti tidak menerima gaji dengan utuh bagaimana aku bisa mengirim uang pada ibuku." Air matanya berderai di wajah cantiknya.


"Maafkan aku, habisnya kamu itu gemesin sih jadi aku pengennya godain kamu terus." Sastra tersenyum jahil dan menarik Bunga hingga terduduk di pangkuannya, Bunga sepertinya belum menyadari kalau dia duduk di pangkuan Sastra karena saking senangnya bahwa gajinya tidak jadi dipotong.


"Aku tahu kamu tulus merawatku, tapi sebagai pacarmu aku juga ingin membelikan sesuatu yang kamu butuhkan. Bukan soal harganya tetapi perhatianmu untukku di dalamnya, anggap saja aku membelikan bubur juga untukmu."


"Tapi tetap saja aku merasa itu terlalu berlebihan, kamu pasti menghabiskan banyak uang hanya untuk membelikan aku pakaian." Bunga melirik sekilas kantong-kantong belanja yang sangat banyak itu.


"Bunga, apa kamu lupa kalau pacarmu ini adalah seorang CEO? uangku tidak akan habis walaupun dipakai pergi shopping dan berfoya-foya setiap hari," ujarnya sengaja menyombongkan diri dengan menampakkan senyum lesung pipinya.


"Cih kembali sombong seperti biasanya Terima kasih sudah mengingatkanku kembali tuan CEO." Bunga bersungut-sungut.


"Ngomong-ngomong apa kamu berniat untuk terus duduk di pangkuanku, apa ini terasa begitu nyaman?" mode jahil Sastra kembali lagi. Bunga yang baru menyadari langsung meloncat turun dan kembali ke tempat duduknya dengan tersipu malu.


"Cepat habiskan makananmu sebelum dingin." Dengan santai Sastra melanjutkan makannya.

__ADS_1


Bunga yang masih tertunduk malu menyendok makanan di hadapannya. Saat rasa gurih dan segar dari kuah tomyam membaur di lidahnya, seketika gadis itu berubah ceria karena rasa lezat yang berpesta pora di indera pengecapnya.


Bunga makan siang dengan lahap padahal tadi dia bilang tidak lapar. Sastra yang melihatnya tersenyum senang karena gadis ini bukan tipe yang merajuk dalam waktu lama, bahkan hanya dengan seporsi makanan lezat moodnya bisa langsung berubah kembali membaik.


Setelah selesai makan Sastra mengajak Bunga untuk melihat seluruh ruangan di apartemen dan yang terakhir adalah kamar tidur utama.


"Ini kamarmu, apa kamu suka?" Bunga mengangguk dan tersenyum merekah, kamar dengan nuansa feminim, dengan paduan warna merah muda dan putih yamg dilengkapi furnitur dengan warna senada.


"Aku suka, ini seperti kamar seorang putri."


"Karena kamu memang tuan putriku," rayunya tepat di telinga Bunga.


"Dasar gombal!"


****


Hari sudah mulai gelap, saat ini Bunga tengah berada di kamarnya dan membongkar belanjaannya sedangkan Sastra sibuk dengan laptopnya.


Bunga membuka satu persatu paper bag dan mengeluarkan isinya. Diletakkannya semua pakaian itu ke dalam lemari lalu terakhir dia membuka satu kantong belanja berwarna merah muda.


Saat melihat isinya wajahnya langsung merah padam, isinya adalah enam potong gaun tidur dan juga satu lusin pakaian dalam wanita berbagai macam warna.


Haish dia ini kenapa sih membeli hal yang seperti ini, membuatku malu saja. Atau jangan-jangan dia sudah terbiasa membeli hal begini? Bagaimana dia tahu ukuranku, apakah mungkin dia itu mesum? tapi kalau membahasnya aku sangat malu, ah sudahlah sebaiknya aku segera membereskannya saja.


Bunga memutuskan untuk tidak membahas lebih lanjut tentang gaun tidur dan pakaian dalam yang dibeli Sastra karena dia merasa aneh dan malu setengah mati jika harus menanyakan alasannya. Bunga keluar dari kamarnya dan melihat Sastra yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Sas kapan kamu mau pulang? bukankah besok pagi kamu harus pergi bekerja?" usir Bunga sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Aku akan berangkat dari sini." Sastra menjawab sambil tetap fokus dengan laptopnya.

__ADS_1


"Eh tunggu tunggu, berangkat dari sini? apa maksudnya kamu mau menginap di sini!" teriak Bunga.


__ADS_2