Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 55


__ADS_3

Sudah memasuki minggu keempat permasalahan di New Zealand sudah hampir tuntas. Namun, sepertinya Sastra harus menambah satu minggu lagi karena putusan hukum untuk orang yang menggelapkan uang perusahaan baru keluar minggu depan.


Sastra memberi kabar pada Bunga bahwa dia baru akan pulang minggu depan setelah semua urusannya benar-benar selesai dan perusahaan kembali stabil.


*****


Sore ini Caroline sedang menuju ruangan Sastra untuk menyerahkan berkas pelengkap kasus yang diurusnya. Dia sengaja datang sore hari karena tahu Sastra menghindarinya, jadi jika hari masih siang Sastra tidak pernah terlihat di kantor.


Pintu lift terbuka. Matanya menatap lurus dan ternyata Tommy tidak berada di mejanya, hanya ada seorang gadis muda yang sedang duduk di sana.


"Selamat sore, kemana pak Tommy?" Caroline bertanya dengan angkuh seperti biasanya.


"Selamat sore Nona Caroline, Pak Tommy sedang ada urusan di luar kantor, sekitar satu jam lagi beliau akan kembali. Saya ditugaskan sementara disini, saya dari bagian HRD." Gadis muda itu menyambut dengan sopan.


"Begitu rupanya, saya ingin bertemu dengan Pak Sastra apakah beliau ada?" Caroline tersenyum senang karena Tommy tak ada di tempat.


"Ada Nona, tapi beliau barusan sedang menemui para kepala divisi di ruang meeting."

__ADS_1


"Kalau begitu saya akan menunggu di dalam ruangannya saja,"


Caroline langsung merangsek masuk membuka pintu ruangan Sastra sedangkan gadis muda itu tengah kebingungan.


"Ta-tapi Nona...." gadis tersebut mencoba menahan.


"Kamu berani ngelarang saya? asal kamu tahu saya itu teman baiknya Pak Sastra, atau kamu mau saya laporkan pada bosmu karena perlakuan tidak menyenangkan terhadap saya!" bentaknya.


"Ti- tidak Nona, silahkan menunggu di dalam." Gadis itu langsung menutup pintu lalu duduk kembali di mejanya dengan ketakutan karena terkejut dengan bentakan Caroline.


Wanita itu mendudukkan dirinya dan tertawa puas, karena jika Tommy ada di tempat tidak mungkin dia bisa menerobos masuk ke ruangan ini tanpa seizinnya.


"Selamat sore Pak. Maaf, tadi Nona Caroline datang dan memaksa untuk menunggu Bapak di dalam ruangan." Gadis itu berkata sambil ketakutan, Sastra tahu pasti wanita itu melakukan segala cara agar bisa masuk keruangannya.


"Ya sudah tidak apa-apa, lanjutkan kembali pekerjaanmu, setelah Tommy datang kamu bisa kembali ke ruangan HRD."


"Terima kasih Pak," sahutnya lega.

__ADS_1


Sastra mendorong pintu masuk ke ruangannya, Caroline langsung menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka dan dia tersenyum senang.


"Sas, aku kesini untuk menyerahkan berkas yang terakhir." Caroline menaruh berkas di meja kemudian berjalan mendekati Sastra.


"Kamu kemana aja sih, susah banget ditemui dan dihubungi. Bahkan kamu hanya membalas pesanku yang berhubungan tentang pekerjaan saja, selebihnya tidak pernah kamu balas."


"Carol, jika urusanmu sudah selesai silahkan pergi sekarang juga." Sastra melangkah menuju kursinya.


Namun tanpa diduga-duga Caroline malah melucuti satu persatu pakaiannya di depan Sastra, mulai dari blazer, kemeja, rok, kemudian bra nya dan hanya menyisakan celana dalam saja.


Terpampanglah tubuh mulusnya di depan Sastra, Caroline yakin bahwa jika seperti ini Sastra tidak akan mampu menolaknya lagi.


Sastra membelalakkan matanya karena wanita gila di depannya ini sungguh nekat. "Carol apa yang kamu lakukan! cepat segera kenakan kembali pakaianmu!" Sastra menatapnya tajam dan rahangnya mengeras menahan amarah.


"Aku tidak mau!" Caroline setengah berteriak.


"Kamu benar-benar sudah gila!" Sastra mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Iya benar aku memang sudah gila, dan kamulah yang membuatku begitu!" Caroline melangkah semakin mendekati Sastra.


__ADS_2