Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 116


__ADS_3

Mereka berdua melepas pelukan masing-masing, lalu saling menempelkan kening dengan mata terpejam untuk beberapa saat.


Sastra menarik wajahnya, ia berpindah mengubah posisi duduknya menjadi naik dan bersandar di atas ranjang lalu menarik Bunga untuk bersandar di dada bidangnya. Tangan kiri Sastra merengkuh Bunga dan mengelus punggung gadis itu selembut sutera, membuat Bunga merasa sangat aman dan nyaman dibuatnya.


Keheningan membentang diantara mereka, seakan tengah menyelami perasaan masing-masing. Hanya terdengar suara embusan napas dari keduanya. Sastra sangat bersyukur karena akhirnya bisa memeluk lagi kekasih hatinya, ia takkan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang telah diberikan Tuhan kepadanya.


"Sas." Suara Bunga memecah keheningan.


"Hemm."


"Kenapa kamu menyebut anak kita seorang putra? bahkan aku sendiri tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan," tanya Bunga.


"Karena anak kita sering menemuiku di dalam mimpi. Dia anak laki-laki tampan, berlesung pipi sepertiku, dan matanya indah seperti milikmu," tutur Sastra sambil tersenyum simpul.


Bunga sedikit mendongak. "Tapi kenapa dia tidak pernah datang ke dalam mimpiku? apakah anakku membenciku? karena aku gagal menjaganya?" Raut wajah Bunga tiba-tiba berubah muram.


Sastra mengecup kening Bunga. "Tidak sayang, dia sangat menyayangimu. Dia tidak datang padamu karena tak ingin membuatmu semakin bersedih, dia ingin agar kamu selalu tersenyum. Kamu harus tahu, dia tidak sendirian disana, ada ibuku dan juga bapakmu yang menemaninya."


"Apakah dia bahagia?" kembali terdengar isakan kecil dari Bunga.


"Tentu saja, dan mulai saat ini kamu juga harus berbahagia, agar putra kita juga selalu bahagia disana."

__ADS_1


Bunga mengangguk dan Sastra mengusap kepalanya. Sastra duduk tegak dan membetulkan posisinya sehingga menjadi berhadapan, lalu diraihnya tangan Bunga ke dalam genggamannya.


"Bunga, ada yang ingin kusampikan padamu. Aku tahu, mungkin yang akan kuutarakan sudah sangat terlambat, tapi aku tidak mau membuang waktuku lagi." Sastra menghela napasnya panjang. "Bunga Aulia, will you marry me?" ucap Sastra sambil menatap iris mata cantik itu.


Seketika Bunga terkesiap, kata-kata yang dulu pernah sangat dinantikannya kini benar-benar terdengar ditelinganya. Mungkin memang terlambat, tetapi rasa cinta di hatinya masih sama seperti yang dulu.


Bunga menelisik ke dalam mata Sastra mencari keyakinan dan pembenaran di sana. Lalu tatapannya melembut dan ia mengangguk.


"Yes, I do," jawab Bunga. Bibirnya tersenyum namun bergetar karena rasa haru.


Sastra merasakan kebahagiaan membuncah di sanubarinya, karena Bunga tidak menolaknya. "Terimakasih sayang, terimakasih sudah menerimaku, terimakasih karena mencintaiku dan terimakasih sudah memaafkanku, aku sangat bersyukur."


Aura kebahagiaan memenuhi seluruh atmosfer ruangan itu, bukan hanya raga mereka yang bertaut tetapi hati mereka juga saling terpaut.


Namun, tiba-tiba Bunga melepaskan pelukannya lalu memukul bahu Sastra dan sedikit menjauhkan tubuhnya.


"Eh tunggu-tunggu. Kamu harus mengulangi lamaranmu padaku, lamaran macam apa ini?yang benar saja, kamu memintaku menikah denganmu di rumah sakit! Tidak ada cincin dan juga bunga, dasar tidak romantis!" Bunga mulai merajuk.


Sastra terkekeh. "Aku tahu ini terlalu mendadak. Maaf, aku bahkan belum sempat menyiapkan cincin ataupun bunga untukmu. Tapi aku tidak ingin membuang waktuku lagi. Jadilah pendampingku, jadilah istriku, menemani perjalanan hidupku dan menualah bersamaku." Sastra mengecup punggung tangan Bunga.


"Jangan merayuku, pokoknya kamu harus melamarku dengan benar!" Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Hahaha, baiklah sayangku apapun akan kulakukan untukmu, tapi tolong jangan memajukan bibirmu, itu membuatku ingin melakukan ini_"


Cup....


Sastra mencium bibir Bunga.


Blushhhh


Wajah Bunga memerah, ternyata dirinya masih kembali merona padahal ini bukan yang pertama kalinya.


"Jangan sembarangan menciumku, aku belum sepenuhnya menerimamu."


Sastra tergelak dan akhirnya mereka tertawa bersama.


*****


Ketika cinta telah memilihmu, rasa itu akan menghidupkanmu sekaligus menyiksamu, membuatmu bahagia namun kadang membuatmu menderita.


Rasa itu membawamu naik ke ketinggian hingga menyentuh awan dengan mesranya, namun kadang tiba-tiba turun ke akar dan menggoyahkan cengkeramannya sekuat tenaga tanpa ampun.


Itulah segala yang dilakukan cinta terhadapmu, agar dirimu mampu memahami rahasia hati tentang apa yang disebut dengan cinta.

__ADS_1


__ADS_2