Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 140


__ADS_3

"Selamat pagi Nyonya Sastra," sapa Caroline saat melihat Bunga menuju ke arahnya, ia berdiri dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman namun Bunga mengacuhkannya, ia tidak menerima uluran tangan Caroline dan langsung mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan wanita ular itu.


"Silahkan duduk Nona, ada hal apa pagi-pagi sekali Anda sudah datang kemari?" tanya Bunga dengan raut wajah tidak suka.


"Wow, penyambutan yang hangat, jangan menekuk wajah cantikmu, aku kesini hanya untuk mengobrol saja." Caroline memasang senyum menjengkelkan.


"Aku tidak punya banyak waktu, jadi cepat katakan ada urusan apa!"


"Saat kamu mengetahui apa yang ingin kubicarakan aku yakin kamu pasti akan punya banyak waktu."

__ADS_1


"Tidak usah bertele-tele, cepat katakan saja!" Bunga masih berusaha bersabar.


Caroline menyerahkan sebuah map kepada Bunga, "bacalah! aku yakin kamu suka."


Dengan tidak sabaran Bunga membuka map itu, saat dibacanya dengan seksama ternyata itu adalah data rekam medisnya di klinik Nadine. Bunga mengernyitkan dahinya lalu menatap Caroline.


"Apa maksud dari semua ini?"


"Sebenarnya... apa yang kamu inginkan? untuk apa membahas tentang hal ini!" Bunga mulai merasakan bahwa ada maksud buruk dibalik topik pembicaraan Caroline, ia menarik kedua tangannya ke bawah meja dan meremat ujung dress yang dipakainya berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

__ADS_1


"Yang kuinginkan hanya hal sederhana, jika kamu tidak ingin berita ini tersebar luas maka tinggalkan Sastra! tapi kamu harus pergi dengan cara yang kuminta. Kamu harus meninggalkannya dan membuat dia membencimu, jangan memberi tahunya bahwa aku yang memintamu melakukannya. Jika kamu melanggar maka semua data ini akan langsung kuberikan pada media." Caroline menyeringai puas melihat raut wajah Bunga, sepertinya dia sudah berhasil mengusik keteguhan hati perempuan di hadapannya itu.


Bunga terpaku dengan apa yang didengarnya, meninggalkan Sastra? Membayangkannya saja sudah membuat dadanya terasa sesak dan napasnya tercekat seakan mencekik dirinya sendiri. Dulu memang dia pernah ingin selama-lamanya menjauh dari Sastra, tetapi kini ia tidak bisa hidup tanpa Sastra disampingnya.


"Jadi apa jawaban anda Nyonya Sastra? bukankah kamu mencintainya? jika kamu benar-benar mencintainya kamu pasti tidak rela jika Sastra dan keluarganya hancur karena dirimu bukan. Kamu harus bisa berpikir dengan bijak, aku akan memberimu waktu dua hari untuk memikirkannya."


Setelah berkata demikian Caroline bangkit dari duduknya dan meninggalkan Bunga yang masih terpaku di tempatnya.


Bunga dilanda kebingungan yang amat sangat, ditambah saat ini ia tengah mengandung buah cintanya dengan Sastra. Bunga tidak mau lagi terpisah jauh dengan lelaki yang sangat dicintainya itu, tetapi ia juga tidak ingin menjadi duri dan penyebab kehancuran keluarga serta perusahaan Prawira.

__ADS_1


Gangguan kecemasannya yang sudah lama tidak muncul ke permukaan kini tiba-tiba kembali menyeruak. Keringat dingin mulai bermanik di dahinya, Bunga berusaha menahan tangannya agar tidak gemetar. Kegelisahan semakin naik perlahan, pikirannya kosong, lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?


__ADS_2