
Dituntunnya Bunga untuk duduk di tepian ranjang, disusul dengannya yang bersimpuh di lantai menekuk lututnya dihadapan Bunga, digenggamnya tangan sang istri penuh kasih sayang.
"Sebenarnya ada apa? coba ceritakan padaku, siapa orang yang membuatmu tiba-tiba khawatir tentang hal semacam ini?" Sastra mencoba kembali bertanya berharap Bunga berterus terang.
Bunga menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apapun dan juga siapapun, hanya tiba-tiba saja melintas dipikirkanku."
Bunga berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kegelisahannya agar tidak ketahuan bahwa dirinya sedang berbohong sekarang.
Sastra mencoba menyelami iris mata indah di depannya, ditatapnya lamat-lamat berusaha mencari jawaban dari sikap istrinya yang tidak seperti biasanya.
"Benarkah tidak ada hal lain yang mengusik ketenanganmu?" tanya Sastra mencoba bertanya selembut mungkin, semoga kejujuran keluar dari mulut Bunga.
"Sungguh, tidak ada hal lainnya. Apakah kamu tidak percaya padaku?" sahut Bunga dengan wajah memelas bercampur canggung.
Sastra mengulas senyumnya. "Tentu saja aku percaya padamu sayang, mulai sekarang jangan pernah mempunyai pikiran macam-macam. Kamu tidak boleh terlalu stress, ingat ada buah hati kita yang sedang tumbuh di dalam sana, dia membutuhkan banyak cinta dan juga perhatianmu." Sastra menyentuh perut Bunga.
__ADS_1
Bunga ikut mengusap perutnya, senyuman berkembang di wajah cantiknya dan ia mengangguk. "Kamu benar, ada yang harus lebih kuperhatikan."
"Kalau begitu segera berganti pakaian, kita turun untuk makan malam bersama, aku akan mandi dulu." Sastra berdiri dan mengusap kepala Bunga, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ekspresi wajah Sastra berubah muram, ia dapat menangkap air muka Bunga yang berbohong padanya. Akan tetapi Sastra tidak akan mendesak Bunga lebih dalam lagi agar mengatakan yang sebenarnya, ia akan mencari tahu sendiri hal yang disembunyikan Bunga darinya.
*****
Setelah memastikan Bunga tertidur lelap Sastra membuka ponsel istrinya itu. Diperiksanya satu persatu dari siapa saja panggilan telepon serta pesan yang masuk namun sama sekali tidak ada kontak yang mencurigakan.
Setelah menutup panggilan teleponnya ia kembali berbaring di sebelah Bunga yang tidur meringkuk, ditatapnya wajah cantik yang matanya terpejam, tangannya membelai surai panjang Bunga.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku sayang?" gumam Sastra disusul sebuah kecupan di kening Bunga.
Sastra mengembuskan napasnya berat, kemudian menarik Bunga kedalam dekapannya. Bunga memang sudah terlelap, tetapi seakan tubuhnya sudah mengenali siapa yang menempel dengannya secara refleks Bunga bergelung ke dada Sastra dan balas merangkulkan tangan ke tubuh lelakinya.
__ADS_1
****
Pekerjaan Sastra akhir-akhir ini begitu padat, ia sedang mengerjakan proyek besar yang bekerjasama dengan pemerintah. Sastra harus benar-benar fokus agar hasilnya tidak mengecewakan, tetapi kini pikirannya terbagi, pembicaraannya dengan Bunga semalam benar-benar menganggu pikirannya.
Ia mengusap wajahnya kasar, kemudian menghubungi orang-orang suruhannya berharap ada kabar yang bisa menjadi titik terang dari pertanyaan yang terus berputar di otaknya.
"Bagaimana, apa kalian melihat hal yang mencurigakan?"
"Sejak pagi tidak ada yang mencurigakan Tuan, sejak sampai di cafe istri anda belum terlihat pergi keluar ataupun bertemu seseorang," sahut suara dari ponsel di seberang sana.
"Kalian benar-benar mengawasinya bukan? hal sekecil apapun kalian harus melaporkannya padaku!"
"Tentu saja Tuan, sejak pagi kami tidak bergerak sesentipun dari tempat ini, ta-tapi tunggu sebentar Tuan_" orang itu menjeda kalimatnya.
"Kami baru melihat ada seorang wanita yang datang dan sekarang sedang mengobrol dengan Nyonya "
__ADS_1
"Seorang wanita? kirimkan gambarnya padaku sekarang juga!"