Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 43


__ADS_3

Dua sejoli itu telah terbangun dan berada dalam selimut yang sama tanpa sehelai benangpun, mereka saling bersentuhan dari kulit ke kulit tanpa ada yang menghalangi.


"Hai sayang good morning," sapa Sastra dengan senyum hangat.


"Morning too." Bunga menyahuti dengan suara serak khas bangun tidur.


Sastra mengecup puncak kepala Bunga dan membelai rambutnya lembut. "Tidurlah kembali, aku tahu kamu kelelahan semalam," ujarnya dengan nada menggoda.


Bunga tersipu dan merona lalu kembali menenggelamkan dirinya di pelukan sang kekasih. "Jangan mengejekku, jam berapa sekarang?"


"Jam delapan."


"Apa? gawat aku kesiangan! Bukankah jam sembilan ini kita ada jadwal rapat?" Bunga langsung terduduk sampai-sampai dia lupa bahwa sekarang dia tidak memakai sehelai benangpun sehingga saat duduk selimutnya melorot dan mengekspos tubuh bagian atasnya.


"Sayang apa kamu sedang menggodaku lagi? sepertinya kamu memang terlihat lebih lezat sebagai sarapanku pagi ini." Sastra menyeringai sambil matanya melihat ke arah dada gadisnya.

__ADS_1


Bunga mengikuti arah pandang Sastra dan sontak saja dia langsung menarik selimut untuk menutupi dadanya yang terbuka, wajahnya memerah membuat seseorang yang tengah memandangnya kembali berminat kepadanya pagi ini.


Gadis itu merasakan sekujur tubuhnya remuk redam serta terasa tidak nyaman di bagian inti tubuhnya. Dia mengintip ke dalam selimut dan terkejut karena ada noda darah di sprei putih itu.


"Sas, kenapa... kenapa aku berdarah," tanyanya cemas dengan polosnya membuat Sastra semakin gemas pada gadisnya.


"Hahaha... tentu saja kamu berdarah, bukankah semalam adalah yang pertama kalinya bagimu? atau jangan-jangan dulu kamu bolos sekolah saat pelajaran biologi?"


"Maksudmu aku bodoh begitu!" serunya sengit.


Blushhhh... wajahnya semakin memerah, Bunga merasa idiot karena menanyakan hal seperti itu.


"Berbaring lagi saja." Sastra menepuk-nepuk bantal disampingnya. "Hari ini jadwalnya sudah diatur ulang jadi rapatnya akan diadakan setelah makan siang."


"Tapi aku ingin ke kamar mandi." Bunga mencoba turun dari ranjang dan meraih bajunya yang teronggok di lantai, namun saat kakinya menyentuh lantai dia merasakan perih dan ngilu di bagian inti tubuhnya. "Awwww...."

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanyanya cemas.


"Anu itu... itu... terasa perih dan tidak nyaman," ucap Bunga sambil menatap ke arah lain karena topik pembicaraan ini sungguh memalukan baginya. Sastra bangkit dan turun dari ranjang memakai boxernya lalu menghampiri gadisnya.


Tanpa aba-aba dia menyingkap selimutnya dan meraup Bunga dalam gendongannya membuat sang gadis memekik terkejut serta menahan malu karena tubuh telanjangnya. Bunga menyilangkan tangannya dan memalingkan wajahnya yang sudah memerah.


"Kenapa ditutupi, aku bahkan sudah melihat setiap inci tubuhmu tadi malam." Goda Sastra mesum.


Bunga meronta ingin diturunkan namun gerakannya justru membuat Sastra kembali berhasrat kepadanya. Dia menyeringai sehingga membuat Bunga gelagapan.


"Ka-kamu... mau apa?"


"Aku mau mengobati tak nyamanmu sayang." Sastra menggendong Bunga menuju kamar mandi, menurunkannya di bathtub dan mengisinya dengan air hangat.


Sastra ikut bergabung kedalamnya dan saat bunga akan melayangkan protes ia langsung membungkamnya dengan ciuman yang memabukkan membuat sang gadis tidak mampu menolak saat kekasihnya kembali mencumbuinya penuh hasrat. Dua sejoli itu kembali menyatu di kamar mandi seakan lupa diri bahwa yang sedang mereka lakukan adalah sebuah hal terlarang.

__ADS_1


__ADS_2