
Sebuah pelukan hangat dari istrinya, Sastra merasakan gundukan kenyal menempel di punggungnya membuat miliknya seketika memberontak. Ia berbalik dan menatap Bunga.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku menunggumu, aku... aku ingin mencobanya lagi." Ia mendongak menatap mata Sastra penuh harap
"Jangan terlalu memaksakan diri, lagipula aku tidak bisa menjamin bahwa aku bisa selalu berhenti di saat kamu merasa terganggu dengan sentuhan yang lebih dalam lagi, bagaimana jika aku lepas kendali?"
Bunga mundur satu langkah dan menurunkan gaun tidurnya, ia juga membuka pakaian dalamnya walaupun tangannya sedikit gemetar. Terpampanglah tubuh indahnya tanpa sehelai benangpun, lalu ia melangkah dan makin mendekatkan dirinya pada Sastra,
"Sa-sayang apa yang kamu lakukan." Jakun Sastra naik turun melihat pemandangan polos di hadapannya.
"Bantulah aku, bantu aku untuk kembali menjadi wanita yang seutuhnya."
"Kamu yakin?" Sastra menatapnya intens.
"Hemm." Tangannya mengusap dada suaminya. Sastra memejamkan mata menikmati sentuhan itu.
"Kita akan mencobanya pelan-pelan saja, kamu siap?"
__ADS_1
Bunga mengangguk meskipun wajahnya tampak tegang.
Sastra mengecupinya. Mulai dari kening hidung, kedua pipi kemudian bibirnya. Dipagutnya dengan gerakan lembut agar Bunga tidak kaget dan berlama-lama dibibir ranum itu.
Saat Sastra melabuhkan bibirnya turun ke leher Bunga mulai menegang dengan tangan sedikit mencengkeram dadanya, Sastra mengusap-usap tengkuk Bunga dan itu berhasil membuat istrinya rileks.
Sastra terus menggumamkan kata-kata memuja menenangkan ke telinga Bunga sambil terus mencumbuinya membuat kaki Bunga lemas diperlakukan mesra seperti itu. Digendongnya Bunga seperti bayi koala menuju ke tempat tidur. Direbahkannya dengan hati-hati, kemudian ditatapnya kembali istrinya itu.
Bunga agak pucat namun ia tetap tersenyum dan keringat dingin mulai membanjiri.
"Apa kita berhenti saja?" Sastra mengusap keringat di dahi Bunga yang mengembun.
Saat mereka hendak menyatu, Bunga memalingkan muka. Ia memejamkan matanya, napasnya naik turun dan tangannya mencengkeram seprai dengan kuat. Sastra meraih tangan Bunga dan menggenggam jemarinya.
"Sayang jangan tutup matamu, lihatlah aku."
Perlahan Bunga mencoba membuka matanya dan balas menatap Sastra walaupun terlihat gelisah.
"Lihat baik-baik sayang, aku adalah suamimu, aku adalah lelaki yang yang sah untuk memesraimu. Aku sangat mencintaimu dan tidak mungkin menyakitimu, bisakah kamu percaya padaku?"
__ADS_1
"Aku per-percaya padamu, dan aku juga sangat mencintaimu," jawabnya lirih
"Apakah sekarang aku boleh menyentuhmu lebih dalam lagi?"
"Lakukanlah! Usir pergi semua ketakutanku, aku tidak ingin mereka terus menerus menghantuiku!"
Setelah mendengar itu Sastra mulai memposisikan dirinya, dengan hati-hati dan perlahan akhirnya raga mereka kembali melebur jadi satu.
Diperlakukannya Bunga dengan sangat lembut. Awalnya istrinya itu masih gelisah dan balas mencengkeram jari-jemari Sastra dengan erat. Ia menghujani Bunga dengan kecupan-kecupan mesra dan memuja.
Lama-kelamaan semua bayangan buruk di kepala Bunga perlahan sirna, ditatapnya suami tampannya yang sedang mengayuh di atasnya, semua rasa ngeri itu kini telah berganti dengan rasa bergelora yang mengaliri seluruh aliran darahnya.
Mereka saling mencumbu dan menghargai tubuh masing-masing, deru napas terdengar semakin memburu seiring pergerakan yang semakin cepat. Lalu tubuh keduanya mengejang dan bergetar saat gelombang puncak itu datang menggulung mereka dalam kenikmatan surga dunia yang berhasil direngkuh bersama.
*****
Aduh Author sampe ngos-ngosan ngetiknya ππ
Terimakasih yang tak terhingga pada semua my beloved readersku tersayang yang masih tetap setia mengikuti cerita ini, terimakasih banyak untuk like, bintang, vote dan komentarnya selama ini, dukungan kalian jadi penyemangat buatku belajar menulis yang lebih baik lagiππππ love you all.
__ADS_1