
Hai my beloved readers yang kusayangi, ini adalah extra part pertama dari novel Kapan Menikah dan masih akan ada beberapa extra part lainnya.
Terimakasih banyak untuk apresiasi, dukungan bintang, like, komentar, dan votenya. Tinggalkan komentar sebanyak-banyaknya ya readers, kutunggu. Happy reading, cekidot💕.
*****
Mobil mewah edisi terbatas berwarna hitam itu memasuki gerbang tinggi bercat putih, melaju melewati deretan pohon yang berjajar rapi sebelum akhirnya berhenti tepat di halaman besar rumah megah tersebut.
Sastra melirik jam tangan rolexnya ternyata sudah pukul sepuluh malam. Bik Isah membukakan pintu begitu mendengar deru mesin mobil di depan rumah, Sastra mengucapkan terimakasih dan langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Saat pintu kamar terbuka tampaklah Bunga yang tertidur dengan posisi miring ke kanan menghadap box bayi, sorot matanya melembut, ditatapnya bergantian dua orang yang sangat dikasihinya itu.
Ia menghampiri box di samping ranjang. Arion tertidur pulas di sana, sebentar lagi usianya menginjak tiga bulan. Bayi itu tumbuh dengan sehat, bahkan pipi dan pahanya tampak menyembul menggemaskan membuat Sastra tak tahan untuk menciumi malaikat kecilnya. Akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin membangunkan Arion dari mimpi indahnya.
__ADS_1
Lalu Sastra duduk di tepi ranjang, ia mengangsurkan jemarinya membelai pipi Bunga dan merapikan anak -anak rambut yang menempel di dahinya. Sastra membungkuk, dikecupnya lama kening sang istri dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Bunga terusik dari tidurnya saat merasakan benda basah dan kenyal yang menempel begitu lama di keningnya, ia membuka mata perlahan dan saat matanya terbuka sempurna tatapannya langsung bersirobok dengan Sastra.
Sudut bibir Bunga tertarik ke atas serupa lengkungan yang menyerupai bulan sabit, melukiskan senyuman indah di wajah cantiknya dengan mata sayu terkantuk-kantuk.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Sastra, sementara tangannya tak henti-hentinya membelai rambut panjang Bunga yang lembut, menggoda indera perasa di telapak tangannya untuk terus menyentuhnya.
"Kau ini memang istri penggoda, aku masih harus berpuasa untuk tidak menyentuhmu, jadi jangan memprovokasiku." Sastra mencubit ujung hidung mancung istrinya itu.
Bunga tergelak kencang, namun rupanya suara tawanya membangunkan Arion dari tidurnya. Bayi itu menggeliatkan badannya, tangan mungilnya bergerak-gerak, ujung bibirnya tertarik ke bawah dan di detik berikutnya ia mengeluarkan suara tangisannya dengan nyaring memenuhi seluruh penjuru kamar.
Bunga yang masih dalam posisi memeluk leher Sastra secara refleks melepaskan pelukannya dan mendorong dada Sastra. Dengan cepat Bunga bangun dan turun dari ranjang, kemudian dengan sigap ia meraup Arion ke dalam dekapannya dan mengayun-ayunkan Arion di pangkuannya. Rasa kantuk Bunga menguap begitu saja saat mendengar suara tangisan putranya.
__ADS_1
Arion berhenti menangis saat berada dalam dekapan Bunga, bayi itu tersenyum menampakkan lesung pipi dan gusinya yang belum memiliki gigi, bayi itu berceloteh dan tangannya mencoba menggapai-gapai wajah Bunga.
"Oooo sayang, Mami berisik ya? maaf jadi bangunin Rion yang lagi bobo." Bunga menciumi pipi Arion dengan gemas.
Sastra menghampiri dan ikut mendaratkan bibirnya di pipi montok putra tampannya yang sedari tadi menggoda untuk dicium.
"Sini, biar kugendong. "Sastra mengulurkan tangannya.
"Kamu baru saja pulang, pasti masih capek kan? biar aku saja yang menidurkannya kembali," ucap Bunga dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Kamu sudah seharian ini merawat Arion, karena siang hari aku sibuk bekerja, jadi saat malam biarkan aku yang menjaganya," pinta Sastra, raut wajahnya mencoba meyakinkan Bunga.
"Bunga memperhatikan mimik muka Sastra dan mengulum senyum, "Baiklah Papi, aku akan menyusuinya dulu, setelah dia kenyang kau bertugas untuk menjaganya ya."
__ADS_1