Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 96


__ADS_3

"Aku bisa sendiri." Sastra hendak mengambil alih obat di tangan Bunga.


"Kamu diem aja deh, ngobatin luka di wajah itu harus baik dan benar supaya tidak menimbulkan bekas."


Dengan serius Bunga mengoleskan obat di wajah tampan yang kini memar dengan luka di bagian bibir bekas gigitannya semalam, dan juga mengobati sudut bibir Sastra yang robek akibat perkelahiannya dengan Rama.


Diperhatikannya wajah cantik yang sedang mengobatinya dengan telaten. Sastra bahagia karena Bunga masih perhatian padanya, itu artinya Bunga masih menyimpan perasaan untuknya bukan? Bolehkah ia berharap lebih?


Senyuman mengembang dibibir Sastra dan ia lupa kalau sudut bibirnya terluka.


"Akhh," Sastra mengaduh kesakitan.


"Apa aku terlalu kencang saat mengoleskan salep ini?" Bunga terlihat cemas.


"Tidak, hanya saja aku lupa kalau sudut bibirku terluka karena terlalu bahagia."


Bunga mengusap sudut bibir Sastra yang robek dan juga luka bekas gigitannya dengan lembut. "Maaf."


"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku yang seharusnya minta maaf karena mengagetkanmu semalam. Kamu pasti semakin membenciku, tapi aku memang pantas dibenci. Benar yang Rama bilang kalau aku ini hanyalah seorang b*jingan brengsek." Sastra menunduk.

__ADS_1


Suasana kembali hening.


"Bunga, Bolehkah aku mengobati luka di hatimu dengan baik dan benar juga? Aku tahu bekasnya tidak akan hilang, tapi aku berjanji tidak akan membuat luka itu terbuka kembali."


Sastra menatap ke dalam mata Bunga dan terlihat jelas masih ada cinta untuknya di sana.


"Entahlah." Bunga buru-buru memalingkan wajahnya karena dadanya berdebar-debar seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.


"Tapi kenapa tanganmu diperban, bukankannya tadi pagi tanganmu baik-baik saja?"


Bunga mengalihkan pembicaan, lalu meraih tangan Sastra yang terluka dan membolak-balikkanya. Bunga tidak sadar bahwa ia telah menjilat ludahnya sendiri untuk tidak saling bersentuhan tanpa izin. Cinta memang membuat manusia melanggar rambu-rambu yang dibuat olehnya sendiri.


"Kalau kamu sudah selesai aku antar pulang sekarang." Sastra bangkit dari sofa dan meraih kunci mobilnya


Mendengar Sastra berkata begitu entah mengapa Bunga merasa sedih dan merasa diusir dari sana, mulutnya mungkin menolak tetapi hatinya terus mendamba.


"Ayo." Sastra sudah berdiri di ambang pintu,


Bunga beranjak dan melangkah dengan berat karena sebenarnya dia masih ingin berlama-lama bersama Sastra.

__ADS_1


*****


Mereka sudah sampai di depan Flower's Cake & Bakery, Sastra membukakan pintu mobil untuk Bunga.


"Terima kasih sudah mengantarku." Bunga turun lalu membuka kunci pintu rukonya.


"Apa hanya ucapan terimakasih saja? Waaah kamu sungguh tega, setidaknya biarkan aku mampir dan beri aku sarapan." Sastra menerobos masuk kedalam toko dan membiarkan Bunga yang malah melongo di depan pintu.


"Eh eh, tunggu," Bunga ikut berlari masuk dan mendekati Sastra sudah duduk di salah satu kursi yang terletak di pojokan.


"Kamu ini orang kaya, apa kamu tidak malu minta sarapan gratis padaku?" Bunga berkacak pinggang.


"Sarapanku tidak gratis nona, itu sebagai ongkos mengantarkanmu pulang dengan selamat," ujarnya tengil.


"Ternyata orang kaya sungguh perhitungan, kalau tahu begitu aku tadi naik taksi saja!" Bunga menggerutu sambil berlalu masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan kitchen.


"Sajikan sarapan terbaik untukku, karena aku hanya mengkonsumsi bahan-bahan pilihan."


Sastra sengaja berteriak agar Bunga mendengarnya. Bunga tertawa kecil karena ternyata Sastra belum berubah dan masih pemilih soal makanan.

__ADS_1


__ADS_2