
Warning 21+
Untuk keperluan alur cerita diharap bijak dalam membaca part ini.
*****
"Apakah kamu yakin? karena jika kamu benar-benar yakin aku tidak akan membiarkanmu menarik ucapanmu lagi."
Bunga tersenyum dan mengangguk lalu mendekatkan wajahnya mengecup bibir Sastra sekilas. "Sastra Prawira, I'm yours."
Sejenak Sastra tertegun. Bukankah ini yang dinantikannya sejak awal? Entah mengapa tiba-tiba terbersit rasa yang sulit diartikan di sudut hatinya. Haruskah ia berhenti? Tetapi tubuhnya tidak bisa dibohongi bahwa dia menginginkan gadisnya sekarang juga.
"Kamu paham akan kalimatmu tadi? yakin tidak akan menyesal?" Sastra kembali bertanya.
"Aku... aku sangat yakin," jawabnya tanpa keraguan.
__ADS_1
Nafsu setan telah menguasai keduanya, Bunga yang lugu bahkan seperti sudah kehilangan akal sehatnya dibutakan oleh sesuatu yang bernama cinta.
Dibelainya dengan lembut wajah cantik itu dan sang gadis memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan kekasihnya, kemudian Sastra menciumi seluruh wajahnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Mereka saling menatap mesra dalam deru napas yang seirama. Bibir keduanya bertaut, mengecup dengan lembut lalu saling ******* dengan gairah yang semakin lama semakin naik seperti tak pernah puas untuk saling mencicipi hingga napas mereka terengah-engah.
Sastra menggendong Bunga menuju peraduan, merebahkannya dengan hati-hati kemudian kembali memagut bibirnya dengan ciuman yang penuh hasrat membuai dan memabukkan.
Sastra yang ahli sangat paham bagaimana caranya agar si gadis semakin terbuai dan terpancing oleh cumbuanya. Sedangkan Bunga yang polos hanya merasakan bahwa dirinya seperti diajak ke dunia baru yang berbeda, membuatnya ingin terus menelusuri semakin dalam dunia itu untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.
Dia menyentuh seluruh tubuh si lugu itu dengan ahli penuh kelembutan dan menuntut, menyusuri semua titik lemahnya tanpa terlewat satu inci pun membuat Bunga makin mendamba menginginkan hal yang lebih dari kekasihnya.
Saat raga mereka menyatu dan rasa sakit yang tak terperi itu menderanya Bunga meremat punggung lelakinya disusul dengan air mata dan isakan.
Sastra menenangkannya dengan kelembutan penuh janji, membuatnya menyerah dan mengikuti irama penyatuan raga mereka yang telah melebur menjadi satu.
__ADS_1
Gairah Sastra berkobar dengan hebatnya, Bunga adalah perawan pertamanya, membuat rasa ingin memiliki sepenuhnya semakin menjalar di setiap urat nadinya.
Desahan dan erangan memenuhi seluruh penjuru ruangan, napas mereka memburu saling berkejaran hingga rasa itu datang dan meledak dengan dahsyatnya diantara dua insan yang dimabuk asmara.
Sastra menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka, mengecup kening dan merengkuh kekasih hatinya dalam dekapan hangatnya hingga mereka terlelap bersama.
Bali adalah salah satu tempat dengan pemandangan yang sangat indah, namun mirisnya keindahannya telah ternodai oleh dua insan yang mendaki mahligai dosa, karena seyogyanya hal itu seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang telah sah di mata Tuhan.
****
Pagi telah datang, sinar sang surya mengintip masuk melalui celah-celah gorden dan mengusik tidur sang penghuni kamar.
Sastra membuka kedua matanya, dan hal yang pertama dilihatnya adalah Bunga yang tengah berada dipelukannya menempel di dadanya yang telanjang.
Dia tersenyum mengingat percintaan panasnya semalam yang begitu menggelora, dalam sejarah percintaannya sedari dulu Sastra tidak pernah merasakan rasa luar biasa seperti saat menyatu dengan Bunga.
__ADS_1
Ia teringat kembali bahwa semalam telah mengambil kesucian sang gadis yang membuat timbul rasa bersalah dihatinya, Sastra kembali mengeratkan pelukannya membuat Bunga terbangun karena merasakan pergerakan dari tubuh yang mendekapnya.