Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 41


__ADS_3

Bunga masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepian ranjang sambil masih memeluk bantalnya.


"Tidurlah di ranjang aku akan tidur di sofa." Sastra melangkahkan kakinya menuju sofa tanpa menoleh pada Bunga.


Gadis itu masih terduduk sambil tetap memeluk bantal yang dibawanya. Bunga tahu bahwa saat ini Sastra pasti sedang marah padanya karena kejadian sore tadi, tetapi dia juga sangat takut jika tetap di kamarnya sendirian, walaupun semua itu adalah akibat ulah Sastra sendiri yang memulainya.


"Sas tidurlah di ranjang, berbaring di sofa pasti terasa tidak nyaman," pinta Bunga lirih.


"Sudahlah, jangan pikirkan aku. Segeralah tidur. Ini sudah malam," sahutnya dingin, lalu Sastra merebahkan dirinya di sofa memejamkan matanya dan melipat kedua tangannya di dada.


Bunga tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menusuk di seluruh nadinya, terasa sakit dan sesak di hatinya diperlakukan datar oleh orang yang sangat dicintainya. Biasanya Sastra sering memanggilnya dengan sebutan sayang sambil menggodanya, tetapi sekarang ia merasa diabaikan bahkan saat berbicara Sastra seolah enggan menatap matanya.


Bunga merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata tetapi tak berhasil. Dadanya bergemuruh, ini adalah pertama kalinya Sastra bersikap acuh padanya. Gadis itu berpikir apakah mungkin sikapnya tadi sore sudah keterlaluan? Dia bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati sofa lalu duduk ditepiannya.

__ADS_1


Jari-jemarinya meremat ujung baju tidurnya untuk mengalihkan rasa gugupnya kemudian dengan perlahan ia mencoba untuk menyentuh tangan Sastra yang masih memejamkan matanya itu.


"Sas, maaf." Kemudian gadis itu menunduk.


"Untuk apa?" Sastra menjawab masih dengan mata terpejam.


"Tentang sore tadi."


"Sudahlah aku lelah," seru Sastra ketus.


Sebenarnya Sastra juga tidak ingin bersikap dingin pada Bunga, memang benar dia merasa marah tapi bukan itu masalahnya sekarang. Saat ini ia tengah mati-matian menahan hasratnya karena tadi Bunga muncul di hadapannya dengan tampilan memakai gaun tidur yang sungguh menggoda.


Akhirnya Sastra meraih Bunga kedalam pelukannya dan menepuk nepuk punggungnya yang bergetar karena isakan, Bunga balas memeluk Sastra dengan sangat erat dan menumpahkan tangisnya disana.

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku. Tolong jangan... jangan mengabaikanku lagi... hiks hiks." Bunga menangis tersedu-sedu.


Sastra tak bersuara, hanya tangannya yang terus bergerak mengusap punggung Bunga berusaha untuk menenangkan. Setelah tangisnya sedikit mereda, Sastra lalu melonggarkan pelukannya dan mengusap lembut pipi mulus yang basah karena air mata itu.


"Bukan maksudku mengabaikanmu , tapi apakah kamu tahu? aku sedang melindungi dirimu dari diriku yang saat ini sangat menginginkanmu. Aku ini lelaki normal Bunga, kamu pasti mengerti apa maksudku." Sastra menatap dalam manik mata gadis lugu yang ada di hadapannya itu.


Dengan takut-takut Bunga menatap ke dalam mata kekasihnya itu, ia melihat sorot mata yang diselimuti kabut gairah terpancar jelas dari lelaki yang ada di hadapannya itu. Lalu Bunga memberanikan diri mengalungkan tangannya ke leher Sastra.


"Sas, miliki aku, miliki aku seutuhnya." Entah setan mana yang merasuki Bunga sehingga kata-kata semacam itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


Sastra terkesiap mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Bunga, dia meraup dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Di selipkannya untaian rambut yang terurai, di tatapnya lamat-lamat wajah cantik itu lalu menelisik ke dalam mata indahnya mencari-cari keraguan di dalamnya.


"Apakah kamu yakin? karena jika kamu benar-benar yakin aku tidak akan membiarkanmu menarik ucapanmu lagi."

__ADS_1


Bunga tersenyum dan mengangguk lalu mendekatkan wajahnya mengecup bibir pria itu sekilas. "Sastra Prawira, I'm yours."


__ADS_2