Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 125


__ADS_3

"Selamat datang, Den Sastra, Nyonya Muda." Bik Isah dan beberapa pelayan lainnya menyambut kedatangan mereka.


"Makasih Bik, Papa mana?" tanya Sastra kepada Bik Isah.


"Tuan besar ada acara bertemu walikota, mungkin pulangnya agak malam Den."


"Ya sudah, tolong minta para pelayan membawakan barang-barang istriku di dalam mobil."


"Baik Den."


Bunga hanya terdiam di depan pintu besar itu, ia sedikit ragu untuk melangkah masuk, tetapi kemudian Sastra merangkul pinggangnya.


"Ayo masuk, kamu pasti kelelahan setelah perjalanan tadi." Sastra mengajak Bunga masuk ke kamarnya di lantai dua. Ia menggiringg istrinya ke ranjang yang berukuran king size itu, lalu mendudukkannya di tepian.


"Istirahatlah sayang. Aku keluar dulu, ada urusan sebentar, jika ada yang kamu perlukan panggil saja para pelayan." Sastra mengecup puncak kepala Bunga dan keluar dari kamar.


Bunga mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, ruangan ini benar-benar kamar Sastra, bahkan aroma kamar ini sama dengan wangi tubuh suaminya itu.

__ADS_1


Lalu matanya melihat ke dinding kanan tempat tidur yang dipenuhi foto. Dia turun dan berjalan mendekat memperhatikan foto-foto tersebut. Setelah diperhatikan baik-baik itu adalah foto dirinya dan Sastra saat mereka di Bali dulu, lalu matanya beralih ke foto hitam putih yang berada di samping nakas.


Bunga terharu karena Sastra selalu mengingatnya dan bayinya selama ini, keraguan dihatinya yang tadi sempat terlintas langsung berubah berganti sebuah keyakinan bahwa ia akan berusaha memantaskan diri untuk lelaki yang dicintainya dan juga mencintainya.


****


Sudah satu bulan semenjak menikah mereka masih belum berhasil melakukan malam pertama, karena setiap kali mereka bercumbu lebih dalam lagi Bunga masih belum bisa meneruskannya hingga tuntas. Kengerian itu masih menghantuinya walaupun sudah sedikit memudar.


Sastra dengan sabar selalu memahami kondisi istrinya, walaupun setiap kali itu terjadi ia harus berakhir mengenaskan di kamar mandi untuk menenangkan sesuatu yang mendesak di bawah sana.


Setelah pindah ke kediaman Prawira,


Rutinitas Bunga kini sedang mengikuti kelas profesional membuat kue bersama para chef yang handal, belajar mengemudi, dan juga mengikuti kelas taekwondo.


Sastra sempat melarang istrinya untuk belajar bela diri karena khawatir akan terluka, lagipula sudah ada pengawal yang siap mendampingi kemanapun ingin pergi.


Namun, Bunga meyakinkan bahwa semua itu diperlukan untuk berjaga-jaga, anggap saja sekalian berolahraga, ia ingin menjadi wanita dan juga istri yang kuat untuk pria yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Setiap pagi Bunga selalu merecoki para pelayan di dapur, ia ngotot ingin ikut membantu walaupun Bik Isah melarangnya karena takut tuan mudanya marah.


"Nyonya Muda, biar bibik sama pelayan yang menyiapkan, Nyonya duduk saja dan tunggu di meja makan ya," bujuk Bik Isah.


"Tidak apa-apa Bik, aku ingin membantu. Lagipula jika terlalu banyak duduk membuat pinggangku pegal," sahut Bunga.


Bik Isah hanya pasrah dan membiarkan Nyonya Mudanya itu berkutat di dapur, karena dilarang seperti apapun tidak akan mempan. Bunga selalu beralasan bahwa ia ingin menyajikan makanan untuk suaminya yang dibuatnys dengan penuh cinta.


Pagi ini Mereka bertiga sarapan bersama di meja makan. Sastra sudah rapi dengan setelannya dan Pak Arya yang juga rapi dengan batiknya.


"Sas, kapan kamu ada waktu senggang?" tanya Pak Arya.


"Mungkin pertengahan bulan ini, kenapa Pa?"


"Semenjak menikah kamu langsung disibukkan dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya, jika sudah ada waktu ajaklah istrimu berlibur untuk berbulan madu," usulnya.


"Seminggu lagi aku ada waktu senggang satu minggu, akan kugunakan untuk pergi berbulan madu," jawab Sastra bersemangat.

__ADS_1


"Mengenai tempatnya kamu bicarakan lagi dengan Bunga, mungkin ada tempat yang ingin dikunjungi? dan semoga setelah berlibur kalian memberikan Papa cucu yang banyak agar rumah besar ini tidak sepi lagi," ucap Pak Arya sambil mengulas senyum pada keduanya.


__ADS_2