Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 145


__ADS_3

Sastra berbaring di tempat tidur, ia menelusupkan wajahnya dipelukan Bunga dan tangannya melingkar di perut istrinya itu dengan posesif, semenjak Bunga hamil ia jadi lebih sensitif dengan kadar kemanjaan di atas rata-rata.


"Sayang," ucap Sastra.


"Iya Papi gantengku," sahut Bunga sementara tangannya mengelus-elus rambut Sastra.


"Apa kamu tidak ingin menceritakan sesuatu padaku? sesuatu yang penting mungkin?" Sastra mendongakkan kepalanya, matanya melihat ke arah Bunga.


Bunga menghela napasnya, kemudian balas menatap mata elang itu. "Kamu benar, aku memang ingin mengatakan sesuatu."


Bunga akhirnya menceritakan semua hal yang terjadi beberapa hari terakhir ini, mulai dari kedatangan Caroline ke cafe dan juga tentang rencana jahatnya, Bunga memaparkannya secara terperinci tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Sastra merasakan emosi yang menggulung bergelut di dadanya saat mendengar semua penuturan Bunga tentang apa yang dilakukan Caroline, jantungnya kembali terasa ditarik dengan kuat seolah ada yang ingin melepas paksa dari raganya.

__ADS_1


"Apa setelah pertemuanmu dengan Caroline kamu berniat untuk meninggalkanku lagi?" terselip nada pilu dari kata-katanya.


"Sempat, aku sempat berpikir begitu, tetapi isi kepala dan bisikan batinku bertentangan bertolak belakang. Kepalaku menyerukan agar aku pergi darimu, tetapi hati nuraniku tidak mampu menerimanya. Sukmaku tak henti-hentinya berteriak bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu, tidak bisa lagi, tak ingin lagi berpisah darimu," Bunga berucap tanpa ada keraguan sedikitpun.


"Berapa persenkah kira-kira keinginanmu untuk pergi dariku?"


"Berapa ya? mungkin tujuh puluh persen," jawab Bunga menggoda disusul kekehan pelan.


"Kenapa sebesar itu?" Sastra merajuk, ia kembali menenggelamkan wajahnya di pelukan Bunga dan mengeratkan dekapan tangannya.


"Kamu... kamu menangis?" Bunga menghentikan elusan tangannya.


"Sastra... sayang kenapa menangis?" Bunga mencoba meraih dan menangkup kedua sisi wajah suaminya, dilihatnya matanya sudah memerah dan basah, "Ada apa papi gantengku hmm?"

__ADS_1


"Aku... aku takut kamu benar-benar pergi meninggalkanku lagi, jangan pernah setitikpun kamu mempunyai niat untuk lari dariku lagi. Lebih baik kamu membunuhku daripada aku harus hidup tanpamu disisiku," Sastra berucap dibarengi isakan yang tertahan.


Bunga mengecup kening dan menyeka buliran air mata Sastra yang membasahi pipinya. "Sayang, aku tidak akan pernah pergi darimu lagi, kita hadapi bersama apapun yang terjadi di masa depan. Percayalah padaku, aku akan selalu berada disampingmu."


"Tapi tadi kamu bilang tujuh puluh persen kemungkinannya adalah meninggalkanku, sedangkan aku memberimu seratus persen kepercayaanku dan cintaku hanya untukmu. Apakah aku bisa berpegang teguh pada beberapa persen sisanya?" Sastra merengut kesal.


"Hahaha... ughh gemasny. Aku hanya menggodamu, seratus persen keinginanku adalah selalu ingin bersamamu, berkumpul bersama dengan anak-anak kita dan menata masa depan yang bahagia. Singkirkan pikiran burukmu dan jangan khawatir lagi." Bunga mengecup bibir Sastra sekilas.


"Kamu harus berjanji, kedepannya dan untuk seterusnya jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku. Susah dan senang kita hadapi bersama, aku ini suamimu, sudah tugasku untuk selalu menjagamu dan juga buah hati kita."


"Aku berjanji. Mulai saat ini tidak akan ada yang kurahasiakan lagi darimu, maaf kemarin aku sempat meragu, maukah kamu menerima maafku?" Bunga merasa bersalah karena kemarin pertahanannya sempat goyah.


"Aku sudah memaafkanmu, aku tahu kamu tidak bercerita lebih awal karena punya pertimbangan tersendiri dan aku menghargainya."

__ADS_1


"Terima kasih suamiku sayang." Kedua insan itu kembali berpelukan.


Kini hati keduanya telah terbebas dari rasa ragu dan bimbang, saling percaya dan menjaga itulah yang ingin mereka lakukan mulai sekarang hingga nanti ajal memisahkan. Malam semakin larut, Sastra dan Bunga jatuh tertidur dalam rasa bahagia yang membuncah, mereka terlelap dengan senyuman dan menyelami mimpi indah yang melingkupi keduanya.


__ADS_2