
Bunga melangkahkan kakinya mengikuti Fajar menuju divisi accounting.
"Nona, silakan masuk." Fajar membukakan pintu, di dalam ruangan itu sudah ada empat orang karyawan yang duduk di mejanya masing-masing.
"Rekan-rekan, perkenalkan karyawan baru ini namanya Bunga. Mulai hari ini dia akan bergabung di divisi accounting, semoga semua karyawan bisa saling bekerja sama dengan solid."
"Baik Pak," sahut mereka bersamaan.
"Selamat pagi semuanya, saya Bunga Aulia. Mohon bimbingannya." Bunga menyapa dan memberi salam dan semuanya menyambut dan tersenyum ramah.
"Nona ini meja anda, nanti Bu Lili selaku kepala divisi yang akan memberitahukan tugas-tugas Anda, untuk lebih jelasnya silahkan bertanya langsung kepada kepala divisi dan jika ada yang di butuhkan bisa langsung menghubungi saya," jelas Fajar terperinci.
"Terimakasih Pak Fajar." Fajar mengangguk dan kemudian berpamitan, lalu Bu Lili memanggil Bunga.
"Anak baru cepat kemari!" Gadis itu dengan sigap langsung berdiri menghampiri.
Kepala divisi melihat Bunga dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan mautnya membuat Bunga merinding dipindai seperti itu.
"Anak baru. Untuk tugasmu tanyakan pada Lina. Hei Lina, ajarkan dia pekerjaanmu karena tugas kalian bertiga menangani hal yang sama," seru Bu Lili setengah berteriak.
"Baik Bu," jawab Lina patuh.
"Hai Bunga, kenalin aku Lina. Semoga kamu betah kerja di sini," salahnya pada Bunga.
"Halo juga, mohon bimbingannya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Bunga tersenyum merekah.
"Santai saja, lagipula tugas kita sama, hanya menginput data penjualan dan pemasukan keuangan dan juga mengurutkan jadwal pencairan cek, giro serta valuta asing. Cuma kamu harus hati-hati sama ibu Lili kepala divisi dan juga mbak Risti si wakil kepala yang mejanya sebelah Bu Lili." Tunjuk Lina dan Fira.
"Mereka berdua resenya minta ampun, pokoknya kamu harus tetap berjuang dan semangat ya Bunga," Lina berbisik ke telinga Bunga.
"Aku pasti semangat, terimakasih banyak ya." Bunga duduk di mejanya kemudian Lina menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan, lalu di tengah-tengah pekerjaan mereka terdengar notif dari ponsel Bunga.
"Maaf sebentar ya, sepertinya ada pesan masuk." Bunga merogoh sakunya dan dilihatnya ada pesan dari Sastra.
Sayang makan siang nanti datanglah ke ruanganku, sebelum aku kembali aku ingin makan siang bersamamu.
__ADS_1
Setelah membaca pesan Bunga cepat-cepat memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blazernya.
*****
Tak terasa waktu berlalu, sebentar lagi akan memasuki jam istirahat.
"Bunga, kita makan siang bareng yuk." ajak Lina.
"Lina, maaf banget ya. Aku dipanggil Pak Fajar ke ruangannya, jadi duluan saja." Bunga mencari alasan agar bisa segera pergi ke ruangan Sastra.
"Ya sudah baiklah, tapi setelah selesai segera menyusul ya."
"Oke."
Bunga terpaksa berbohong kepada Lina agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sebelum ke ruangan CEO Bunga pergi ke toilet karena ingin buang air kecil. Saat dia sedang berada di dalam bilik toilet terdengar langkah dua orang masuk kedalam membuka keran wastafel cuci tangan sambil mengobrol.
"Kamu tau nggak anak baru yang masuk divisi accounting? denger-denger dia dapet rekomendasi langsung dari CEO. Terus tadi pagi aku lihat dia di lobi datang bareng si bos, jangan-jangan dia pacarnya lagi?"
"Gak mungkin lah, masa iya polos lugu begitu pacarnya si bos ganteng kita. Kelihatannya pakai make-up aja nggak bisa, menurut kabar yang beredar cewek-cewek yang pernah terlihat bareng Pak Sastra semuanya yang berpenampilan glamor dan sexy, makanya semua karyawan cewek di sini berjuang mati-matian ingin terlihat seperti itu biar di taksir sama si bos," sahut yang lainnya.
"Tapi yang aku heran itu cewek pakai baju, sepatu sama tasnya branded semua. Kalo cuma ngandelin gaji kayaknya gak akan kebeli deh."
"Hush ah, ga boleh nethink, kali aja dia anak holang kaya."
"iya juga sih"
'Cepetan yuk ah, nanti kantin ngantri."
Setelah para wanita yang bergosip itu pergi barulah Bunga keluar dari bilik toilet, mencuci tangan di wastafel dan merapikan penampilannya lalu beranjak pergi ke ruangan Sastra. Dalam hatinya masih dongkol dengan rumpian cewek-cewek tadi yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa bermake-up.
Bunga sampai di depan pintu besar yang bertuliskan CEO lalu mengetuknya. "Masuk," terdengar sahutan dari dalam ruangan.
Terlihat Sastra sedang merapikan dokumen, dan di meja depan sofa telah tersaji berbagai macam menu makanan. "Duduklah, sebentar lagi aku selesai."
Bunga mengangguk dan duduk di sofa. Lalu tak lama Sastra menghampiri dan duduk di sebelah gadis itu.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaanmu, apakah sulit? maaf untuk saat ini hanya posisi itu yang bisa kuberikan, tapi jika terasa terlalu berat bilang saja padaku, aku akan meminta fajar untuk mengatur ulang."
"Tidak usah di atur ulang Sas, sepertinya aku akan cocok dengan posisiku sekarang ini."
"Baiklah, tapi kamu harus bilang padaku jika ada yang membuat tidak nyaman. Bunga, setelah ini aku akan langsung pulang, baik-baiklah disini, akhir pekan nanti aku akan datang berkunjung. Aku sudah menyuruh sopirku untuk mengantar dan menjemputmu, atau kalau kamu bisa mengemudi pakai saja salah satu mobilku."
"Eh tidak usah, sebaiknya aku naik angkutan umum saja, di antar jemput sopir itu terlalu berlebihan, nanti karyawan lain akan curiga padaku."
Pakai baju bermerk ini saja sudah menjadi sorotan dan gunjingan, apalagi diantar jemput sopir, entah apalagi yang akan mereka gosipkan.
"Tapi aku khawatir, kamu masih baru di kota ini, pasti belum hafal jalanan disini bukan?"
"Mmm begini saja, berikan padaku nomor kontak sopirmu, jika nanti aku merasa memakai angkutan umum tidak memungkinkan maka aku akan memintanya untuk mengantarku, bagaimana?"
"Baiklah sayang jika itu yang kamu inginkan, dan untuk beberapa hari kedepan sudah ada bahan makanan di lemari pendingin, tadi pagi aku sudah menyuruh orang untuk berbelanja kebutuhan dapur".
"Terimakasih untuk semuanya Sas, maaf jika aku menjadi beban untukmu." Bunga tertunduk. Lalu tangan Sastra terulur mengangkat dagunya.
"Ssttt..., sayang aku melakukan semuanya untukmu dengan senang hati, jadi jangan pernah berfikir begitu oke? sekarang makanlah sebentar lagi jam istirahat akan segera berakhir."
Bunga mengangguk dan tersenyum.
"Sas, bagaimana kalau aku mencari kontrakan dekat kantor saja?" ujarnya di sela-sela mengunyah makanannya.
"Kenapa ingin pindah?"
"Anu, itu ak-aku takut di apartemen."
Hening sejenak kemudian Sastra tertawa lepas.
"Hahaha, sayang apakah karena soal hantu semalam? maaf.. maafkan aku, tidak ada yang namanya hantu perawan aku hanya ingin menggodamu saja, dan tentang bayangan putih yang kamu lihat itu hanyalah handuk putih yang terkait di gagang pintu, jadi jangan takut lagi ya."
"Sastraaaaa... kamu ngeselin, mengambil kesempatan dalam kesempitan". Bunga menggelitiki Sastra tanpa ampun.
"Hahaha ampun sayang, sudah... sudah aku sudah tidak kuat lagi."
__ADS_1