Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 108


__ADS_3

Sastra dan bodyguardnya langsung mendobrak pintu belakang rumah itu lalu dengan cepat menerobos ke dalam, Sastra mencari sumber suara dan itu berasal dari lantai dua. Ia berlari menaiki tangga seperti orang kesurupan dan tepat di tangga terakhir langkahnya terhenti.


Matanya menangkap sosok Bunga yang berada di sudut kanan dekat tangga, tubuhnya gemetar tanpa sehelai benang pun, salah satu tangannya memegang dress yang sudah tak berbentuk. Gadis itu menangis pilu menekuk lututnya, memeluk tubuhnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya.


Sastra merasakan jantungnya terhimpit, hatinya meringis perih dan jiwanya remuk redam saat melihat sang pujaan hati dalam keadaan yang menyedihkan.


Sastra memerintahkan bodyguardnya untuk tidak naik dulu ke lantai dua, ia tak mau Bunga yang tengah telanjang terlihat oleh orang lain.


Lelaki itu melangkah perlahan, membuka jasnya dan menyelimuti tubuh Bunga. Gadis itu langsung mendongak saat merasakan ada yang menyentuh tubuhnya. Bunga tersentak dan malah makin ketakutan. Bunga pikir itu adalah Rama karena gangguan kecemasannya masih menguasainya.


"Jangan sentuh aku! Kumohon lepaskan aku! Tolong lepaskan aku!" Bunga meracau sembari menangis meraung-raung dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kedua tangan menutup telinganya.


Sastra mundur beberapa langkah, ia tidak ingin membuat keadaan Bunga semakin memburuk. Kemudian Sastra bersimpuh.

__ADS_1


"Sayang, ini aku. Kumohon jangan takut padaku, aku tidak akan menyakitimu. Lihatlah aku dengan benar." Sastra berbicara dengan nada yang selembut mungkin agar tidak menakuti Bunga.


Bunga merasa suara lelaki ini sangat familiar, lalu memberanikan dirinya kembali mendongak. Ia mengusap matanya yang buram karena air mata, kemudian dilihatnya dengan hati-hati lelaki yang sedang bersimpuh berjarak beberapa langkah darinya.


Mata mereka beradu, Sastra menatap Bunga dengan penuh cinta dan kasih sayang lalu merentangkan kedua tangannya.


"Bunga... ini aku, pulanglah bersamaku." Sastra tersenyum dengan lembut, memunculkan lesung pipinya yang dalam saat ia tersenyum.


Bunga mengenali senyum itu, senyum yang sejak pertama kali melihatnya membuatnya tersihir, senyum lelaki yang selalu mengisi relung hatinya.


Bunga berhasil berdiri walaupun bertumpu pada kakinya yang lemas, kedua tangannya memegang kuat jas yang dipakaikan Sastra agar tidak terlepas, lalu melangkah terseok-seok kemudian dengan sekuat tenaga ia setengah berlari dan menubruk dada Sastra.


Sastra langsung merengkuh Bunga dan memeluknya dengan erat, tangannya mengelus lembut punggung yang gemetar itu. Bunga menangis tersedu-sedu menumpahkan segala ketakutannya dalam pelukan Sastra.

__ADS_1


"Tolong aku... a- aku takut. Aku mau pulang," ucap Bunga disela-sela tangisannya.


"Tenanglah... kita akan segera pulang. Jangan takut lagi, ada aku di sini. Kamu aman bersamaku," bisik Sastra selembut mungkin mencoba menenangkan.


Kemudian terdengar suara pria yang mengaduh dari dalam kamar. Rama mulai sadar, ia turun dari ranjang sambil memegangi kepalanya dan melangkah keluar mencari-cari gadis itu dengan hanya memakai boxer.


Saat keluar dari kamar ia melihat Sastra dengan Bunga dalam pelukannya. Rama hendak merangsek, namun dengan cepat Sastra memerintahkan para bodyguardnya meringkus Rama.


Sastra ingin sekali menghajar Rama bahkan mungkin ingin membunuhnya sekarang juga, tetapi saat ini Bunga adalah prioritasnya dan membiarkan para bodyguardnya saja yang mengamankan Rama.


Sastra menghubungi polisi setempat dan melaporkan Rama dengan dakwaan percobaan pemerkosaan dan penganiayaan, tak lama berselang para polisi sudah datang ke villa itu dan membawa Rama ke kantor polisi.


Sastra menggendong Bunga ke mobil, ia duduk di kursi penumpang dengan Bunga dipangkuannya yang masih sesenggukan.

__ADS_1


Salah satu bodyguardnya menyetir mobil Sastra, sedangkan yang lainnya menaiki dua mobil yang tadi mereka bawa kemudian mereka melaju beriringan.


__ADS_2