
Hai my beloved readers yang kusayangi, ini adalah extra part ke delapan dari novel Kapan Menikah dan masih akan ada beberapa extra part lainnya.
Terima kasih banyak untuk apresiasi kalian semua selama ini, juga terima kasih banyak atas dukungan bintang, like, komentar, dan vote poinnya. Dukungan kalian sangat berarti bagiku.
With Love
Senjahari
Happy reading readers๐๐
*****
"Papiiii... Lion bilang jangan pegang-pegang Mami," protesnya.
Bocah tampan itu terus berusaha melepaskan tangan Sastra dengan paksa sambil terisak. Ia mulai marah karena kesulitan melepas tangan papinya yang dengan sengaja mengeratkan rangkulannya di pinggang maminya.
__ADS_1
Arion akhirnya naik ke pangkuan Bunga dan memeluknya posesif. Matanya menatap papinya penuh permusuhan dan air mata mulai berderai di wajah tampan si kecil yang menggemaskan itu dengan dada tersengal naik turun.
"Papinya Rion, sudah jangan digoda terus Arionnya," ucap Bunga sembari tertawa kecil.
Sastra memang suka sekali menggoda putranya yang pencemburu itu. Akhirnya Sastra melepaskan pelukannya dan tersenyum jahil pada putranya.
"Pokoknya Mami Bunga punya Lion, bukan istlinya Papi," protes bocah kecil itu berteriak kesal, pipi gembulnya yang menggemaskan basah oleh air mata dan hidung mancungnya kembang kempis karena menangis.
"Rion anak baik, tidak boleh berteriak sama Papi ya sayang." Bunga mengusap air mata Arion dan mengecup kedua pipi putranya itu.
"Maafin Papi ya jagoan, iya deh Mami cuma punya Rion," Sastra membujuk putranya yang menangis karena ulahnya.
Bocah kecil itu tersenyum penuh kemenangan, ia kemudian mencium kedua pipi Bunga dan menatap penuh peringatan pada Sastra. "Papi juga da boleh tium-tium Mami, cuma Lion yang boleh, iyakan Mami, iyakan?" Arion kembali merengek.
Bunga merapikan rambut Arion dengan tangannya. "Mami memang punya Rion, tapi punya Papi juga. Jadi Mami punya kalian berdua. Rion kan anak pintar tidak boleh begitu sama Papi, yang membelikan robot dan mainan kan Papi, Rion sayang sama Papi kan?" tanya Bunga sambil tersenyum dengan lembut khas seorang ibu.
__ADS_1
Bunga memberikan pengertian pada anaknya dengan bahasa dan nada yang selembut mungkin, karena bagaimanapun juga sebagai orang tua ia sudah harus mulai mendidik untuk memberitahukan mana yang baik dan tidak secara perlahan pada putranya sejak dini.
Mendengar kata-kata mainan kesukaannya fokus bocah itu langsung teralihkan, ia langsung menolehkan pandangannya pada Sastra dan menatap dengan mata beningnya.
"Papi, Lion mau beli bus Tayo dan teman-temannya. Mau beli sekalang, boleh ya Papi." Ia mulai turun dari pangkuan Bunga dan betingsut pindah ke pangkuan Sastra.
"Mmm... gimana ya?" Sastra berpura-pura kebingungan.
"Nanti sambil pulang kita pergi membelinya, tapi sekarang Papi mau peluk Mami, boleh nggak?" tanya Sastra.
Bocah itu tertegun sejenak lalu memandangi orang tuanya secara bergantian, setelah beberapa detik kemudian kedua bola matanya berbinar menatap Papinya.
"Boleh deh, Papi boleh peluk Mami, tapi beli tayonya pengen sekalang," sahut Arion menggemaskan.
"Baik bos kecil." Sastra menciumi Arion dengan gemas, bahkan bocah itu menempel pada Sastra seolah lupa bahwa tadi dia sedang marah padanya.
__ADS_1
Rupanya mainan lebih menarik perhatiannya dibanding Ibunya untuk saat ini, bahkan kini Arion bernyanyi riang dipangkuan Sastra sambil sesekali mencium papinya itu.