Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 68


__ADS_3

Sastra menciumi seluruh wajah Bunga yang pucat pasi dan meracau seperti orang gila.


"Bunga sayang... kumohon jangan seperti ini, buka matamu sayangku, aku memang telah bersalah padamu, tapi tolong jangan hukum aku seperti ini!"


Seluruh tubuh Sastra gemetar, ia sangat takut dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Bunga, lengannya dengan erat memeluk tubuh yang terkulai lemas itu. Sastra menangis, air matanya jatuh membasahi pipinya, terakhir kali dia menangis adalah saat sang mama meninggalkannya untuk selama lamanya.


Baju dan celana Sastra basah oleh darah yang terus mengalir, mobil itu sudah dipenuhi dengan aroma bau amis darah yang menyeruak.


Bagi Sastra perjalanan ke rumah sakit kali ini terasa begitu panjang bagaikan berabad-abad lamanya, padahal Rasya sudah mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Sastra merasa dirinya seperti sedang berdiri ditepi jurang yang licin dan curam dengan angin yang berhembus sangat kencang, sehingga jika salah melangkah sedikit saja maka ia akan langsung terjatuh ke dasar jurang itu membuat rasa takut yang hebat menyelimuti dirinya.


*****

__ADS_1


Hanya dalam waktu lima belas menit mereka sudah sampai di lobi rumah sakit, derap sepatu Sastra yang berlarian di koridor menuju UGD dengan Bunga di pangkuannya terdengar begitu nyaring sarat akan ketakutan di dalamnya diiringi tetesan darah yang memercik di sepanjang lantai Rumah Sakit yang terlewati olehnya.


"Dokter... Dokter... tolong segera tangani pasien ini, tolong Dokter."


Sastra berteriak-teriak dengan napas tersengal. Perawat yang sedang berjaga dengan sigap membawa bed pasien dan dokter menyuruh Sastra untuk membaringkan Bunga, Bunga di bawa masuk ke ruangan gawat darurat dan Sastra beserta yang lainnya diminta untuk menunggu diluar.


Pria berlesung pipi itu bersandar di dinding luar UGD, tubuhnya merosot dan terduduk di lantai, ia sudah tidak mempedulikan pakaian dan tangannya yang dipenuhi oleh darah yang mulai mengering.


Nana duduk di bangku ruang tunggu dan menangis di pelukan Rasya, Nana begitu terkejut dengan apa yang terjadi pada Bunga, padahal tadi sebelum berangkat kerja mereka masih bercakap-cakap dan Bunga masih sempat bergurau dengannya.


Nana merasa bersalah, kalau saja tadi dia tidak meninggalkan Bunga sendirian mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Sudah satu jam Bunga berada di dalam dan pintu ruang UGD masih tertutup rapat, belum ada satupun dokter ataupun perawat yang keluar dari sana, Sastra menunggu dengan gelisah dan rasa khawatirnya semakin memuncak.

__ADS_1


Kemudian pintu UGD terbuka dan keluarlah seorang dokter dari ruangan itu.


"Maaf, yang manakah suami pasien?" Dokter melirik ke arah Sastra dan Rasya.


Mendengar kata suami Sastra sontak berdiri dan menghampiri, sedangkan Nana hanya menatap dokter penuh tanda tanya karena tidak mengerti dengan situasi ini.


"Saya Dokter, saya suaminya," Sastra menjawab tanpa nada keraguan sedikitpun di dalamnya.


"Begini Pak, saya tidak tahu masalah apa yang dimiliki pasien sehingga berusaha untuk bunuh diri dengan meminum obat tidur dalam jumlah yang banyak hingga menyebabkan over dosis, kami masih memantau kondisinya yang masih kritis dan semoga tidak sampai merusak organ hatinya. Hanya saja pasien mengalami pendarahan hebat akibat efek samping obat tidur dalam dosis tinggi yang telah masuk ke tubuhnya."


Dokter sedikit menjeda kata-katanya dan menghela napasnya dalam-dalam.


"Untuk itu kami perlu persetujuan melakukan tindakan kuret karena kandungannya keguguran dan sudah tidak bisa diselamatkan lagi, jika kita tidak segera melakukan kuret maka pendarahan yang dibiarkan akan merusak rahim dan memperburuk keadaan pasien."

__ADS_1


__ADS_2