Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 56


__ADS_3

Caroline makin merangsek mendekati Sastra dengan tubuh telanjangnya, kemolekan tubuhnya yang sempurna sudah pasti akan membuat para pria yang melihatnya kehilangan akal.


Sastra memejamkan matanya dan memijit-mijit pelipisnya. Bohong jika Sastra tidak tergoda melihat langsung sajian mulus yang secara sukarela datang padanya, tetapi di hati dan kepalanya sekarang hanya dipenuhi oleh Bunga seorang.


Tangan Caroline hendak memeluknya, dengan gerakan cepat Sastra menepisnya. Ia mencoba untuk tetap mengendalikan pikirannya agar tidak ikut terperosok ke dalam jebakan wanita gila didepannya ini.


"Carol, sekali lagi aku katakan cepat pakai bajumu dan segera tinggalkan ruanganku sekarang juga! Aku masih menghormatimu karena kakakmu Andrew sangat berdedikasi pada perusahaan, kecuali kamu ingin aku menyeretmu keluar dari sini secara tidak hormat dengan keadaan tanpa busana!" Suara Sastra meninggi sarat dengan emosi.


"Tidak! Jika kamu melakukan itu maka aku akan berteriak dan mengatakan pada orang - orang bahwa kamu telah melecehkanku. Aku tidak akan membuat keributan asalkan kamu mau bersamaku saat ini juga, hanya itu. Tidak sulit bukan?"


"You are crazy woman Carol! Silakan kamu berteriak dan kujamin mereka tidak akan percaya padamu. Di dalam ruanganku ini memang tidak terekam CCTV, tetapi aku sudah memasang kamera pengintai khusus beresolusi tinggi yang hanya bisa diakses secara pribadi oleh diriku sendiri, sehingga apa yang kamu lakukan tadi akan terekam dengan sangat jelas. Jadi aku hanya tinggal memutar videonya dan orang-orang akan mengetahui siapa yang melecehkan siapa sebenarnya!" Sastra menipiskan bibirnya sinis.

__ADS_1


Napas Caroline tersengal menahan amarah, dia bahkan sudah merendahkan dirinya di depan Sastra, tetapi lagi-lagi lelaki itu menolaknya.


"Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini selagi aku masih bersikap baik padamu!" Sastra keluar dari ruangannya dan membanting pintu dengan kencang meninggalkan Caroline di dalam sana yang berteriak frustasi karena rencananya gagal total.


Sastra meminta sopirnya untuk mengantarnya kembali ke hotel, ia ingin beristirahat sejenak setelah kejadian yang menguras emosinya barusan.


Begitu memasuki kamarnya Sastra langsung menuju ke kamar mandi dan mengguyur dirinya di bawah shower, ia berusaha menjernihkan pikirannya kembali akibat hasratnya yang sempat sedikit terpancing.


Sudah empat hari Bunga merasa tidak enak badan. Sejak muntah waktu di restoran Jepang setiap pagi dia selalu merasakan mual yang sangat hebat, Bunga tidak bisa menyantap makanan apapun selain es krim. Bahkan dia mendadak sangat benci dengan aroma kue dan croissant yang sangat disukainya.


Hari ini Bunga izin bekerja karena tubuhnya benar-benar lemah setelah muntah-muntah lagi sejak pagi buta tadi dan memutuskan untuk menemui dokter karena kondisinya tidak kunjung membaik.

__ADS_1


Bunga tampak sedang duduk menunggu namanya dipanggil perawat dan tak berapa lama namanya disebut. Bunga masuk ke dalam ruangan periksa diantar oleh perawat.


"Apa keluhan anda Nona?" Dokter didepannya bertanya pada Bunga.


"Sudah empat hari saya selalu merasakan mual yang sangat hebat, kepala terasa berputar dan saya tidak bisa mengkonsumsi makanan selain es krim. Saya memang rentan masuk angin jika udara dingin, tetapi biasanya tidak pernah separah ini," jelas Bunga.


"Silahkan berbaring, saya akan memeriksa Anda." Dokter memeriksa dengan seksama dan kemudian tersenyum. "Sepertinya anda harus ke Dokter Spesialis Obgyn, mual dan muntah yang anda alami terjadi karena menurut perkiraan saya anda sedang hamil muda Nona, apakah anda tidak memperhatikan jadwal menstruasi anda?"


Bunga terkesiap mendengarnya, kalau diingat-ingat memang benar dia belum mengalami datang bulan lagi sejak Sastra berangkat ke New Zealand. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan antara senang dan cemas menjadi satu. "Saya... saya hamil Dokter?"


"Untuk lebih memastikannya perawat akan mengantar anda ke klinik Obgyn untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis kandungan, silahkan Nona."

__ADS_1


Bunga masih setengah tidak percaya mendengar perkataan dokter umum tadi, dia berusaha tetap tenang dan melangkahkan kakinya mengikuti perawat menuju ruang periksa dokter kandungan.


__ADS_2