
"Kak Rama, kapan datang?" sapa Bunga sambil membuka apronnya.
"Baru saja, bisa bicara sebentar? ada hal yang ingin kusampaikan."
"Duduklah Kak, aku buatkan kopi." Bunga membuat kopi menggunakan mesin espresso lalu ia membawa dua cangkir kopi dan duduk berhadapan dengan Rama.
"Ada apa Kak?" Bunga bertanya disela-sela menyesap kopi buatannya.
"Akhir pekan ini, akan diadakan pesta pembukaan Rumah Sakit Wira Medika Internasional Hospital yang baru selesai dibangun dan Flower's Cake & Bakery akan menjadi salah satu pemasok makanan juga di rumah sakit itu. Kak Nadine mengundangmu untuk datang, dia akan mengenalkanmu pada dokter ahli gizi yang akan bertugas disana," ucap Rama sambil mengambil cangkir kopinya.
"Benarkah? tapi apakah aku harus benar-benar datang langsung?" Bunga tampak meremas ujung rok yang dipakainya.
"Kenapa? apa kamu takut kambuh lagi? justru dengan mencoba banyak berinteraksi dengan orang baru itu akan membantu penyembuhanmu." Rama mencoba meyakinkan.
"Aku hanya takut tiba-tiba gangguan kecemasanku datang saat sedang berada di keramaian, walaupun sudah beberapa bulan belakangan ini aku bisa mengendalikan diriku tanpa meminum obat penenangku lagi," jawab Bunga.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku dan kak Nadine akan berada di sana juga. Aku akan menemanimu, kamu bawa saja obatmu untuk berjaga-jaga."
"Baiklah aku akan datang." Bunga mengangguk dengan mantap.
"Lia, kenapa kamu tidak mempekerjakan koki saja? atau biarkan karyawanmu untuk membantu dalam proses pembuatan kue. Apa kamu tidak kelelahan mengerjakannya sendiri?" Rama menaruh cangkirnya kembali dan melipat kedua tangannya di atas meja.
"Aku ingin kue di tokoku dibuat oleh tanganku sendiri. Saat orang lain menikmati kue buatanku dan mereka menyukainya, ada kebahagiaan tersendiri yang kudapatkan. Untuk saat ini aku masih bisa menanganinya, lagipula untuk urusan memanggang ada ibuku yang membantu," sahutnya.
"Kamu selalu bersemangat, itulah kenapa aku menyukaimu," goda Rama.
"Jangan suka padaku Kak, karena aku tidak berminat pada pria tampan dan kaya!" Bunga terkekeh.
"Sepertinya usulanmu tentang pria miskin dan buruk rupa boleh juga Kak." Bunga tertawa lepas melihat Rama yang kesal karena dirinya.
"Oh iya hampir saja lupa, kak Nadine memesan beberapa macam kue untuk pesta pembukaan, ini daftarnya." Rama menyerahkan secarik kertas pada Bunga.
__ADS_1
"Wah, banyak sekali pesanannya, sampaikan ucapan terimakasihku pada dokter Nadine," ucap Bunga dengan senyum merekah.
*****
Sore ini Bunga meminta Nisya menemaninya berbelanja, sementara toko dijaga oleh tiga orang karyawan lainnya dan juga Bu Marni. Bunga memesan taksi dan sekarang mereka berdua sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan.
"Mbak Lia, sebenarnya mau belanja apa sih?" Nisya bertanya sambil mengunyah permen karetnya.
"Aku mau membeli gaun untuk menghadiri acara penting akhir pekan ini, tolong bantu pilihkan ya!"
"Mau beli gaun yang bagaimana? ingin yang terkesan seksi, dewasa, atau imut-imut?" tanya Nisya dengan hebohnya.
"Aduh aku bingung Nis, yang penting terlihat sopan aja deh, aku ingin memberikan kesan yang baik dan jangan sampai mempermalukan dokter Nadine yang telah mengundangku."
Setelah lama memilih akhirnya pilihan Nisya jatuh pada gaun berwarna navy yang terbuat dari kain beludru yang sangat lembut, gaun panjang semata kaki, model sabrina.
__ADS_1
"Nah yang ini aja, cocok banget sama kulit kuning langsatnya Mbak Lia." Nisya mengambil gaun tersebut dan membolak-balikkannya.
"Ya sudah bungkus saja yang itu, sekalian antar aku membeli sepatu dan tas juga," serunya kemudian bergegas membayar.