
Setiap waktu sarapan pagi, lelaki berlesung pipi itu pasti datang ke Flower's Cake & bakery. Juga hampir setiap malam, ia selalu datang untuk memandangi lantai dua ruko itu dari jarak yang tidak terlampau dekat.
Joka lampu kamar Bunga telah mati, barulah ia akan pulang ke apartemen. Sastra sudah bertekad akan berjuang untuk mendapatkan kembali kekasih hatinya, ia tak ingin terpisah lagi dari orang yang sangat dicintainya.
Tanpa sepengetahuan Bunga, Sastra juga menugaskan orang-orang bayarannya untuk berjaga di sekitar toko siang dan malam, alasannya ialah untuk menjaga keamanan serta keselamatan Bunga.
Begitu juga dengan Rama, setiap sore dia selalu berusaha datang ke tempat Bunga. Rama mulai khawatir karena lambat laun gadis itu mulai melunak pada Sastra, dia tidak mau itu terjadi dan ingin agar Bunga tetap membenci Sastra seperti dulu
Rama memutar otak, langkah apa yang harus diambilnya untuk menjauhkan Bunga dari Sastra dan bagaimana caranya agar gadis itu bisa terikat padanya. Setelah lama berpikir sepertinya dia mendapatkan ide, sore itu Rama segera menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit dan langsung meluncur ke tempat Bunga.
"Nis, Tante Marni ada?" tanya Rama yang baru saja sampai.
"Tumben hari ini nyarinya Tante Marni? biasanya cuma Mbak Lia yang ditanyain," balas Nisya cuek.
"Aku nanya serius Nis." Rama mendengus kesal.
__ADS_1
"Ya kali aja dokter ganteng berubah haluan, karena anaknya gak dapet, akhirnya emaknya aja yang diembat," ucap Nisya dengan nada meledek sambil berlalu masuk ke belakang mencari bu Marni.
Rama memijat pelipisnya karena Nisya membuatnya jengkel, padahal saat ini benar-benar sedang ada hal serius yang berputar di kepalanya, jangan sampai konsentrasinya buyar hanya karena kejengkelannya.
"Nak Rama," sapa bu Marni kemudian duduk di kursi yang letaknya berhadapan dengan Rama. "Kata Nisya nyari Tante, ada apa?"
"Mmm begini Tante, ada hal penting yang ingin saya bicarakan." Rama berusaha bersikap tenang di tengah kegugupannya.
"Hal penting?" Bu Marni tampak mengernyitkan dahinya
DEG ....
Bu Marni sedikit terkejut. "Apa Lia mengetahui tentang hal ini?"
"Justru itu Tante, Lia tidak tahu saya ingin melamarnya. Maka dari itu saya meminta bantuan Tante untuk meyakinkannya," nada bicara Rama terdengar memelas namun memaksa.
__ADS_1
Bu Marni tampak kebingungan. Pasalnya setahu dia anaknya itu tidak mempunyai hubungan spesial apapun dengan Rama. Sebenarnya dia juga merasa jika dokter muda itu menyukai anaknya, terlihat kentara sekali dari bahasa tubuhnya, tetapi sayangnya selama ini Bunga hanya menganggap Rama seperti kakak yang melindunginya bukan sebagai kekasih.
"Saya ingin memperistri Lia Tante, saya tahu Lia belum mencintai saya, tapi itu tidak masalah sama sekali. Saya berjanji akan menjaga dan membahagiakannya, dan juga profesi saya adalah seorang dokter psikiatri yang bisa membantunya untuk sembuh total secara tuntas."
Rama mengiming-imingi bu Marni dengan janji semacam itu, padahal sebagai dokter dia tahu bahwa untuk bisa pulih sepenuhnya bukanlah hal yang mudah.
"Sebelumnya Tante minta maaf Nak Rama, sebaiknya hal seperti ini dibicarakan dulu dengan yang bersangkutan karena ini hal yang sangat penting," tegas Bu Marni.
"Maka dari itu saya meminta bantuan Tante untuk meyakinkan Lia, saya yakin dia pasti akan menerima jika Tante yang meminta padanya." Rama tetap memaksa tanpa tahu malu.
"Tante tidak bisa mengambil keputusan sendiri secara sepihak, apalagi ini tentang masa depan Lia. Demua keputusan ada di tangannya,Tante tidak ingin memaksa Lia dan mengulangi kesalahan yang sama seperti di masa lalu. Jadi maaf sekali, Tante tidak bisa menerima lamaranmu tanpa persetujuan Lia."
"Apakah ini karena ada kemungkinan Lia masih mencintai pria brengsek itu. Tante tidak dendam padanya? ingatlah dia sudah menghancurkan hidup Lia, seharusnya Tante membencinya juga bukan? kenapa membiarkan dia berkeliaran di dekat Lia." Rama mulai agak kesal karena Bu Marni sepertinya tidak bisa di ajak kerjasama.
"Tentang bagaimana perasaan Lia Tante tidak bisa menjawabnya, kamu bisa tanyakan langsung sendiri padanya. Dendam dan benci dulu memang pernah ada, tapi sekarang Tante sudah memutuskan untuk berdamai dengan dua kata itu. Tante ingin hidup Lia kedepannya penuh kebahagiaan dalam kedamaian, karena dendam dan kebencian hanya akan menenggelamkan kita dalam kubangan penderitaan," tutur bu Marni sambil mengulas senyum lembutnya khas seorang ibu.
__ADS_1