
Tidak butuh waktu lama bagi Caroline untuk mendapatkan informasi yang dicarinya. Dia membaca semua data yang berhasil ditemukan oleh orang-orangnya.
Caroline merasa heran, kenapa Sastra menikahi seorang gadis sederhana pemilik toko kue? Itu sama sekali tidak sesuai dengan image keluarga Prawira.
Menurutnya yang pantas menjadi menantu keluarga itu setidaknya dari kalangan putri pejabat tinggi atau putri pengusaha terkemuka di negeri ini, atau mungkin juga seorang model terkenal serta artis papan atas.
Apa sebenarnya kelebihan gadis ini? Ataukah mungkin gadis ini seorang penggoda yang ulung? Yang menghalalkan segala cara untuk bisa memanjat status sosial? Mungkin saja dibalik wajah polosnya itu dia menjebak Sastra sehingga mengharuskan Sastra menikahinya?
Berbagai macam pertanyaan berputar-putar di otaknya. Namun, saat membaca halaman terakhir dari data yang diterimanya dia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Disitu menjelaskan bahwa gadis yang bernama Bunga Aulia itu adalah salah satu pasiennya Dokter Nadine selama hampir dua tahun belakangan ini. Nadine adalah seorang dokter spesialis psikiatri, sudah bisa ditebak bahwa yang menjadi pasiennya adalah orang-orang yang mempunyai gangguan mental, entah itu ringan ataupun berat.
Caroline menyeringai menipiskan bibirnya, informasi semenarik ini jika tercium oleh media pasti akan menjadi trending topik. Jika tersebar berita bahwa menantu keluarga Prawira mempunyai gangguan mental, entah bagaimana reaksi publik dan pasti berefek tidak sederhana terhadap citra Prawira Grup.
Tetapi Caroline tidak akan serta merta menyebarkan informasi ini, untuk sekarang dia akan menggunakannya sebagai senjata agar bisa mengendalikan Sastra.
__ADS_1
*****
Satu minggu telah berlalu dan pasangan pengantin baru itu telah kembali ke Jakarta.
Tampak pagi ini Bunga tengah membantu Sastra berpakaian.
"Sas, aku ingin minta sesuatu, bolehkah?" Bunga berbicara sementara tangannya sibuk mengancingkan kemeja Sastra.
"Mintalah apapun yang kamu inginkan, aku pasti akan berusaha untuk bisa memenuhinya." Sastra mengecup puncak kepala Bunga.
"Begini, sebenarnya aku ingin membuka gerai usaha untuk menyalurkan hobiku membuat kue di sini, tapi itupun jika kamu mengizinkan." Bunga menatap Sastra dengan tatapan memohon.
"Tidak, sama sekali tidak. Bahkan lebih dari cukup karena kamu mentransfer jumlah yang gila kedalam rekeningku. Hanya saja aku juga ingin punya kegiatan dan rutinitas, setiap hari harus berdiam diri di rumah besar ini aku merasa agak jenuh, terlebih lagi saat siang hari kamu dan Papa tidak ada di rumah." Bunga merengek manja pada suaminya.
"Hmmmm... baiklah istriku ratuku cintaku bidadariku, akan kuatur semuanya sesuai keinginanmu. Hanya saja kamu tidak boleh terlalu lelah, pilih koki yang kamu inginkan untuk membantumu nanti, dan juga biarkan para koki dan pekerja saja yang mengurus pembuatan kue. Kamu tidak perlu terjun sendiri, cukup arahkan dan perhatikan saja kinerja mereka, oke?"
__ADS_1
"Ughhhh thank you very much honey, you are the best, muach muach muach muach." Bunga mengecupi Sastra dengan gemas, lalu melanjutkan memasangkan dasi suaminya itu.
"Sayang, kamu sengaja memancingku ya?" Sastra melingkarkan tangannya di pinggang Bunga.
"Memancingmu? memangnya kamu ikan!"
"Kecupanmu tadi membuatku malas berangkat ke kantor." Sastra mulai merajuk.
"Eitsss tidak boleh, kamu sudah cuti seminggu, sekarang saatnya bekerja Tuan.
Nanti siang akan kubawakan makan siang ke kantor." Sentuhan terakhir, Bunga memakaikan jas pada suaminya.
"Selesai... ayo kita turun untuk sarapan, Papa pasti sudah menunggu."
"Cium dulu!" Sastra mendekatkan pipinya pada Bunga.
__ADS_1
Bunga tersenyum geli dan kemudian mengecup pipi suaminya itu.
"Nah sudah, ayo suamiku sayang." Bunga menarik lengan Sastra sementara pria itu melangkah gontai dengan malas, ia tidak mood berangkat ke kantor dan hanya ingin berduaan di rumah saja dengan istri cantiknya.