Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 91


__ADS_3

Nadine segera berlari menghampiri ketika melihat Sastra dan Rama berkelahi, Tommy masih mencoba memisahkan yang malah berakhir terkena bogem mentah dari dua pria yang tengah berseteru itu.


"Kalian berdua hentikan!" Nadine berteriak membuat keduanya menghentikan ayunan tinju mereka.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian malah berkelahi hingga babak belur begini hah?"


Bibir Sastra robek dan hidung Rama juga berdarah. Mereka berdua terdiam, lalu terdengar isakan Bunga yang sedang memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya ketakutan.


Nadine menoleh ke sumber suara, dia langsung mendekati Bunga dan memeluknya. Bunga menegang, bulir- bulir peluh di pelipisnya semakin deras. Nadine membongkar tas gadis itu dan beruntung Bunga membawa obat anti depresannya, dia memberikannya pada Bunga untuk diminum.


Sastra langsung bangkit bermaksud mendekati Bunga, tapi Rama menahan dadanya membuat Sastra kembali menggeram emosi, ia mencekal tangan Rama yang menyentuh dadanya.


"Kalian berdua bisa berhenti tidak! Kalian membuatnya ketakutan! Lagipula kalian sudah dewasa, coba bicara baik-baik, bukan dengan memakai kekerasan! Kamu juga Rama, bukankah kamu sudah tahu kondisinya hah? Kenapa kamu tidak bisa mengontrol emosimu!"


Perlahan keduanya melepaskan cekalan tangan masing-masing, walaupun mata mereka masih memancarkan kilat amarah.


Lambat laun Bunga mulai tenang, efek obatnya mulai bekerja, napasnya kembali teratur dan mulai jatuh tertidur di pelukan Nadine.

__ADS_1


"Sebaiknya sekarang kita memesan kamar untuk Lia disini agar dia bisa beristirahat, lagipula aku tidak mungkin mengantarkannya pulang dalam keadaan seperti ini dan meninggalkannya sendirian, saat ini dia sendiri di ruko karena ibunya sedang pulang ke desa," ucap Nadine.


Nadine bermaksud meminta tolong Tommy untuk memesankan kamar tapi Sastra menahannya.


"Aku akan membawanya ke kamarku, aku menginap disini dilantai lima kamar 304." Sastra mendekati Nadine hendak mengambil alih Bunga dari pelukannya.


"Jangan harap! Jangan pernah Lo nyentuh dia Bang, singkirin tangan Lo!!" Rama menjegal tangan Sastra.


"Justru lo yang jangan pernah bermimpi, dia milik gue! Jangan ikut campur urusan pribadi gue!"


Sastra menyentakkan tangan Rama dan menggendong Bunga tanpa memperdulikan Rama yang mengumpat padanya. Nadine menahan tangan adiknya dan memberi isyarat untuk berhenti, lalu mereka semua mengikuti di belakang Sastra memasuki lift.


Sastra masuk ke kamarnya diikuti yang lainnya, lalu ia membaringkan Bunga dengan hati-hati dan menyelimutinya.


"Sas kita perlu bicara." Nadine menatap serius ke arah Sastra.


"Kita bicara disana." Sastra menunjuk sofa di dalam kamar suit roomnya yang agak jauh dari tempat tidur.

__ADS_1


Semuanya menuju sofa.


"Tommy, kamu kembalilah ke aula dan tolong beritahu Papaku bahwa aku ada urusan mendadak dan tidak bisa mengikuti acara pesta hingga selesai," perintah Sastra.


"Baik Pak." Tommy segera undur diri.


"Rama kamu juga pulanglah, dan obati lukamu!" titah Nadine pada adiknya.


"Tapi Kak?" Rama hendak menolak.


"Jangan membantah! Ada yang harus kakak bicarakan empat mata dengan Sastra, jadi kamu cepat pulang!"


"Baik, aku akan pulang." Lalu Rama menatap penuh permusuhan ke arah Sastra." Awas Lo Bang kalau berani macam-macam sama Lia!"


Sastra tidak menjawab, hanya melemparkan tatapan tajam pada Rama yang tajamnya melebihi sebilah pedang.


Rama melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dengan perasaan yang yang begitu kesal.

__ADS_1


Kini Nadine dan Sastra duduk berseberangan saling berhadapan, Nadine berdiri kemudian tanpa disangka tangannya melayang menampar Sastra.


PLAK....


__ADS_2