
Bunga mencengkeram erat kemeja Sastra seolah menyalurkan rasa takut yang menderanya, ia masih terisak dipangkuan lelaki itu.
Sastra mengambil selimut kecil yang selalu dibawanya di dalam mobil. Sejak berpacaran dengan Bunga dulu, ia selalu membawa benda itu dalam mobilnya dan menjadi kebiasaan hingga sekarang. Sastra selalu membawanya karena Bunga rentan dengan udara dingin.
Sastra menggunakan selimut untuk menutupi dan membungkus tubuh Bunga yang hanya terbalut jas, memastikan agar Bunga tetap hangat karena perjalanan ke pusat Kota Banjarmasin masih sekitar dua jam lagi disebabkan medan jalan yang tidak mudah.
Mungkin jika siang hari jarak tempuhnya hanya satu jam saja, tetapi karena ini malam hari mereka harus ekstra hati-hati mengemudikan mobilnya.
Dibelainya surai panjang Bunga dengan lembut, dibisikkannya kata-kata yang menenangkan dan menghibur, meyakinkan bahwa dia sudah aman sekarang. Perlahan gadis itu mulai tenang, cengkeramannya melonggar dan embusan napasnya teratur, hingga akhirnya Bunga tertidur di pangkuan Sastra.
Dirapikannya anak rambut Bunga yang menutupi dahi, ditatapnya lamat-lamat wajah yang kini tengah tertidur itu. Matanya sembab, kedua pipinya lebam bekas tamparan, sudut bibirnya terluka, bahkan pergelangan tangannya membiru.
Amarahnya pada Rama makin meledak-ledak, dadanya terasa nyeri dan sesak melihat keadaan Bunga saat ini, diciumnya lembut kening gadis itu cukup lama seakan ingin mencurahkan segala rasa yang berkecamuk dihatinya saat ini.
*****
__ADS_1
Dini hari mobil yang membawa mereka sampai di parkiran RS Wira Medika Internasional Hospital. Sastra turun dan menggendong Bunga masuk melalui lift khusus yang terhubung langsung ke lantai perawatan privat, ia menyuruh bodyguardnya untuk menjemput Nadine dengan segera.
Bunga ditangani di ruangan privat VVIP yang khusus disiapkan untuk keluarga besar Prawira di rumah sakit ini.
Saat para perawat wanita hendak melepaskan selimut yang membungkus badannya, Bunga terbangun. Gadis itu kembali ketakutan dan menjerit, Sastra yang berada di dekat pintu ruangan langsung masuk dan memeluknya.
"Sas, aku nggak mau di sini, aku mau pulang. Aku nggak suka ranjang rumah sakit, aku takut... aku takut mereka akan mengikat tangan dan kakiku lagi seperti dulu, hiks hiks hiks" Bunga memegang erat lengan Sastra dan kembali menangis.
"Tidak akan ada yang berani mengikatmu. Jangan takut ada aku, kamu aman disini. Mereka hanya ingin membersihkan badanmu, mengganti pakaianmu, dan mengobati lukamu."
Bunga menatap Sastra dengan sorot mata seperti anak kucing yang meminta perlindungan, Sastra mengelus kepalanya berusaha menenangkan.
"Sebenarnya dia kenapa?" Napas Nadine masih ngos-ngosan.
"Kita bicara nanti, sekarang tolong tangani Bunga dulu, aku akan menghubungi ibunya."
__ADS_1
Sastra menangkup kedua sisi pipi Bunga dengan hati-hati. "Sayang, Nadine akan merawatmu. Aku keluar sebentar, tidak akan lama."
"Jangan pergi! Jangan kemana-mana! Aku takut... aku takut." Bunga malah menangis makin kencang.
"Iya iya Baiklah, aku akan tetap disini. Sekarang biarkan Nadine merawatmu, aku akan menemani." Sastra duduk di kursi dekat ranjang.
Bunga pun mengangguk dan Nadine beserta para perawat wanita bergerak cepat membersihkan seluruh tubuh Bunga yang dibanjiri keringat dingin, memakaikan baju bersih dan mengobati lukanya, Nadine juga menyuntikan obat penenang ke dalam cairan infus.
Sastra segera menghubungi Bu Marni dan memerintahkan salah satu bodyguardnya untuk menjemput ke toko. Setelah Nadine dan para perawat undur diri, Sastra duduk di tepi ranjang.
"Sas, aku mengantuk." Obat penenangnya mulai bereaksi.
"Tidurlah sayang." Sastra membelai rambut Bunga.
"Temani aku tidur, aku ingin di peluk, aku takut." Bunga setengah merengek dan menggenggam erat tangan pria itu.
__ADS_1
Sastra naik ke tempat tidur. Beruntung tempat tidur VVIP ini cukup besar, cukup untuk memuat dua sampai tiga orang dewasa. Ia memposisikan tubuhnya miring, menyelipkan tangannya sebagai bantalan kepala Bunga dan satu tangannya yang lain merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dengan hati-hati agar tidak menarik selang infus.
Bunga menenggelamkan dirinya di pelukan Sastra, menghirup dalam-dalam aroma yang menenangkan di sana seolah mencari perlindungan untuk jiwanya yang ketakutan.