
Sudah satu bulan berlalu sejak kepergian pak Wahyu kini Bunga sudah lebih ceria lagi seperti biasa. Apalagi Sastra membelikan semua keperluan dan peralatan membuat kue untuk Bunga, sehingga gadis itu bisa kembali tersenyum lepas saat berkutat dengan hobinya di dapur.
Sekarang jika libur bekerja dia lebih betah di apartemen untuk sekadar bersih-bersih atau mencoba membuat resep kue yang baru, karena dengan begitu dia bisa melupakan semua kesedihan di hatinya.
Ditambah dengan Sastra yang selalu setia datang di akhir pekan untuk menghabiskan waktu bersamanya membuat Bunga selalu merasa terhibur dengan kehadirannya.
Akhir-akhir ini Bunga sangat jarang pulang ke rumah orang tuanya. Ia sebisa mungkin menghindari perdebatan dengan ibunya karena setiap kali bertemu selalu hal yang sama yang dituntut dan dibahas.
Bunga hanya sesekali menelepon ke rumah, itupun hanya untuk memastikan uang yang dikirimnya sudah masuk ke rekening ibunya. Bunga mentransfer seluruh gajinya secara utuh untuk keperluan ibu dan adiknya karena keperluan pribadinya sudah di penuhi semuanya oleh Sastra.
*****
Bunga sedang menyiapkan keperluannya untuk dinas ke Bali seperti yang dijadwalkan sebelumnya. Lalu terdengarlah pintu apartemennya berbunyi dan itu sudah dipastikan Sastra yang datang.
__ADS_1
Sastra datang menyeret kopernya dan meletakkannya di dekat sofa ruang tamu, ia mencari Bunga ke kamarnya dan terlihatlah Bunga yang sedang berbenah, Sastra kemudian berdiri di ambang pintu.
"Apa semua keperluan yang akan kamu bawa sudah siap?" tanyanya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Bunga menolehkan kepalanya ke arah pintu, lalu ia tersenyum manis pada Sastra. "Semuanya hampir siap, aku tinggal mengepak beberapa baju tidur saja."
Sastra masuk ke dalam kamar dan menghampiri Bunga. "Tinggal yang mana yang belum di masukan?"
"Itu yang di atas tempat tidur, cuma sedikit lagi." Tunjuk Bunga ke arah tempat tidur.
"Jadi kamu cuma kangen sama masakan aku gitu?" Bunga mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja aku kangen keduanya, kangen masakannya dan juga orangnya," godanya.
__ADS_1
"Baiklah tuan gombal, mau kubuatkan apa?"
"Apa saja, walaupun sejujurnya kamu terlihat lebih menggiurkan dari makanan apapun?" rayunya sambil menyeringai jahil.
"Jangan mulai deh! Atau nanti sandal yang kupakai ini bakal terbang lagi," sahutnya galak kemudian ia berlalu keluar dari kamar.
Sastra tergelak, sebenarnya ia tidak begitu lapar. Tadi itu hanya alasan saja agar Bunga keluar dari kamar, ia berniat mengganti baju tidur yang akan di bawa Bunga dengan gaun-gaun tidur yang pernah dibelinya.
Karena ketika Bunga mengatakan akan mengepak baju tidurnya dia melihat baju yang akan dibawa Bunga adalah trening dan dan kaos lengan panjang yang biasa di pakai Bunga jika dirinya sedang menginap di apartemen ini. Padahal kalau Sastra tidak sedang menginap, saat tidur Bunga akan memakai gaun tidur yang dibelikan olehnya.
Dengan cepat Sastra memasukkan beberapa gaun tidur ke dalam koper Bunga dan menyembunyikan baju tidur yang asalnya akan di bawa Bunga ke bagian paling bawah lemari lalu ditindih dengan baju-bajunya agar sulit ditemukan.
Setelah selesai dia segera keluar kamar lalu duduk di meja makan dengan memasang wajah tanpa dosa, Bunga segera menghampiri sambil membawa hidangan yang kemudian diletakkannya di meja makan.
__ADS_1
"Hari ini aku cuma masak sup iga dan perkedel kentang, aku tidak yakin ini sesuai dengan seleramu."
"Aku selalu suka apapun yang kamu buat sayang, bon appetit."