Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 78


__ADS_3

Sastra melajukan mobilnya ke daerah perbukitan, lalu ia memarkirkannya tak jauh dari sebuah area pemakaman. Ia berjalan masuk ke dalam pemakaman tersebut kemudian berdiri di depan salah satu batu nisan dan meletakkan buket bunga mawar putih yang dibelinya, di nisan itu tertera nama Marissa Narendra.


"Mom ini aku, kubawakan bunga mawar putih favoritmu, apa Mom masih menyukainya?" Sastra tersenyum getir.


"Terima kasih sudah datang ke dalam mimpiku, aku sangat bahagia. Sepertinya sudah saatnya aku membuang kebencianku pada Papa. Mungkin perasaan Papa sama sepertiku sekarang, dihantui rasa bersalah yang tak berujung karena telah melukai orang-orang yang kami cintai. Tolong jaga putraku, aku merindukanmu, aku pergi Mom."


*****


Sebuah mobil hitam memasuki gerbang kediaman utama keluarga Prawira.


"Selamat datang kembali di rumah Den Sastra." Bik Isah menyambut Sastra di depan pintu.


"Papa kemana Bik?"

__ADS_1


"Tuan besar sedang ada acara di balai kota , petang nanti baru kembali," tutur bik Isah.


"Ya sudah, aku mau beristirahat di kamarku, mulai hari ini aku akan tinggal disini lagi. Tolong suruh pelayan lain untuk mengangkat koperku di bagasi dan langsung bawa ke kamarku." Sastra segera masuk ke dalam rumahnya menuju kamarnya di lantai dua.


"Baik Den."


Wanita tua itu tersenyum merekah. "Tuan besar pasti senang sekali, akhirnya Den Sastra mau pulang ke rumah, terima kasih Tuhan, semoga keluarga ini bisa berkumpul kembali tanpa terpecah belah lagi." Bik Isah bergumam sendiri saking senangnya dengan kepulangan Sastra.


Sastra membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Sudah bertahun-tahun namun semuanya masih sama seperti dulu, barang-barangnya tertata dengan rapi dan terawat, sepertinya para pelayan di rumah ini membersikan kamarnya dengan teratur.


*****


Malam ini tampak ayah dan anak itu tengah duduk bersama di taman samping rumah sambil menikmati teh yang masih mengepul.

__ADS_1


"Sas, Papa sangat senang akhirnya kamu kembali pulang Nak."


"Sudah saatnya aku kembali lagi kesini Pa." Sastra berdiri lalu melangkah mendekati ayahnya dan bersimpuh di hadapan sang Ayah.


"Maafkan Sastra Pa, maafkan semua kesalahan dan kebencianku pada Papa," ucapnya lirih.


"Sas, kamu tidak salah apapun Nak, semuanya adalah salah Papa." Dielusnya kepala sang anak.


"Pa, apakah aku masih pantas di maafkan?"


"Kenapa kamu berbicara begitu Nak, ada apa sebenarnya?" Arya Prawira menatap prihatin putranya yang saat ini terlihat rapuh.


"Aku telah menyakiti dan melukai orang yang sangat berarti dalam hidupku, karena kekecewaanku di masa lalu membuat monster dalam diriku keluar dan aku telah menghancurkan hati seseorang yang sangat kucintai, sekarang dia pergi entah kemana. Tolong aku Pa, aku harus bagaimana agar dia mau memaafkanku?"Sastra meneteskan air matanya.

__ADS_1


Direngkuhnya putra bungsunya itu ke dalam pelukannya. "Kamu seperti ini apakah karena kesalahan Papa di masa lalu Nak? maafkan Papa yang telah mengabaikanmu saat itu dan membuat luka di hatimu. Kamu harus mencarinya Nak, Papa akan membantu, temukan dia dan minta maaflah dengan benar selagi ada kesempatan, jangan seperti Papa yang terlambat menyadari semuanya. Ketika Papa tersadar Mamamu sudah tidak ada lagi di dunia ini dan hanya tersisa penyesalan yang teramat dalam."


Sungguh pemandangan yang mengharukan melihat ayah dan anak yang saling berpelukan melepaskan segala ego, dendam dan kebencian. Keduanya kini telah berdamai dengan masa lalunya, mereka akan menyongsong masa depan dengan saling menguatkan dan saling mendukung sebagai keluarga yang utuh.


__ADS_2