
Pagi ini mereka berdua langsung berangkat ke bandara diantar oleh sopir tanpa mampir ke kantor terlebih dahulu. Fajar sudah menunggu di tempat keberangkatan, sedangkan wakil kepala cabang yang lain sudah lebih dulu bertolak ke Bali untuk mempersiapkan semua keperluan perjanjian bisnis kali ini.
Sesampainya di bandara, Bunga dan Sastra langsung turun dan disambut oleh Fajar yang sudah lebih dulu berada di sana.
"Selamat pagi Pak Sastra, Nona Bunga," sapa Fajar. Bunga pun mengangguk dan tersenyum pada Fajar.
"Jar, bagaimana semua persiapan di sana? apakah sudah selesai?"
"Semuanya sudah siap Pak, para kepala cabang sudah lebih dulu terbang ke sana dan mengurus semua persiapannya sejak kemarin. Hanya saja Stevi sekretaris bapak tidak jadi berangkat karena putranya masuk rumah sakit, tapi dia sudah menyusun semua jadwal bapak di Bali dan mengirimkan datanya kepada saya." Fajar menjelaskan secara terperinci dengan profesional.
"Aku sudah tahu. Kemarin dia sudah menghubungiku dan sekarang aku menunjukmu untuk menggantikan Stevi dalam perjalanan bisnis kali ini. Kamu bisa berbagi tugasmu dengan Bunga karena dia asistenku sekarang dan tolong ajari dia apa saja tugas asisten pribadi."
"Baik Pak."
Setelah melakukan boarding pass mereka bertiga masuk ke dalam pesawat menuju tempat duduk yang sudah dipesan. Kursi Bunga dan Fajar berada di kelas bisnis dan kebetulan posisi duduk mereka berdampingan sedangkan untuk Sastra kursi yang dipesan berada di kabin first class.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian pesawat take off meninggalkan landasan. Sastra yang duduk di penerbangan first class merasa begitu resah karena duduk terpisah dari gadisnya.
Tadinya dia mau memesan tiket yang sama juga untuk Bunga, tetapi Bunga menolaknya. Alasannya karena Bunga kali ini pergi bersamanya sebagai karyawannya bukan sebagai kekasihnya, jadi Bunga meminta dipesankan tiket yang sama dengan karyawan lain yang ikut berangkat agar tidak terjadi kesenjangan sosial diantara pekerja.
Setelah beberapa saat berpikir Sastra langsung berdiri dari tempat duduknya lalu pergi ke kabin kelas bisnis menghampiri Fajar dan Bunga. Fajar yang melihat bosnya langsung bertanya kepadanya.
"Pak Sastra, apakah anda memerlukan sesuatu?" tanyanya sopan.
"Ehm... ehm." Sastra berdehem padahal tenggorokannya baik-baik saja. "Aku tidak butuh apapun, aku hanya ingin bertukar tempat duduk denganmu. Kamu pindahlah ke kursiku, aku akan duduk disini," titahnya.
"Bukankah sesekali aku harus mencoba pengalaman baru duduk di kursi yang biasa dipesan untuk para karyawan?" Sastra melirik ke arah Bunga, "Jadi Fajar cepatlah pindah! dan jangan membantah," serunya pada Fajar.
Sontak Fajar langsung berdiri dan mempersilakan bosnya untuk duduk, tanpa basa basi dia langsung berjalan tergesa-gesa menuju kabin first class. Fajar baru sadar bosnya marah karena ketidakpekaannya terhadap keinginan sang bos yang ingin duduk berdekatan dengan kekasihnya.
Sastra langsung duduk di samping Bunga, tampangnya yang tadinya tampak seram langsung berubah manis menampakkan lesung pipinya .
__ADS_1
"Sas kamu jangan galak-galak, kalau kamu sering memasang wajah seram kayak gitu nanti karyawanmu pada jantungan," protes Bunga.
"Biarkan saja, sebagai seorang pemimpin aku harus tegas terhadap bawahanku agar mereka tidak lalai dalam bekerja." Sastra menyandarkan punggungnya dengan senyuman tersungging di bibirnya.
"Menggunakan wewenangmu untuk menukar tempat duduk apakah itu juga termasuk dalam pekerjaan?" Bunga memicingkan matanya mencela.
"Untuk hal ini adalah pengecualian sayang, jika menyangkut tentang dirimu aku akan menggunakan kuasaku kapanpun dan dimanapun." Sastra menatap gadisnya penuh minat.
"Baiklah, saya mengerti tuan CEO," sahut gadis itu sambil menjulurkan lidahnya mengejek.
Sastra menautkan jemarinya menggenggam tangan Bunga dan mencium punggung tangan sang kekasih.
"Apa kamu tidak suka duduk berdekatan denganku disini hmm? bahkan aku rela menurunkan standarku dan terdampar di kelas bisnis hanya demi dirimu."
"Apakah aku terlihat begitu? tentu saja aku suka, bersama denganmu aku selalu menyukainya." Bunga tersipu-sipu malu.
__ADS_1