Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 112


__ADS_3

"Sekali lagi terimakasih Nak, tetapi apa yang sebenarnya terjadi pada Bunga?" tanya Bu Marni.


Sastra menghela napasnya panjang lalu mengembuskannya kasar. "Nanti saya akan ceritakan detailnya pada Tante. Sekarang saya akan pulang dulu untuk mandi dan berganti pakaian sebentar, setelah selesai saya akan langsung kembali kesini."


"Silahkan Nak."


"Saya pamit Tante." Sastra langsung undur diri dari sana.


Bu Marni masuk kedalam ruang perawatan, ia duduk di kursi dekat tempat tidur. Diperhatikannya wajah Bunga dari dekat, ternyata wajah putrinya lebam dan sudut bibirnya terluka membuat Bu Marni begitu kaget, tadi ketika datang dia hanya melihat Bunga dari jauh sehingga tidak terlalu kentara.


Bu Marni menangis dalam diam dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya?


*****


Dalam waktu satu jam Sastra sudah kembali ke rumah sakit, ia berpapasan dengan Nadine saat akan memasuki lift. Sastra melihat mata Nadine sembab dan menundukkan wajahnya saat memasuki lift dan menebak pasti Nadine sudah mengetahui tentang adiknya.

__ADS_1


"Nad, apa kamu sudah tahu semuanya?" Sastra membuka suara.


"Tadi polisi menghubungiku dan aku baru saja dari sana menemui Rama. Tapi Sas, kenapa kamu nggak bilang sama aku, kalau Rama_ Rama yang_" Kata-katanya terhenti di gantikan dengan isakan.


"Aku tidak tega menyampaikannya padamu, bagaimanapun dia adalah adikmu dan juga masih saudaraku. Aku tahu kamu pasti akan bersedih, tapi di sisi lain dia juga telah melakukan tindakan kriminal. Beruntung saat aku datang Rama belum sampai melakukan hal keji itu pada Bunga walaupun kekerasan fisik yang lainnya sudah ia lakukan."


"Aku sudah memeriksa Bunga dengan seksama, organ intimnya belum sempat terjamah. Namun bekas tamparan di wajah dan memar ditangannya mungkin baru akan sembuh tiga hari kedepan. Hanya saja yang lebih kucemaskan adalah kondisi psikisnya, apa yang dilakukan Rama bisa saja membuat mental Bunga semakin parah. Aku sangat malu pada Bunga dan ibunya, bagaimana caranya aku meminta maaf, aku tidak tahu bahwa adikku bisa sebrutal itu." Nadine kembali berderai air mata.


Sastra mengusap punggung Nadine yang tengah menangis.


"Akupun tidak menyangka Rama bisa gelap mata. Tapi aku minta maaf Nad, aku tidak bisa membiarkan adikmu berkeliaran begitu saja atas apa yang sudah ia lakukan pada Bunga, aku ingin Rama melalui proses hukum dan mendapatkan ganjaran yang setimpal."


Sastra mengangguk, terdengar bunyi lift menandakan sudah sampai di lantai yang dituju. Mereka berdua langsung menuju ke kamar perawatan Bunga, saat masuk terlihat Bunga masih terlelap dan ada Bu Marni juga yang sedang duduk di dalam.


"Tante." Nadine menyapa Bu Marni.

__ADS_1


"Iya Dokter." Bu Marni mengulas senyum walaupun wajahnya sendu.


"Saya ingin menyampaikan sesuatu, bisa kita bicara diluar?" pinta Nadine.


"Tentu saja." Bu Marni keluar dari ruangan bersama Nadine.


Sastra tidak ikut keluar, ia memberi ruang untuk mereka berbicara empat mata karena tadi Nadine meminta pada Sastra bahwa dia lah yang akan menyampaikan tentang kejadian ini.


Lelaki itu duduk di sisi ranjang, tak lama Bunga mulai mengerjapkan matanya dan meraba-raba sebelah tempat tidurnya. Bunga langsung terbangun dan kembali panik karena kehilangan orang yang dijadikannya tempatnya berlindung.


Sastra langsung meraih bahu gadis itu dan meremasnya pelan seolah menyalurkan kekuatannya. "Sayang ada apa?"


Bunga berusaha bangun dengan tidak sabaran dan mendudukkan dirinya dengan dibantu oleh Sastra. Ia langsung memeluk Sastra dengan erat. "Aku kira kamu pergi, sudah kubilang jangan pergi kemana-mana!"


Sastra terkekeh kemudian mengelus punggung Bunga. "Kenapa aku tidak boleh kemana-mana hmn?" tanya Sastra menggoda.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, pokoknya jangan pergi kemanapun!" Bunga berucap dalam pelukan Sastra."


"As you wish my dear." Disusul dengan kecupan sayang di puncak kepala Bunga.


__ADS_2