Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 126


__ADS_3

Bunga duduk di ranjangnya sedang membaca majalah sambil menunggu kepulangan Sastra. Ia melihat-lihat destinasi wisata untuk rencana bulan madu mereka, lalu Bunga kembali terngiang perkataan papa mertuanya yang ingin segera mempunyai cucu. Akan tetapi bagaimana dirinya bisa memberikan cucu jika setiap kali Sastra menyentuhnya tak pernah berakhir sampai tuntas.


Bunga juga bukannya tidak tahu jika suaminya akan menguyur diri di kamar mandi setiap kali mereka gagal mencobanya. Memang Sastra akan memastikan Bunga tertidur dulu sebelum beranjak mendinginkan dirinya yang telah sepenuhnya memanas.


Namun, suara gemericik air di kamar mandi saat tengah malam yang sunyi senyap mampu mengusiknya dan ia pun mengerti apa yang sedang dilakukan suaminya.


Kemudian di halaman berikutnya Bunga membaca sebuah arikel tentang penyebab keretakan dalam rumah tangga hingga menyebabkan si suami selingkuh karena istrinya tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya.


Seketika Bunga merasa emosi membaca artikel itu, lalu pikirannya jadi melayang jauh kemana-mana. Bagaimana kalau Sastra mencari wanita lain di luaran karena ia tidak mampu melayaninya di atas ranjang? Pikiran-pikiran buruk mulai menggerogoti otaknya.


Wanita lain? Ia tidak rela jika itu terjadi, bahkan baru membayangkannya saja sudah mampu membuat hatinya memanas dan mungkin akan menghajar wanita manapun yang berani mendekati suaminya.

__ADS_1


Bunga beranjak turun dari ranjang, mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berwarna hitam transparan dan merapikan penampilannya.


Bunga sudah bertekad bahwa malam ini tidak boleh gagal lagi untuk bisa memberikan hak suaminya, ia tidak akan membiarkan suami yang sangat dicintainya berpaling pada wanita lain dan mencari kepuasan di luar.


Sastra baru sampai di rumah pukul sepuluh malam, ia bekerja hingga larut supaya bisa menyelesaikan urusan di kantor secepatnya, agar rencana bulan madu bisa terlaksana minggu depan.


Saat pintu kamarnya terbuka Sastra disuguhi pemandangan istrinya yang duduk di sofa sebrang tempat tidur sedang terkantuk-kantuk menahan rasa ingin tidurnya. Sastra merasa bersalah, pasti Bunga menunggunya pulang hingga larut malam begini, ia mendekat dan duduk di sebelahnya.


Bunga mengerjapkan matanya saat merasakan ada tangan yang menyentuh wajahnya. Ia tersenyum senang karena seseorang yang dinantikannya sudah kembali.


Bunga merangkul leher Sastra dan mengecup pipinya mesra. "Aku ingin menunggu suamiku pulang, aku rindu. Sudah makan malam?" tanya Bunga.

__ADS_1


"Belum," sahut Sastra.


Bunga melihat jam di dinding dan ini sudah pukul sepuluh malam. "Kenapa makanmu tidak teratur? jangan karena sibuk bekerja membuatmu sampai melewatkan jam makan malammu. Aku tidak ingin kamu sakit, mau makan apa? akan kubuatkan."


Bunga bermaksud bangkit dari sofa namun tangannya ditahan oleh Sastra. "Aku maunya makan kamu?" Sastra menaikkan alisnya.


"Memangnya aku ini makanan!" Bunga berseru sembari mengulum senyum.


"Hahaha, aku sudah makan sayang. Maaf, aku hanya ingin menggodamu. Kamu sepertinya sangat mengantuk, tidurlah tidak usah menungguku, aku akan mandi dulu." Sastra beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit Sastra keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan rendah di pinggang. Tetesan air masih berjatuhan dari rambutnya, ia bermaksud mengambil handuk kecil di lemari untuk mengeringkan rambutnya, tetapi tiba-tiba ada tangan hangat yang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2